News  

Pengajian Peradaban Islam  LSBPI MUI #1  Kupas  Urgensi Kesadaran Sejarah dalam Membangun Peradaban Umat

Lembaga Seni Budaya dan Peradaban Islam (LSBPI) MUI menggelar  Seri Pengajian Peradaban Islam  #1, Ahad (22/2/2026), mengupas  tema “Urgensi Kesadaran Sejarah dalam Membangun Peradaban Umat” dengan nara sumber Dr. Tiar Anwar Bachtiar  dan  Dr. Ahmad Mujib. (Foto: Dok LSBPI MUI)

Milenianews.com, Jakarta– Lembaga Seni Budaya dan Peradaban Islam (LSBPI) MUI menggelar  Seri Pengajian Peradaban Islam  #1, Ahad (22/2/2026). Kajian tersebut mengupas tema “Urgensi Kesadaran Sejarah dalam Membangun Peradaban Umat” dengan nara sumber Dr. Tiar Anwar Bachtiar  dan  Dr. Ahmad Mujib.

Acara kajian yang digelar secara online itu dibuka oleh  Dr.Phil. Habiurrahman El Shirazy, Lc, MA. selaku ketua LSBPI MUI.  “Selama Ramadhan 1447 H,  LSBPI MUI mengadakan pengajian peadaban Islam tiap pekan dengan narsum yang kompeten dan kafaah di bidangnya.  Pengajian pertama untuk memahami sejarah dalam membangun peradaban umat,” kata Dr. Habiurrahman El Shirazy.

Ketua LSBPI MUI, Dr. Phil. Habiburrahman El-Shirazy Lc., MA.

Dr. Erick Yusuf, S.Sy., M.Pd.  selaku Sekretaris Pengarah LSBPI MUI  mengatakan tema yang diangkat dalam pengajaian pertama, yakni “Urgensi Kesadaran Sejarah dalam Membangun Peradaban Umat”  merupakan tema yang penting. “Tema ini penting. Kesadaran tidak lahir dari ruang kosong, tetapi melalui perjalanan, epistemologis. Saya ingat saat LSBPI mengadakan Kongres Budaya Islam. Semoga dari acara ini akan lahir dokumentasi, bisa dalam bentuk buku, mengenai tema-tema yang dibahas, atau dalam bentuk lain. Semoga jadi amal jariyah kita di bulan Ramadhan,” kata Dr.  Erick Yusuf.

Ketua Pengarah LSBPI MUI Buya Pasni  mengatakan,  pengajian peradaban ini merupakan hal yang sangat penting, untuk mempelajari masa lalu dalam mempersiapkan masa depan. “Sejarah merupakan laboratorium peradaban. Saya setuju dengan Kang Erick, hasil acara ini dapat dibukukan agar generasi mendatang mendapat hikmah dan manfaat,” kata Buya Pasni.

Ketua Pengarah LSBPI MUI Buya Pasni.

Sekjen  MUI  Buya Amirsyah Tambunan,  saat memberikan keynote speech mengatakan, “Kita sering mendengar shocked culture (benturan peradaban), internal dan eksternal. Kita harus yakin peradaban yang dibawa Rasulullah adalah peradaban agung, jangan sampai kita mengalami keraguan.”

Ia menambahkan, “Peradaban kita saat ini berada di posisi yang sangat sulit, berada di persimpangan jalan. Terutama terjadi pada generasi muda/milenial. Kita perlu mengomunikasikannya dengan baik, supaya ada ketersambungan dan tidak terjadi shocked culture. Kita perlu merumuskan kembali pilar peradaban kita, yaitu peradaban Islam harus jadi kebanggaan kita. Contoh Buya Hamka adalah tokoh yang menancapkan pilar-pilar peradaban Islam dalam bangsa. Kita perlu menjadikan tokoh-tokoh seperti Buya Hamka sebagai rujukan dalam menjawab kekosongan/kegersangan tokoh peradaban. Kita perlu mereaktulisasikan kembali nilai-nilai budaya kita.”

 

Sekjen  MUI, Buya Amirsyah Tambunan.

Buya Amirsyah Tambunan mengemukakan,  LSBPI sebagai lembaga peradaban yang sudah dirintis oleh MUI, perlu disebarkan wawasan intelektualnya dengan penyebaran dalam berbagai bentuk. “Kita jadikan MUI sebagai institusi ulama yang mewarisi Rasulullah (waritsatul anbiya). Kita juga harus memperbaiki peradaban kita sekarang untuk kehidupan yang lebih baik. Sebab, kata Rasulullah kita umat Islam bertugas untuk melakukan perbaikan,” ujarnya.

Kontribusi Sejarah kepada Peradaban

Narasumber pertama, Dr. Tiar Anwar Bachtiar, S.S., M.Hum mengawaali materinya dengan  mengatakan, “Kita akan membincangkan kaitan sejarah dengan peradaban: Bagaimana sejarah berkontribusi kepada peradaban. Dalam peradaban ada ilmu pengetahuan yang tumbuh dan melahirkan karya.”

Ia menyebutkan, keruntuhan peradaban Romawi dan Persia, lalu Islam lahir yang melahirkan peradaban Islam yang rahmatan lil alamin. Bukan hanya mewarisi agama tetapi juga pengetahuan, teknologi, dan banyak lagi. “Dalam dominasi peradaban Barat kita harus membangkitkan kembali anasir-anasir peradaban Islam,” ujarnya.

  1. Sejarah sebagai sumber identitas peradaban

Sejarah membentuk jati diri kolektif suatu bangsa. Contohnya Indonesia membangun idnetitas kebangsaannya melalui pengalaman kolonialisme dan perjuangan kemerdekaan.

“Kalau sebagai umat Islam tidak punya sejarah,  maka kita tidak akan bisa menjadi umat. Umat Islam membangun identitas sebagai umat Nabi Muhammad yang dilanjutkan khulafaur rasyidin dan seterusnya.  Sirah Nabi menjadi kuncinya,” kata Dr. Tiar.

Sekretaris Pengarah LSBPI MUI, Dr. Erick Yusuf, S.Sy., M.Pd.

Ia menambahkan, “Di samping belajar sejarah nasional, sebagai umat kita juga harus belajar dan memahami ke maba arah kita berjalan kita sehingga tidak tersesat. Inilah pentingnya sejarah dalam membangun peradaban. Tanpa sejarah, suatu bangsa kehilangan arah dan karakter,” tegasnya.

2. Sejarah sebagai sumber pembelajaran (learning process)

“Peradaban berkembang melalui proses trial and error. Dalam membangun peradaban tidak mungkin secara instan tapi ada proses dan perjalanan panjang yang membutuhkan pengorbanan besar,” kata Dr. Tiar.

3. Sejarah sebagai sumber nilai dan etika sosial

Bicara peradaban bukan hanya soal teknologi tetapi juga nilai moral dan budaya. “Ibn Khaldun dan Toynbee menunjukkan bahwa suatu peradaban tidak akan bisa hadir tanpa value/nilai yang diperjuangkan dalam kehidupan. Kita harus belajar dari prosesnya sehingga tahu nilai-nilai yang diperjuangkan,” ujarnya.

4. Sejarah sebagai peta sains dan teknologi

“Kebutuhan yang harus ada dalam peradaban adalah ilmu. Ini tidak bisa ditawar. Kemajuan ilmu tidak muncul tiba-tiba tetapi akumulasi sejarah panjang. Contohnya revolusi ilmiah melahirkan sains modern; revolusi industri mengubah struktur ekonomi dan sosial dunia. Bahkan ilmuwan-ilmuran Eropa dulu belajar bahasa Arab untuk memahami imu-ilmu dan tenologi dari Islam,” tegasnya.

5. Sejarah sebagai landasan sebagai perencanaan masa depan

“Peradaban maju selalu berbasis pada kesadaran sejarah. Kita harus tahu bangkit dari sejarah yang mana.  Peradaban-peradaban yang juat peradabannya pasti akan mengembangkan kajian sejarah, menjaga arsip, dan mengintegrasikan sejarah dalam pendidikan nasional,” kata Dr. Tiar Anwar.

Perlunya Memori Sejarah

Narasumber kedua, Dr. Ahmad Mujib, MA mengawali materinya dengan mengutipkisah harimau yang diasuh oleh kambing. Asuhan kambing membuat harimau bersikap sebagai kambing. “Kita, umat Islam saat ini ibarat harimau yang kelamaan diasuh kambing. Inilah pentingnya kesadaran yang harus dibangkitkan pada anak muda hari ini. Jika kita tidak punya memori sejarah, maka kita dibuat lupa bahwa kita sebenarnya adalah bangsa/umat yang besar,” kata Dr. Ahmad Mujib.

Ia menambahkan, “Dalam shalat ada surah yang harus kita baca di tiap rakaat yakni Al-Fatihah. Ayat-ayatnya menyuruh kita menemukan jalan yang lurus (ihdinasshiraathal mustaqim).  Sepertiga Al-Quran bicara tentang sejarah. Dalam Islam, sejarah berfungsi sebagai petunjuk dan pengawal agama yang membuktikan kebenaran Islam. Semua hal yang terjadi di masa awal Islam (lembaga politik, pendidikan, ekonomi) menjadi standar.”

Dr. Ahmad Mujib memaparkan urgensi sejarah bagi kaum Muslim sebagai berikut:

  1. Sejarah diperlukan untuk memahami ajaran agama.

Menurut Dr. Ahmad Mujib, pendekatan kesejarahan sangat penting dalam memahami agama karena agama turun ke dalam situasi yang konkret dan berkaitan dengan konsisi sosial. Contohnya saat Rasulullah Saw berpesan agar shalat setelah tiba di tujuan, ini melahirkan pemaknaan berbeda dari para sahabat. “Sejarah menjadi alat untuk menafsirkan maksud ayat Quran dan hadits,” kata Dr. Ahmad Mujib.

2. Sejarah membentuk identitas dan jati diri.

“Sejarah adalah memori kolektif untuk masyarakat mengembangkan identitas sosial. Kita perlu menggali apa yang membuat bangsa umat ini maju. Sejarah terbentuknya NKRI yang tidak lepas dari perjuangan ulama, maka Islam menjadi spirit lahirnya bangsa. Pemimpin Muslim juga memberi kontribusi besar bagi ilmu pengetahuan,” ujarnya.

3. Sejarah mengandung ilmu dan sarana pembelajaran

“Sejarah adalah insipirasi, bagaimana kita menumbuhkan kebanggaan. Makanya betul yang disebut Buya Pasni dan Buya Amirsyah, kita perlu mengangkat kembali para tokoh/ulama untuk mengangkat percaya diri generasi masa kini. Kiai Agus Salim contohnya yang polyglot (menguasai banyak bahasa),” kata Dr. Ahmad Mujib.

Ia mencontohnya, ketika Islam masuk ke Indonesia, Mongol menghancurkan Bagdad, sehingga kadang yang diingat adalah kehancuran tersebut. Padahal sebelumnya peradaban Islam di Baghdad begitu megah.

“Sejarah mengajarkan bagaimana orang bertindak dalam menghadapi kondisi tertentu. Pengalaman masa lalu, baik positif maupun negative sebagai hikmah agar kesalahan yang sama tidak terulang, contohnya negeri-negeri Islam yang dikuasai komunis,” tegas Dr. Ahmad Mujib.

 

Jadwal Pengajian Peradaban Islam

Seri PENGAJIAN PERADABAN ISLAM  mengupas tuntas sejarah, peran kaum muslim, hingga kejayaan Islam di Nusantara.  Acara kajian yang  dipersembahkan oleh LSBPI MUI ini bertujuan membangun peradaban dari hati dan pikiran itu dirancang khusus untuk kaum Muslimin agar dapat memetik ilmu yang bermanfaat sambil menunggu waktu berbuka. Acaranya ditayangkan secara online melalui Zoom Meeting mulai pukul 16.00 WIB.

Baca Juga : Semarak Ramadhan 1447 H, LSBPI MUI Persembahkan Seri “Pengajian Peradaban Islam”  Secara Online

Adapun jadwal Pengajian Peradaban Islam itu sebagai berikut:

  • 22 Februari 2026: Urgensi Kesadaran Sejarah (Dr. Tiar Anwar Bachtiar & Dr. Ahmad Mujib)
  • 26 Februari 2026: Peran Strategis Muslimah (Dr. Helvy Tiana Rosa, Dr. Nanda Khairiyah, Dr. Oki Setiana Dewi)
  • 05 Mar 2026: Karakter Peradaban Islam Nusantara (Dr. Aguk Irawan & Dr. Saifurrahman)
  • 12 Maret 2026: Al-Qur’an sebagai Pondasi Peradaban (Dr. Saiful Bahri & Assoc. Prof. Dr. Alwi Alatas)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *