News  

Menggantungkan Harapan pada Bunga: Kisah Pedagang Buket di Hari Wisuda

pedagang buket bunga

Milenianews.com, Bekasi – Wisuda merupakan upacara resmi yang menandai penyelesaian pendidikan seorang mahasiswa. Pada momen ini, perguruan tinggi memberikan gelar akademik sebagai simbol keberhasilan mahasiswa menuntaskan seluruh tahapan studi. Banyak orang memaknai wisuda sebagai lebih dari sekadar seremoni. Mereka merayakan perjalanan panjang, doa yang tak henti dipanjatkan, kerja keras yang melelahkan, serta kebanggaan keluarga yang akhirnya terbayar.

Pagi itu, Jumat (5/12), halaman BSI Convention Center tampak ramai. Para orang tua, kerabat, dan sahabat datang membawa senyum bangga. Pedagang bunga turut menambah warna di antara kerumunan. Aroma bunga segar yang mereka bawa membuat suasana terasa semakin semarak dan penuh kehidupan. Mereka berdiri rapi di sisi jalan, menawarkan buket-buket cantik untuk menyempurnakan momen bahagia para wisudawan.

Baca juga: Setahun Terhenti, Mimpi Tetap Berlari: Kisah Khasnah Raih Predikat Wisudawan Terbaik UBSI

Di salah satu sudut, seorang pria berusia 46 tahun bernama Nurdin terlihat sibuk merapikan rangkaian bunga. Ia menggerakkan tangannya dengan lincah saat menyusun kombinasi warna yang indah di atas meja kecil. Senyumnya muncul setiap kali seseorang melintas, menunjukkan betapa ia menikmati aktivitas tersebut. Ia bukan sekadar menjual bunga, tetapi membangun suasana, menghidupkan hari wisuda dengan sentuhan kehangatan.

Satu Dekade Menyemarakkan Wisuda dengan Rangkaian Bunga

Nurdin sudah berjualan buket bunga di acara wisuda selama 10 tahun. Ia memasuki dunia merangkai bunga karena ketertarikan pribadi, bukan karena paksaan keadaan. “Karena hobi saja dan memang passion saya di bidang merangkai bunga,” katanya saat ditemui di depan BSI Convention Center, Minggu (30/11).

Di luar momen wisuda, ia membuka kios bunga kecil di dekat rumahnya. Ia menjual rangkaian untuk berbagai acara seperti ulang tahun, pertunangan, hingga lamaran. Namun, suasana wisuda selalu memberi energi berbeda. Ia merasa para wisudawan membawa aura positif yang membuatnya lebih bersemangat. “Alhamdulillah hari ini ramai sekali. Mungkin karena wisuda hari pertama juga dan pusatnya ada di sini,” ujarnya sambil melayani pembeli yang terus berdatangan.

Setiap musim wisuda, ia datang lebih awal. Ia mengangkut bunga-bunga segar dari pasar pagi-pagi sekali, lalu menatanya dengan senyum optimis. Ia tahu bahwa hari itu bisa membuka peluang besar bagi pendapatannya. Ia menyusun berbagai model buket sejak subuh agar pengunjung punya banyak pilihan ketika acara dimulai.

Baca juga: Konsistensi Tanpa Kompromi Antarkan Wisudawan UBSI Ini Raih Cumlaude

Banyak Pilihan, Tapi Harga Tetap Bersahabat

Untuk memenuhi kebutuhan dagangnya, Nurdin membeli bunga segar dari pasar setiap pagi. Ia memilih bunga satu per satu agar kualitasnya tetap terjaga. Setelah itu, ia mulai merangkai sesuai tren dan permintaan pembeli. “Kalau simple, 5 menit juga jadi,” ujarnya sambil menunjukkan rangkaian yang baru selesai ia gulung dengan plastik mika bening.

Ia menetapkan harga mulai dari Rp30.000 agar semua pengunjung bisa membeli buket sesuai kemampuan mereka. Ia sadar bahwa tidak semua keluarga datang dengan budget besar, dan ia ingin semua orang tetap bisa membawa pulang sesuatu yang berarti. “Saya jual dengan berbagai macam jenisnya, jadi banyak pilihannya. Harganya juga tidak terlalu mahal, standar saja,” jelasnya.

Pengunjung sering memuji harganya yang ramah di kantong. Banyak di antara mereka yang membeli dua hingga tiga buket karena pilihan modelnya menarik. Nurdin menjelaskan bahwa ia sengaja menyediakan variasi warna dan ukuran agar daya tarik lapaknya semakin kuat. Strategi itu berhasil, pembeli berdatangan tanpa jeda.

Pendapatan dari momen wisuda sangat membantu perekonomian keluarganya. Ia menggunakan hasil jualannya untuk memenuhi kebutuhan anak-anaknya. “Alhamdulillah cukup,” ucapnya dengan mata berbinar. Ia merasakan langsung bahwa kerja keras pada hari-hari seperti ini memberi dampak besar pada keluarganya.

Harapan yang Terselip di Antara Rangkaian Bunga

Menjelang akhir percakapan, Nurdin menyampaikan harapan sederhana. Ia ingin dagangannya semakin ramai dan pelanggannya terus bertambah. Ia juga berencana memperbanyak variasi buket agar bisa menarik lebih banyak pembeli pada setiap kesempatan. Ia percaya bahwa kreativitas bisa membawa rezeki yang lebih luas.

Baca juga: Toga, Tangis Haru, dan Tawa Kos: Patrajasa Hotel Semarang Jadi Saksi Meriahnya Wisuda UBSI

Nurdin tidak lupa memberikan pesan hangat kepada para wisudawan. “Selamat atas kelulusannya, sukses terus. Semangat untuk meraih cita-cita, dan jangan kecewakan orang tua yang sudah berjuang demi pendidikan kalian,” tuturnya sambil tersenyum bangga.

Dalam keramaian wisuda, kehadiran Nurdin dengan buket-buket bunganya menghidupkan momen penuh kebahagiaan itu. Seikat bunga tampak sederhana, tetapi bagi banyak orang, rangkaian itu menyimpan simbol cinta, apresiasi, dan doa. Di setiap buket yang ia rangkai, Nurdin menyisipkan harapan untuk pelanggannya, untuk keluarganya, dan untuk dirinya sendiri. Dan di tengah hiruk pikuk kelulusan, ia terus berdiri menjadi bagian kecil namun berarti dari keberhasilan para wisudawan.

Tonton podcast Milenianews yang menghadirkan bintang tamu beragam dari Sobat Milenia dengan cerita yang menghibur, inspiratif serta gaul hanya di youtube Milenianews.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *