News  

MAI Menolak Rencana Jepang Buang Limbah Nuklir ke Samudera Pasifik

MAI Menolak Rencana Jepang
Foto, Jumpa Pers MAI Menolak Rencana Jepang Buang Limbah Nuklir ke Samudera Pasifik

Milenianews.com, Jakarta – Indonesia Aquacultur Society atau Masyarakat Akuakultur Indonesia (MAI) bersama Gerakan Nelayan Tani Indonesia (GNTI) menolak keras rencana Jepang mengenai pembuangan limbah nuklirnya ke Samudera Pasifik. Hal ini telah disampaikan melalui Jumpa Pers, di Gedung Sovereign, Lt 20, Jl. TB Simatupang, DKI Jakarta, Selasa (27/6).

Ketua Umum MAI, Prof. Rokhmin Dahuri menyampaikan bahwa tujuan utama dari Jumpa Pers ini untuk menyikapi rencana pemerintah Jepang tersebut. Menurutnya hal tersebut harus segara ditanggapi, karena menyangkut ekosistem kehidupan di laut dan kehidupan manusia di masa depan.

Baca Juga : Budaya Jepang Yang Jarang Orang Ketahui

MAI Menolak Rencana Jepang Buang Limba Nuklir

“Sehubungan dengan rencana pemerintah Jepang yang akan membuang limbah nuklir (radioaktif) dari bekas Rektor Nuklir Fukhushima ke lautan Samudera Pasifik, maka dengan ini kami Masyarakat Akuakultur Indonesia atau Indonesia Aquacultur Society dan Gerakan Nelayan Tani Indonesia menolak rencana tersebut,” tutur Rokhmin dalam Jumpa Pers, (27/6).

Menurut TEPCO (Tokyo Electric Power Company) sendiri, limbah cair nuklir tersebut mengandung Cesium-137 dengan kadar (konsentrasi) yang sangat besar. Tepatnya, 18.000 becquerel per kilogram yang 180 kali lipat lebih besar dari ambang batas aman konsentrasi Cesium-137 untuk ekosistem laut.

Oleh karena itu, tambah Rokhmin, limbah cair nuklir ini jelas akan sangat membahayakan ekosistem laut. Hal tersebut juga, kemungkinan besar akan mematikan ikan serta biota laut lain yang hidup di dalamnya.

“Selain itu, limbah nuklir ini juga akan masuk ke dalam sistem rantai makanan, yang akhirnya akan terakumulasi di dalam jaringan tubuh manusia yang mengonsumsinya. Dampaknya bisa berupa berbagai jenis penyakit, terutama kanker dan mutasi genetik, yang bersifat jangka panjang kepada manusia yang terpapar limbah radioaktif tersebut,” tambahnya.

Baca Juga : Krisis Populasi di Jepang, Sekolah Terancam Tutup! Terakhir Hanya Luluskan 2 Murid

Mengancam kehidupan di seluruh dunia

Senada dengan hal itu, menurut Denny D. Indradjaja selaku Sekjen MAI, waktu paruh radioaktif ini pun sangat lama, yakni sekitar seribu bahkan bisa sampai ratusan ribu tahun. Hal tersebutlah yang akan memungkinkan limbah nuklir ini terbawa arus dan gelombang laut ke seluruh laut dunia.

“Hal tersebut tentunya tidak hanya akan membahayakan kehidupan bangsa di sekitar lokasi pembuangan, tetapi juga bangsa-bangsa lain di dunia. Bahkan, mayoritas negara-negara di sekitar Samudera pun sudah menolak rencana pemerintah Jepang tersebut,” ujar Denny.

Di samping itu, Sekjen GNTI, M. Amma Banapon mengaku bahwa GNTI akan terus mengawal perkembangan isu tersebut. Karena menurutnya, hal tersebut tentunya akan sangat berimbas pada seluruh masyarakat khususnya yang merupakan tani perikanan tangkap.

“Kami dari GNTI berkomitmen untuk mengawal soal isu ataupun kabar yang berkembang saat ini mengenai rencana pemerintah Jepang tersebut. Karena hal tersebut bisa sangat berimbas terutama pada sektor perikanan tangkap di Indonesia,” pungkas Amma.

Baca Juga : Jepang Akan Bangun Pusat Perjudian Di Kota Osaka

Di akhir acara, mereka berharap pemerintah Jepang bisa menanggapi dan mempertimbangkan lagi tentang rencananya tersebut. Karena, sesungguhnya ada teknologi alternatif lain untuk pembuangan limbah nuklir yang lebih aman secara lingkungan hidup maupun kesehatan manusia.

Jangan sampai ketinggalan info terkini bagi generasi milenial, segera subscribe channel telegram milenianews di t.me/milenianewscom.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *