Milenianews.com, Jakarta – Gelombang banjir bandang dan tanah longsor yang melanda Indonesia, Sri Lanka, dan Thailand kini tercatat menewaskan lebih dari 1.300 orang, sementara lebih dari 800 orang lainnya masih hilang. Upaya penyelamatan terus dikejar di tengah kondisi medan yang ekstrem, akses jalan terputus, dan wilayah terdampak yang sebagian besar masih terisolasi. Bencana besar ini digambarkan sebagai salah satu yang paling mematikan di kawasan Asia Selatan dalam beberapa dekade terakhir.
Baca juga: Forum PRB Desak Panglima TNI Turunkan Zipur Tangani Dampak Bencana Banjir Aceh
Indonesia menjadi negara dengan jumlah korban terbesar. Sedikitnya 712 korban jiwa dilaporkan meninggal, terutama dari Sumatra Barat dan wilayah sekitar. Lebih dari 500 orang masih hilang, sementara puluhan ribu warga mengungsi di tempat penampungan darurat.
Wilayah Batang Toru tampak paling parah. Hutan yang dahulu lebat kini berubah menjadi hamparan lumpur pekat dan gelondongan kayu. Aktivis lingkungan menilai kerusakan hebat ini bukan sekadar akibat cuaca ekstrem, melainkan akumulasi dari aktivitas manusia.
“Bencana ini bukan hanya akibat hujan ekstrem. Kerusakan lingkungan akibat pembalakan dan pembangunan serampangan telah membuat daerah ini kehilangan daya tahan,” ujar seorang juru bicara organisasi lingkungan pada (02/12).
Pemerintah menyatakan akan melakukan peninjauan ulang terhadap izin-izin tambang dan kehutanan. Dalam pernyataannya pada (04/12), pemerintah menegaskan, “Setiap perusahaan yang terbukti melanggar izin atau berkontribusi terhadap kerusakan lingkungan akan dikenakan tindakan tegas.”
Kesaksian warga: “Saya hanya ingin memakamkan keluarga saya”
Di Kabupaten Agam, kisah duka mendalam datang dari seorang petani bernama Zahari Sutra, yang hingga kini belum menemukan istri dan dua anak perempuannya yang hilang.
“Saya ingin mereka ditemukan, meskipun sudah tidak bernyawa. Saya hanya ingin memakamkan keluarga saya dengan layak,” katanya dengan suara bergetar (03/12). Ia hanya berhasil menyelamatkan anak pertamanya yang ditemukan dalam kondisi tertimbun lumpur namun selamat.
Di Sri Lanka, badai tropis Cyclone Ditwah memicu banjir besar dan longsor yang menewaskan 410 orang. Sedikitnya 300.000 anak disebut terdampak langsung.
Presiden Sri Lanka dalam pernyataannya pada (01/12) mengatakan, “Jumlah korban kemungkinan jauh lebih tinggi karena banyak wilayah masih belum bisa dijangkau.”
UNICEF pada rilis resminya (02/12) menyebut kondisi anak-anak di Sri Lanka kini berada di ambang krisis kemanusiaan. “Situasi ini memperparah kerentanan anak-anak yang sebelumnya telah terdampak krisis ekonomi nasional sejak 2022,” tulis lembaga tersebut.
Thailand mulai pulihkan diri, dana kompensasi disiapkan
Thailand juga menghadapi dampak luas dari banjir besar di wilayah selatan. Lebih dari 1,5 juta rumah tangga dan 3,9 juta warga tercatat terdampak. Pemerintah mulai melakukan pembersihan dan pemulihan di wilayah terdampak.
Pada pernyataan resmi (03/12), Kementerian Dalam Negeri Thailand menyampaikan, “Sebanyak 239 juta baht akan segera disalurkan sebagai kompensasi kepada 26.000 warga terdampak banjir.” Thailand juga telah membuka dapur umum untuk menyediakan makanan bagi warga yang kehilangan rumah dan akses bahan pokok.
Baca juga: Unhan RI Kirim Satgas Kesehatan Tanggap Darurat Bencana ke Sumatera
Tim penyelamat di ketiga negara masih berjibaku menghadapi cuaca tak menentu. Dalam laporan resmi pada (04/12), otoritas penanggulangan bencana menyatakan bahwa jumlah korban masih bisa bertambah mengingat banyak daerah belum bisa dievakuasi sepenuhnya.
“Prioritas kami adalah menemukan para korban, baik yang selamat maupun yang telah meninggal, dan memastikan bantuan logistik tiba tepat waktu,” demikian pernyataan lembaga tanggap darurat pada (04/12).
Tonton podcast Milenianews yang menghadirkan bintang tamu beragam dari Sobat Milenia dengan cerita yang menghibur, inspiratif serta gaul hanya di youtube Milenianews.













