Milenianews.com, Maros- Bulan Ramadhan 1444 H baru saja berlalu. Selama sebulan penuh, umat Islam di seluruh dunia diwajibkan menunaikan ibadah puasa dan disunnatkan melaksanakan amaliah Ramadhan lainnya.
Lalu, apa intisari ibadah Ramadhan tersebut? Menurut Ketua Dewan Pembina Yayasan Al Bayan Hidayatullah kampus utama Makassar Ustadz Dr. Abdul Aziz Qahhar Mudzakkar M.Si, inti dari Ramadhan adalah melahirkan insan berkarakter takwa dan Qurani.
“Inti dari Ramadhan itu melahirkan insan berkarakter takwa dan Qurani. Ciri-cirinya banyak dijelaskan dalam Alquran,” kata Ustadz Abdul Aziz saat memberikan tausiyah kelembagaan dan manhaj di hadapan 200-an anggota keluarga besar Yayasan Al Bayan, jamaah Hidayatullah Makassar dan sahabat juang Al Bayan, Ahad (7/5/2023).
Tausiyah tersebut merupakan rangkaian kegiatan Mukhayyam (Kemah) Syawal 1444 H Al Bayan yang digelar di kawasan agrowisata Wadi Barakah Hidayatullah Tompobulu, Pucak, Maros. Kegiatan tersebut digelar selama dua hari, Sabtu-Ahad, 6-7 Mei 2023.
Beberapa ciri seorang yang berkarakter takwa dan Qurani itu, urai Dewan Pertimbangan Hidayatullah itu, di antaranya mudah berinfak, menahan amarah, suka memaafkan, hingga tak khawatirkan masalah.
Lebih rinci, ia mengutip Alquran, yang artinya, “Hai orang-orang yang beriman, diwajibkan atas kamu berpuasa sebagaimana diwajibkan atas orang-orang sebelum kalian agar kamu bertakwa.” (QS. Al Baqarah: 183)
Kemudian, ayat lainnya, “Bulan Ramadhan adalah bulan bulan diturunkannya Al Qur’an. Al Quran adalah petunjuk bagi manusia dan penjelasan-penjelasan mengenai petunjuk itu dan pembeda (antara yang hak dan yang bathil).” (QS. Al Baqarah: 185)
Ciri-ciri Orang yang Bertakwa
Ustadz Abdul Aziz menegaskan, ciri-ciri orang yang takwa banyak diuraikan di dalam Quran namun ada beberapa ciri yang menonjol dan utama. Di antaranya Allah jelaskan pada surah Ali Imran 133-134, yang artinya: “Dan bersegeralah kamu mencari ampunan dari Tuhanmu dan mendapatkan surga yang luasnya seluas langit dan bumi yang disediakan bagi orang-orang yang bertakwa, (yaitu) orang yang berinfak, baik di waktu lapang maupun sempit, dan orang-orang yang menahan amarahnya dan memaafkan (kesalahan) orang lain. Dan Allah mencintai orang yang berbuat kebaikan,”
Disebutkan tandanya, pertama, “selalu berinfak dalam keadaan lapang atau sempit”. “Karena, mudah berinfak itu karakter, bukan soal memiliki materi atau berapa jumlahnya,” ujarnya.
Karakter itu bahasa Arabnya akhlak, walau akhlak lebih luas maknanya. “Karakter itu suatu tindakan spontan yang tak melibatkan pikiran,” kata Ustadz Abdul Aziz.
Kapan berinfak telah menjadi karakter? Ketika berinfak tak lagi dipikirkan. “Jika kita telah spontan memberi dan berbagi, maka itu berarti kita telah berkarakter dan berakhlak pemurah hati,” tuturnya.
Kandungan Alquran berisi dan misi terbesarnya bagaimana menjadi karakter manusia. Sebagaimana Rasulullah memiliki karakter seperti dalam Alquran.
Ketika Ibunda Aisyah radhiyallahu anha ditanya mengenai akhlak Rasulullah shallallāhu alaihi wa sallam, beliau menjawab: “Akhlak Rasulullah adalah Al Quran.” (HR Ahmad)
Itulah kenapa di Hidayatullah ada program GNH (Gerakan Nawafil Hidayatullah mewajibkan kader untuk berinfak dan amalan sunnah/tambahan setiap hari) untuk membentuk karakter berinfak dan beribadah pada diri setiap kader.
Ciri kedua dari orang yang bertakwa itu adalah “orang yang bisa menahan amarah”. “Maka di bulan Syawal dan bulan-bulan seterusnya, dengan ber-Ramadhan kita diharapkan tak lagi memiliki kebiasaan mudah dan terlalu suka marah,” ujarnya.
Menahan marah karakter luar biasa yang Rasulullah nasihatkan. Seperti beliau sampaikan dalam salah satu haditsnya: Dari Abu Hurairah Radhiyallahu anhu bahwa ada seorang laki-laki berkata kepada Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam : “Berilah aku wasiat”. Beliau menjawab, “Engkau jangan marah!” Orang itu mengulangi permintaannya berulang-ulang, kemudian Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: “Engkau jangan marah!” (HR al-Bukhâri).
Memaaafkan, Bukan Minta Maaf
Ciri ketiga orang takwa dalam ayat di atas “dan memaafkan kesalahan orang.” Hal ini menarik karena diksi yang digunakan dalam Quran adalah “memaafkan” bukan “minta maaf”.
Bahwa jika kita ada kesalahan pada orang lain sangatlah penting meminta maaf, tapi Quran menggunakan diksi memaafkan. “Jadi kita lebih penting lebih utama memberikan maaf lebih dahulu sebelum orang meminta maaf. Jadi orang beriman dan takwa itu jauh dari rasa dendam dan kebencian karena karakternya memaafkan,” paparnya.
Ciri lain dari orang yang bergelar takwa itu “tak akan telantar pada masalah karena Allah akan keluarkan dari masalahnya.” Allah SWT berfirman, “Barang siapa bertakwa kepada Allah, niscaya Dia akan mengadakan baginya jalan keluar.” (QS. Ath-Thalaq [65]: 2).
“Jika ada masalah yang kita hadapi lalu tak bisa diselesaikan maka sebaiknya introspeksi jangan-jangan kita belum bertakwa,” kata Ustadz Abdul Aziz.

Ciri lain orang takwa akan diberi rejeki dari jalan tak diduga. Sebagaimana janji Allah ta’ala dalam surah Ath- Thalaq ayat 3, “dan Dia memberinya rezeki dari arah yang tidak disangka-sangkanya. Dan barangsiapa bertawakal kepada Allah, niscaya Allah akan mencukupkan (keperluan)nya. Sesungguhnya Allah melaksanakan urusan-Nya. Sungguh, Allah telah mengadakan ketentuan bagi setiap sesuatu.”
Orang bertakwa itu akan berlimpah berkah dari Allah. Sebagaimana ditegaskan Allah dalam Alquran, yang artinya, “Dan sekiranya penduduk negeri beriman dan bertakwa, pasti Kami akan melimpahkan kepada mereka berkah dari langit dan bumi, tetapi ternyata mereka mendustakan (ayat-ayat Kami), maka Kami siksa mereka sesuai dengan apa yang telah mereka kerjakan.” (QS. Al-A’raf: 96)