Hari Valentine Jadi Titik Temu Antara Ekonomi dan Emosional Bagi Pedagang Bunga di Cilandak

Buket Bunga Asli dan Palsu

Milenianews.com, Jakarta – Sejak awal Februari, suasana di sebuah kios kecil di Cilandak, Jakarta Selatan, mulai ramai. Tumpukan mawar merah menumpuk di ember-ember plastik, pita satin tergantung di dinding, dan kertas pembungkus tersusun rapi di atas meja. Dendi (47), karyawan toko bunga, sudah bersiap menghadapi lonjakan pesanan menjelang Valentine.

“Biasanya H-3 sampai H-1 itu yang paling sibuk. Tahun lalu saya sampai pulang jam satu malam,” ujarnya sambil merangkai belasan tangkai mawar, Sabtu (14/2).

Bagi sebagian orang, 14 Februari bukanlah tanggal spesial. Namun bagi Dendi, setiap tahunnya, di tanggal ini menentukan omzet bulanan sekaligus menjadi momen paling sibuk dalam setahun.

Di kawasan urban seperti Cilandak, Jakarta Selatan, penjualan bunga bisa melonjak dua hingga tiga kali lipat menjelang Valentine. Mawar merah tetap menjadi primadona, meski buket warna pastel dan kombinasi soft pink-putih mulai diminati Gen Z untuk konten media sosial mereka.

Lonjakan Pesanan dan Tantangan Ekonomi

Dendi mengaku, jumlah pesanan bisa meningkat hingga 50–200 buket dalam dua hari terakhir sebelum Valentine. Lonjakan ini membuatnya harus menambah stok dan memesan bunga dari pemasok lebih awal. Namun, persiapan itu tidak murah. Harga mawar merah dari pemasok naik 30–40% dibanding hari biasa.

“Kalau tidak dihitung matang, resikonya rugi cukup besar. Tapi kalau persiapannya tepat, justru peluang omzet tinggi,” jelas Dendi.

Baca juga: Sejarah Hari Valentine, Pertama Muncul di Abad ke-15

Selain itu, sebagian besar pembeli kini memesan buket melalui media sosial atau pesan singkat. Hal ini memudahkan pelanggan untuk memilih desain, warna, dan menambahkan kartu ucapan khusus. Tren ini semakin menekankan pentingnya kreativitas penjual.

Di Balik Setiap Buket

Menariknya, setiap buket membawa cerita tersendiri. Ada yang untuk minta maaf, ada yang untuk menyatakan cinta, bahkan ada yang dikirim secara anonim.

“Pernah waktu itu ada pelanggan pesan buket besar tanpa nama pengirim. Katanya ingin jadi secret admirer. Saat buket sampai, reaksinya bikin senyum sendiri,” kata Dendi.

Bagi Dendi, bunga bukan hanya sekadar barang. Ia menjadi perantara emosi, sekaligus saksi kebahagiaan dan penyesalan orang lain.

Bunga Itu Lebih Terasa “Effort-nya”

Buket Bunga Asli dan Palsu

Sementara itu, Andre (27), salah satu pelanggan tetap, memilih buket mawar dari toko Dendi adalah soal rasa yang lebih personal.

“Kalau cuma chat atau kirim stiker hati rasanya biasa saja. Tapi kalau bunga itu effort-nya kelihatan dan lebih berkesan,” ungkapnya.

Bagnya, Valentine bukan sekadar kewajiban kalender, melainkan momentum yang tepat untuk mengekspresikan perhatian dan kasih sayang dengan cara berbeda.

“Bukan soal tanggalnya, tapi karena banyak orang merayakannya, jadi momen yang pas saja untuk memberi kejutan,” tambah Andre.

Cara Sang Florist Menjaga Kualitas

Namun, di balik senyum pelanggan, ada Dendi yang harus berpikir taktis. Selain menghadapi lonjakan permintaan yang luar biasa, ia harus cermat mengatur stok dan menjaga kualitas bunga.

Dendi terjun langsung menentukan jumlah stok, memilih bunga terbaik satu per satu, dan menyesuaikan harga agar tetap kompetitif tanpa mengorbankan mutu.

Dengan cara ini, ia tetap memegang kendali penuh atas standar pelayanan di tokonya.

“Deg-degan pasti ada. Tapi strategi yang tepat membuat semua pesanan terkirim, bunga tetap segar, dan pelanggan puas,” ujarnya mantap.

Satu Tangkai, Sejuta Cerita: Saat Lelah Terbayar oleh Senyuman

Menjelang malam terakhir sebelum Valentine selesai, suasana di toko masih sibuk. Dendi tampak sedang menyelesaikan beberapa pesanan terakhir. Meski tangan terasa lelah, matanya tetap fokus menatap setiap buket yang ia rangkai dengan rapi.

Lonjakan harga mawar sekitar 30-40% tidak membuatnya gentar, karena ia paham bahwa setiap bunga yang keluar dari tokonya membawa cerita yang berarti.

“Setiap buket yang terjual bukan hanya tentang uang. Tapi tentang harapan, perasaan, dan momen yang ingin disampaikan seseorang. Kadang, satu tangkai mawar bisa menciptakan senyum yang tak ternilai,” tuturnya dengan tulus.

Baca juga: 6 Fakta dan Sejarah Valentine yang Jarang Diketahui banyak Orang

Valentine akhirnya bukan sekadar hari perayaan cinta dalam arti sempit. Hari itu menjadi titik temu antara logika ekonomi dan ketulusan emosi, di mana seorang penjual bunga menyaksikan kebahagiaan, penyesalan, dan harapan berpadu dalam balutan kertas dan pita.

Selama masih ada hati yang ingin bicara, Dendi akan terus di sana: merangkai satu demi satu tangkai bunga, untuk satu demi satu cerita dan senyuman.

Tonton podcast Milenianews yang menghadirkan bintang tamu beragam dari Sobat Milenia dengan cerita yang menghibur, inspiratif serta gaul hanya di youtube MileniaNews.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *