Milenianews.com, Yogyakarta — Perkembangan kecerdasan artifisial (AI) terus melaju. Namun, di balik kecanggihannya, teknologi ini menyedot energi dalam jumlah besar dan memicu pertanyaan serius tentang keberlanjutan.
Isu tersebut mengemuka dalam Difussion #133 yang digelar oleh Center for Digital Society (CfDS), Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik Universitas Gadjah Mada.
Diskusi bertajuk Digital Sustainability Nexus: Green AI, Digital Economies and Food Security Resilience ini menghadirkan Ayom Mratita Purbandani dan Afra Hanifah Prasastisiwi. Elshaddai Hosanna memandu jalannya forum.
AI Punya Jejak Fisik Nyata
Ayom mengajak peserta melihat AI secara lebih konkret. Ia menegaskan bahwa AI tidak hanya hidup di “cloud”. Teknologi ini bergantung pada pusat data, server, listrik, dan air pendingin.
“AI adalah a hunger system, yakni sistem teknologi yang sangat haus energi,” ujarnya.
Ia menjelaskan bahwa pusat data global mengonsumsi sekitar 460 TWh listrik. Angka itu menempatkannya setara dengan konsumen listrik terbesar kelima di dunia.
Menurut Ayom, publik perlu memahami dua pendekatan penting. Pertama, sustainability of AI, yaitu upaya mengurangi dampak lingkungan dari sistem AI. Kedua, AI for sustainability, yakni pemanfaatan AI untuk menjawab krisis iklim dan persoalan ekologis.
Ia menekankan bahwa kedua pendekatan ini harus berjalan bersama. Tanpa tata kelola yang adil, AI justru bisa memperbesar ketimpangan.
Ancaman Greenwashing Digital
Ayom juga mengkritik praktik greenwashing digital. Sejumlah perusahaan mengklaim pusat data mereka ramah lingkungan. Namun, di lapangan, pembangunan fasilitas tersebut sering mendapat insentif pajak besar dan akses sumber daya murah.
Sementara itu, warga sekitar harus menghadapi tekanan terhadap pasokan air dan listrik.
“Kita perlu bertanya, siapa yang membayar harga agar internet tetap hidup?” tegasnya.
Ekonomi Digital dan Daya Tahan Pangan
Afra kemudian membawa diskusi ke isu pangan. Ia memaparkan analisis data Survei World Bank 2020 tentang penggunaan transaksi digital dan ketahanan pangan rumah tangga di Indonesia.
Penelitian itu mengukur dua indikator: pengalaman kekurangan pangan dan pengurangan porsi makan.
Hasilnya menunjukkan bahwa rumah tangga yang menggunakan platform digital untuk membeli kebutuhan pangan sejak pandemi memiliki peluang lebih besar untuk menghindari kekurangan pangan.
Namun, Afra mengingatkan bahwa teknologi bukan solusi tunggal.
“Variabel jenis kelamin, pendidikan, dan ekonomi terbukti berasosiasi dengan kerawanan pangan,” jelasnya.
Artinya, akses digital saja tidak cukup. Rumah tangga tetap membutuhkan kapasitas ekonomi dan literasi yang memadai. Tanpa itu, transformasi digital justru berisiko memperlebar kesenjangan.
Masa Depan Digital yang Bertanggung Jawab
Diskusi ini menegaskan bahwa Green AI, ekonomi digital, dan ketahanan pangan saling terhubung. Teknologi dapat memperkuat ketahanan. Namun, pengelolaan yang transparan dan adil menjadi kunci utama.
Melalui seri Difussion, CfDS mendorong dialog kritis tentang dampak sosial dan ekologis teknologi. Di tengah laju ekonomi digital Indonesia, pertanyaan besarnya bukan hanya seberapa canggih AI berkembang.
Yang lebih penting, bagaimana kita mengelolanya secara bertanggung jawab.
Tonton podcast Milenianews yang menghadirkan bintang tamu beragam dari Sobat Milenia dengan cerita yang menghibur, inspiratif serta gaul hanya di youtube MileniaNews.













