News  

Gara-gara Dracin, Bocil di Bojonegoro Nekat Jual Batu Kali ke Toko Emas: Mimpi Jadi Tuan Muda yang Terbentur Realita

Gara-gara Dracin
Source: Tiktok/@shufi.embroidery

Milenianews.com, Bojonegoro – Entah sejak kapan layar ponsel bapak-bapak di pos ronda, pengemudi ojek online yang sedang menunggu orderan, hingga emak-emak di waktu senggangnya, seragam menayangkan tontonan yang sama, itu Drama China alias Dracin. Bukan drama kolosal sejarah yang serius, melainkan drama vertikal berdurasi pendek dengan plot yang nyaris seragam. Seorang CEO kaya raya yang menyamar jadi tukang bersih-bersih, dihina keluarga istri, lalu tiba-tiba pamer kekayaan dengan memborong satu mal atau menunjukkan identitas aslinya sebagai pewaris tunggal Keluarga Wijaya.

Fenomena ini mewabah begitu cepat, menyusup ke sela-sela kebosanan masyarakat kita akan sinetron yang bertele-tele. Dracin menawarkan dopamin instan, yaitu dendam terbalaskan dalam durasi dua menit. Namun, siapa sangka, “wabah” halusinasi tentang kekayaan instan ini tidak hanya menjangkiti orang dewasa yang lelah bekerja, tapi juga menular pada anak-anak yang belum genap akil baligh.

Baca juga: Berikut Daftar Drakor yang Diadaptasi dari Drama China 

Di Bojonegoro, Jawa Timur, demam Dracin ini baru saja memakan “korban”. Bukan korban penipuan, melainkan korban imajinasi mereka sendiri yang terlalu liar. Empat bocah ingusan mendadak viral setelah mendatangi sebuah toko emas dengan kepercayaan diri selangit, membawa benda yang mereka yakini sebagai tiket menuju kekayaan, sebuah batu putih biasa.

Keyakinan semu ala CEO penyamaran

Kejadian unik ini berlangsung di Toko Emas Gajah, Jalan Trunojoyo, Bojonegoro, pada Sabtu (31/1) lalu. Lazimnya, orang datang ke toko emas untuk membeli perhiasan atau menjual kembali emas simpanan mereka saat tanggal tua mencekik. Namun, empat sekawan ini datang dengan misi berbeda.

Dalam video yang beredar luas dan dikutip oleh akun Instagram milenianews, terlihat empat bocah tersebut berdiri di depan etalase kaca. Tidak ada raut takut atau ragu. Gestur mereka seolah menyiratkan bahwa mereka sedang memegang aset berharga yang akan membuat pemilik toko terbelalak. Di tangan mereka, tergenggam batu berwarna putih keruh.

Dalam benak polos anak-anak ini, batu tersebut bukanlah batu kali atau pecahan material bangunan biasa. Bagi mereka, itu adalah batu giok mentah. Sebuah harta karun tersembunyi yang sering muncul dalam adegan-adegan Dracin, di mana sebuah batu kusam ketika dibelah ternyata berisi giok seharga miliaran rupiah. Adegan klasik “batu giok” ini rupanya tertanam begitu dalam di memori mereka, hingga mengaburkan batas antara fiksi di layar ponsel dan realita jalanan Bojonegoro.

Mereka mungkin membayangkan skenario yang dramatis, “Karyawan toko akan meremehkan mereka, lalu bos toko akan keluar, melihat batu itu dengan kaca pembesar, gemetar, dan langsung menawarkan uang sekoper.” Persis seperti nasib Tuan Muda yang menyamar jadi gembel.

Baca juga: Ji Chang Wook & Mio Imada Siap Bikin Baper Lewat Drama Romantis Lintas Negara “Merry Berry Love”

Realita yang menampar, tapi tetap jenaka

Sayangnya, hidup bukanlah naskah drama pendek yang disutradarai algoritma media sosial. Karyawan Toko Emas Gajah, yang mungkin hari itu sudah lelah melayani tawar-menawar ibu-ibu, dihadapkan pada situasi absurd ini. Namun, respons pihak toko patut diacungi jempol. Alih-alih mengusir bocah-bocah tersebut karena dianggap main-main, mereka meladeninya.

Batu itu diperiksa. Tentu saja, tidak butuh alat canggih atau mata batin seorang ahli gemologi untuk mengetahui hasilnya. Itu hanyalah batu biasa. Batu yang mungkin bisa ditemukan di pinggir sungai atau sisa urukan tanah tetangga.

Momen ketika karyawan toko menjelaskan bahwa batu itu tidak memiliki nilai jual adalah puncak komedi sekaligus tragedi kecil bagi keempat bocah tersebut. Tidak ada plot twist. Tidak ada pewaris keluarga Wijaya yang turun dari helikopter untuk membenarkan bahwa itu giok langka. Yang ada hanya realita, mereka hanyalah anak-anak yang termakan tontonan, dan batu itu tetaplah batu.

Warganet yang melihat unggahan tersebut pun tak kuasa menahan tawa. Kolom komentar banjir dengan lelucon. Ada yang menyebut mereka sebagai “Tuan Muda yang sedang menyamar”, ada pula yang menanyakan apakah mereka cucu dari Keluarga Wijaya, nama marga fiktif yang hampir selalu muncul sebagai orang terkaya di semesta Dracin.

Cermin masyarakat yang rindu keajaiban

Di balik gelak tawa melihat kepolosan bocah-bocah Bojonegoro ini, terselip sebuah ironi yang lebih luas. Mengutip laporan dari Detik Jabar tentang demam Dracin yang digandrungi berbagai kalangan, fenomena ini menunjukkan betapa masyarakat kita, dari bapak-bapak, ojol, hingga anak kecil, sangat merindukan “jalan pintas” nasib.

Dracin laku keras karena ia menjual mimpi yang paling didambakan orang-orang yang lelah dengan kemiskinan struktural, “Bahwa di balik penampilan yang biasa-biasa saja, tersimpan kekayaan yang tak terbatas.” Bahwa batu kali bisa jadi giok, dan tukang sapu bisa jadi pemilik perusahaan. Anak-anak ini hanyalah peniru ulung dari apa yang orang dewasa tonton setiap hari.

Jika orang dewasa menonton Dracin sebagai pelarian (escapism) dari cicilan yang mencekik dan gaji yang numpang lewat, anak-anak ini menerjemahkannya secara harfiah. Mereka mencoba mempraktikkan “keajaiban” itu di dunia nyata.

Baca juga: Drama China Romantis yang Wajib Kalian Tonton

Batas antara optimisme dan halusinasi

Kejadian di Toko Emas Gajah ini menjadi hiburan segar di tengah berita-berita berat tentang politik dan ekonomi yang morat-marit. Kita tertawa karena melihat kepolosan yang murni, sebuah kenaifan yang mungkin sudah lama hilang dari diri kita yang dewasa.

Namun, empat bocah ini mengajarkan kita satu hal, “Terkadang, batas antara optimisme dan halusinasi memang setipis kulit bawang”. Hari itu, mereka pulang tidak membawa uang hasil penjualan “giok”, tapi setidaknya mereka pulang dengan sebuah cerita. Bahwa mereka pernah mencoba menantang nasib ala CEO Dracin, meski akhirnya kalah telak oleh realita. Dan bagi kita yang menonton, ini jadi pengingat untuk sesekali mengecek tontonan anak-anak (dan tontonan kita sendiri), jangan sampai besok lusa kita yang antre di toko bangunan, berharap batu bata di sana ternyata batangan emas yang menyamar.

Tonton podcast Milenianews yang menghadirkan bintang tamu beragam dari Sobat Milenia dengan cerita yang menghibur, inspiratif serta gaul hanya di youtube MileniaNews.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *