Milenianews.com, Pontianak– Guru Besar Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan-IPB University, Prof Dr Ir Rokhmin Dahuri MS mengemukakan tiga pilar strategi pengembangan kolaborasi Pentahelix (kolaborasi yang melibatkan lima komponen penting, yakni, pemerintah, masyarakat, akademisi, pelaku usaha, dan media) untuk mewujudkan kedaulatan panhan dan mengatasi stunting. Hal itu ia sampaikan saat menjadi narasumber Focus Group Discussion “Diseminasi Gerakan Konsumsi Pangan Lokal” yang diadakan oleh Dinas Ketahanan Pangan, Pemprov, Kalimantan Barat Pontianak, Kalimantan Barat, di Pontianak, Jumat (17/5/2024).
Pertama, kata Prof Rokhmin, membangun korporasi bisnis pangan terintegrasi (pasca produksi – produksi on-farm – industri pengolahan – pemasaran) yang menggabungkan sejumlah UMKM produksi on-farm berbasis satu jenis komoditas (seperti beras, jagung, bawang, buah, sayur, udang, ikan, dan ayam) di dalam satu kawasan.
Kedua, mengundang investor besar (korporasi), seperti BUMN, BUMD, Swasta Nasional, atau MNC (Multi National Corporation) untuk membangun industri pengolahan pangan di daerah (kabupaten atau kota) dan bermitra secara win-win dengan UMKM produsen pangan (petani dan nelayan). Core business korporasi: pembelian komoditas pangan dari petani dan nelayan, penjualan sarana produksi, pengolahan komoditas pangan, dan pemasaran.
“Korporasi bisa berusaha di on-farm, tetapi dengan volume produksi < 50% kapasitas pengolahan industri (pabrik)-nya,” ujar Prof Rokhmin dalam rilis yang diterima Milenianews.com.
Baca Juga : Guru Besar IPB University: Indonesia Harus Berdaulat Pangan
Ketiga, ujar Prof Rokhmin, mengundang investor besar (korporasi), seperti BUMN, BUMD, swasta nasional, atau MNC (Multi National Corporation) untuk membangun industri pengolahan pangan terintegrasi, yang dari hulu sampai hilir dikerjakan sendiri, di daerah (kabupaten atau kota). Penduduk setempat sebagai pegawai (direksi, manager, atau staf) dan pekerja di on-farm maupun off-farm, dengan gaji atau upah yang menyejahterakan mereka secara berkelanjutan.
“Upah minimum US$ 375 (Rp 5,6 juta)/bulan, ditambah tunjangan-tunjangan lainnya,” papar Prof Rokhmin yang membawakan makalah berjudul“Strategi penguatan dan pengembangan tiga pilar ketahanan pangan menuju Kalbar Mandiri Pangan yang petani dan nelayan-nya sejahtera secara berkelanjutan”.
Sebelumnya, Prof Rokhmin memaparkan bahwa pangan mempunyai peran strategis bagi kemajuan, kesejahteraan dan kedaulatan bangsa. “Pangan menentukan tingkat kesehatan, kecerdasan, dan kualitas SDM. Seiring dengan pertambahan penduduk dunia, permintaan bahan pangan bakal terus meningkat. Sementara, suplai pangan global sangat fluktuatif dan cenderung menurun,” ujarnya.
Ia menambahkan, akibat pandemi Covid-19 dan perang Rusia vs Ukraina, dunia menghadapi krisis pangan, energi, dan resesi ekonomi (FAO, 2022; Bank Dunia, 2022). Kekurangan pangan dapat memicu gejolak politik, bahkan bisa menyebabkan kejatuhan rezim.
“Urusan pangan adalah hidup-matinya sebuah bangsa,” kata Prof Rokhmin mengutip Pidato Presiden Soekarno. “Suatu negara dengan penduduk lebih dari 100 juta jiwa tidak mungkin bisa maju, sejahtera, dan berdaulat, bila kebutuhan pangannya bergantung pada impor,” ungkap Prof Rokhmin mengutip FAO (2000).
Ia mengemukakan, sebagai negara maritim dan agraris tropis terbesar di dunia, Indonesia sejatinya memiliki potensi sangat besar untuk berdaulat pangan, dan bahkan feeding the world (pengekspor pangan utama).