News  

Erspo Digugat PKPU Rp5 Miliar oleh Vendor, Sidang Perdana Digelar di PN Jakarta Pusat

Milenianews.com, Jakarta – Biasanya, jersey Timnas Indonesia identik dengan keringat di lapangan, selebrasi penuh emosi, dan sorak tribun yang menggema. Namun kali ini, cerita tentang seragam kebanggaan itu bergeser jauh dari stadion. Angka-angka gugatan justru menjadi pusat perhatian.

Produsen apparel Timnas Indonesia, Erspo, kini menghadapi perkara hukum. Vendor produksinya, PT Grand Best Indonesia, melayangkan gugatan Penundaan Kewajiban Pembayaran Utang (PKPU). Nilainya tidak kecil: sekitar Rp5 miliar.

Sidang perdana berlangsung di Pengadilan Negeri Jakarta Pusat pada Kamis (26/2). Sebelumnya, agenda sempat tertunda karena pihak tergugat tidak hadir. Namun kali ini, majelis hakim memastikan proses tetap berjalan.

Jika di lapangan sepak bola pemain yang absen bisa diganti, di ruang sidang situasinya berbeda. Perkara tetap berlanjut. Sorotan publik justru semakin tajam.

Baca juga: Hashtag Boikot Jersey Timnas Ramai, Erspo Beri Klarifikasi Resmi!

Gugatan Rp5 Miliar dan Dampaknya

Kuasa hukum PT GBI, Ricky K. Margono dari Mico Indonesia Law Firm, membeberkan sisa tagihan yang belum dibayarkan. Totalnya mencapai sekitar Rp5 miliar. Rinciannya, sekitar Rp2,2 miliar untuk GBI dan Rp2,8 miliar untuk LTS. Tunggakan itu disebut berlangsung sejak Maret 2025.

Bagi sebagian orang, angka itu mungkin terlihat seperti nominal bisnis biasa. Namun bagi vendor, nilai tersebut menentukan hidup matinya arus kas. Operasional tetap berjalan. Gaji karyawan tetap harus dibayar. Sementara itu, kepastian pembayaran belum juga datang.

Di sinilah drama bisnis bertemu realitas industri olahraga. Di satu sisi, publik melihat jersey sebagai simbol nasionalisme. Namun di sisi lain, ada rantai produksi panjang yang menuntut tanggung jawab finansial.

Ribuan Jersey Tertahan di Gudang

Persoalan tidak berhenti pada angka utang. Ribuan potong jersey Timnas yang telah diproduksi kini masih menumpuk di gudang. Barang-barang itu belum ditebus.

Ironisnya, kerja sama apparel Timnas sudah berganti. Akibatnya, jersey yang seharusnya beredar di pasar atau dikenakan suporter justru terdiam di rak penyimpanan. Biaya gudang terus berjalan. Status barang pun menggantung.

Situasi ini menempatkan vendor dalam posisi sulit. Mereka sudah memproduksi. Mereka sudah mengeluarkan biaya. Namun pembayaran belum tuntas.

Baca juga: Timnas U-23 Indonesia Tak Ikut Asian Games 2026, Ini Penyebabnya

Sidang Maraton dan Jawaban yang Ditunggu

Majelis hakim menolak permintaan tertentu dari pihak tergugat. Selanjutnya, sidang akan digelar secara maraton. Erspo dijadwalkan menyampaikan jawaban pada 4 Maret 2026. Sehari setelahnya, agenda pembuktian akan berlangsung.

Kuasa hukum Erspo yang baru ditunjuk sehari sebelum sidang memilih irit komentar. Ia mengaku belum mendalami perkara secara menyeluruh.

Kini publik menunggu. Bukan lagi soal desain jersey atau kualitas bahan. Kali ini, yang dipertaruhkan adalah komitmen dan tanggung jawab bisnis.

Di tengah gemuruh dukungan untuk Timnas Indonesia, kasus ini menjadi pengingat bahwa kebanggaan nasional berdiri di atas sistem yang kompleks. Di balik satu jersey, ada kontrak, produksi, distribusi, dan kewajiban yang harus dipenuhi.

Pertandingan memang tidak berlangsung di stadion. Namun tensinya tetap terasa. Bedanya, kali ini peluit bukan berbunyi di lapangan hijau, melainkan di ruang sidang.

Tonton podcast Milenianews yang menghadirkan bintang tamu beragam dari Sobat Milenia dengan cerita yang menghibur, inspiratif serta gaul hanya di youtube Milenianews.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *