Milenianews.com, Jakarta – Sekretaris Jenderal Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) Antonio Guterres, pada COP28 menyatakan penghentian penggunaan bahan bakar sudah mutlak dan era bahan bakar fosil harus diakhiri dengan keadilan dan kesetaraan.
Pernyataan itu disampaikan Guterres menanggapi pengesahan dokumen hasil konferensi perubahan iklim COP28 di Dubai, Uni Emirat Arab, Rabu (13/12) dikutip dalam laman resmi PBB.
“Bagi mereka yang menentang rekomendasi jelas mengenai pengakhiran pemakaian bahan bakar fosil dalam teks COP28, saya ingin katakan bahwa penghentian penggunaan bahan bakar fosil tidak dapat dihindari, suka atau tidak. Mudah-mudahan upaya ini tidak terlambat,” ungkapnya.
Guterres mengatakan bahwa secara ilmiah sudah jelas. Upaya membatasi pemanasan global agar tidak melebihi 1,5 derajat Celcius tidak akan mungkin terjadi tanpa penghapusan semua bahan bakar fosil secara bertahap.
Baca juga: Drone Untuk Transformasi Bursa Karbon dan Mitigasi Perubahan Iklim di Indonesia
Ia juga menekankan pentingnya memberikan keadilan pendanaan iklim kepada mereka yang paling terdampak oleh perubahan iklim.
“Banyak negara rentan terlilit utang dan berisiko tenggelam akibat permukaan air laut yang naik. Sudah waktunya meningkatkan pendanaan, termasuk (pendanaan) untuk adaptasi, kerugian, dan kerusakan serta reformasi arsitektur keuangan internasional,” katanya.
Bahan bakar fosil jadi penyebab utama krisis iklim
Conference of the Parties 28 (COP28) di Dubai, yang berlangsung sejak 30 November 2023, berakhir dengan seruan berpaling dari bahan bakar fosil.
COP28 yang seharusnya berakhir Selasa, ditunda karena negosiasi yang alot. Apakah hasil konferensi itu akan menyerukan kata “mengurangi” atau “menyudahi penggunaan” bahan bakar fosil, seperti minyak, gas, dan batu bara.
Sementara itu, Kepala Strategi Politik Global Climate Action Network International, Harjeet Singh, menyambut baik dokumen final COP28 yang menyoroti bahan bakar fosil sebagai penyebab utama krisis iklim. Dia mengatakan arahan beralih dari batu bara, minyak, dan gas adalah langkah penting yang tertunda.
“Namun, resolusi ini masih memberi celah yang memberikan banyak jalan keluar bagi industri bahan bakar fosil dengan mengandalkan teknologi yang belum terbukti dan tidak aman,” kata Singh kepada UN News.
Baca juga: Minyak Kelapa Sawit, Wujudkan Bahan Bakar Pesawat Udara Ramah Lingkungan
“Negara-negara berkembang yang masih menggunakan bahan bakar fosil tidak memiliki jaminan bahwa mereka bakal mendapatkan dukungan keuangan yang cukup untuk beralih ke energi terbarukan,” tambah Singh.
Tonton podcast Milenianews yang menghadirkan bintang tamu beragam dari Sobat Milenia dengan cerita yang menghibur, inspiratif serta gaul hanya di youtube Milenianews.