Milenianews.com, Tangerang Selatan – Lima tahun lalu, Rizma Ardhana meninggalkan Ternate dengan satu tujuan: menyelesaikan pendidikan dan meraih gelar sarjana. Kini, mahasiswi jurnalistik di UIN Syarif Hidayatullah Jakarta itu menjalani hari-harinya di sebuah kamar kos sederhana di Ciputat, Tangerang Selatan.
Di ruang sempit itulah ia belajar bukan hanya tentang teori komunikasi dan teknik liputan, tetapi juga tentang cara bertahan ketika kiriman uang datang tanpa jadwal pasti.
“Nama saya Rizma Ardhana, asal Ternate. Sekarang lagi ngekost di Ciputat, kurang lebih sudah lima tahun rantau di sini,” ujarnya, Kamis (19/2).
Hidup Tanpa Anggaran Bulanan Pasti
Berbeda dengan sebagian mahasiswa yang menerima uang saku tetap setiap bulan, Rizma harus menyesuaikan hidup dengan sistem transfer yang fleksibel sesuai kemampuan orang tua.
“Uang saku nggak ditransfer setiap bulan. Misalnya hari ini ditransfer Rp150.000, nanti bisa ditransfer lagi kalau nggak seminggu, ya beberapa hari kemudian. Jadi nggak tahu juga sebulan totalnya berapa,” jelasnya.
Situasi itu membuatnya tak bisa menyusun anggaran bulanan secara rapi. Setiap kali kiriman datang, ia langsung membaginya untuk kebutuhan paling mendesak. Jika saldo menipis, ia menahan diri.
Baca juga: Risiko Hujan Tinggi, Dinkes Jakarta Waspadai ISPA dan Pneumonia
Makan dan Kos Jadi Prioritas
Dalam daftar pengeluarannya, makan dan biaya kos selalu berada di urutan pertama.
“Pengeluaran terbesar sudah pasti buat makan sama keperluan kosan,” katanya.
Biaya listrik, air, kebutuhan mandi, hingga perlengkapan kuliah menjadi rutinitas yang tak bisa ditunda. Memasuki tahap akhir perkuliahan, beban justru bertambah karena kebutuhan mencetak bahan bimbingan skripsi.
“Iya, lebih cepat habis karena harus nge-print bahan bimbingan skripsi,” ujarnya.
Setiap revisi berarti lembaran baru. Sekali bimbingan, puluhan halaman bisa keluar dari mesin printer. Dalam seminggu, ia bisa beberapa kali bolak-balik tempat fotokopi demi mengejar tenggat revisi.
Harga Naik, Gaya Hidup Disesuaikan
Kenaikan harga barang sehari-hari juga ia rasakan, termasuk produk perawatan diri.
“Harga skincare mungkin,” katanya singkat.
Kini ia lebih selektif. Nongkrong di kafe dikurangi, jajan dibatasi. Ia memilih membeli kebutuhan pokok yang benar-benar penting dan mengerjakan tugas di kamar kos atau perpustakaan.
“Sekarang beli makanan pokok yang paling dibutuhin aja,” jelasnya.
Pernah Kehabisan, Harus Bergerak
Dalam kondisi kiriman yang tak menentu, Rizma pernah kehabisan uang sebelum transfer berikutnya datang.
“Pernah,” katanya.
Saat itu, ia mencari pendapatan tambahan dari pekerjaan harian. Meski belum memiliki kerja sampingan tetap, keinginan untuk mandiri selalu ada.
“Kalau kepikiran buat kerja, pastinya pengen. Alasannya apa lagi kalau bukan duit,” ujarnya.
Namun ia juga harus realistis. Skripsi menuntut fokus dan tenaga ekstra. Ia tak ingin kelulusan tertunda karena terlalu memaksakan diri bekerja.
Baca juga: Masih Perlukah Agama dalam Kehidupan Mahasiswa Modern?
Beban yang Tak Terlihat
Selain persoalan teknis, ada beban emosional yang ia rasakan. Ia mengaku pernah sungkan meminta tambahan uang kepada orang tua.
“Pernah sih,” ucapnya pelan.
Baginya, biaya kuliah, kos, dan kebutuhan harian bukan angka kecil, apalagi sudah lima tahun merantau jauh dari rumah.
“Paling berat soal biaya perkuliahan, biaya hari-hari sama biaya kosan. Meskipun sadar orang tua bisa biayain, tetap aja nggak enak karena lumayan juga nominalnya sama durasi ngerantaunya,” tuturnya.
Perasaan itu membuatnya semakin berhati-hati. Ia menunda keinginan, menekan pengeluaran, dan belajar mengelola prioritas.
Kini, di tengah revisi skripsi dan tagihan bulanan, Rizma tetap melangkah. Lima tahun di Ciputat mengajarkannya bahwa menjadi mahasiswa rantau bukan hanya soal kuliah, tetapi juga soal daya tahan, tanggung jawab, dan keberanian bertahan saat keadaan tak selalu pasti.
Tonton podcast Milenianews yang menghadirkan bintang tamu beragam dari Sobat Milenia dengan cerita yang menghibur, inspiratif serta gaul hanya di youtube MileniaNews.













