Mata Akademisi, Milenianews.com – Pertumbuhan pesat industri financial technology (fintech) di Indonesia adalah sebuah fakta yang tak terbantahkan. Sektor ini tak hanya menjadi primadona inovasi, tetapi juga kontributor penting dalam penciptaan lapangan kerja nasional.
Namun, di balik gemerlapnya ekspansi dan adopsi teknologi yang masif, terselip sebuah tantangan fundamental yang kerap terabaikan, kebutuhan akan talenta yang tak sekadar melek teknologi, melainkan juga memiliki pemahaman mendalam tentang manajemen keuangan. Inilah PR besar yang harus segera dijawab oleh ekosistem pendidikan kita.
Bagi saya, persoalan ini bukan sekadar isu akademis belaka, melainkan sebuah keniscayaan untuk memastikan keberlanjutan dan kesehatan industri fintech itu sendiri. Saya, bagian dari Cyber University sebagai The First Fintech University in Indonesia, khususnya pada Program Studi (Prodi) Bisnis Digital (S1) memandang serius fenomena ini.
Baca juga: Fintech di Tahun 2026: Era Transformasi Keuangan yang Menjanjikan dan Tantangan Krusial
Program yang dibutuhkan masa depan Fintech Indonesia
Melalui program unggulan Company Learning Program (CLP), kami merancang sebuah skema pembelajaran inovatif, yakni tiga tahun perkuliahan intensif yang diperkaya dengan satu tahun magang industri (3+1). Tujuannya jelas, yaitu menyiapkan lulusan yang tidak hanya fasih di ranah digital, tetapi juga berakar kuat pada fundamental keuangan.
Dalam kerangka CLP (3+1) ini, mata kuliah Manajemen Keuangan memegang peranan sentral. Kami tidak hanya mengajarkan teori, tetapi membekali mahasiswa dengan kemampuan actionable, bagaimana membaca denyut nadi finansial bisnis digital, mengelola arus kas dengan cermat, hingga mengidentifikasi dan memitigasi risiko keuangan dalam setiap keputusan strategis.
Seperti yang sering saya tekankan, di fintech, teknologi hanyalah alat. Kunci keberhasilan justru terletak pada bagaimana keputusan keuangan dieksekusi. Tanpa fondasi keuangan yang kokoh, inovasi teknologi yang canggih sekalipun bisa berujung pada jurang kegagalan.
Berapa banyak startup yang tumbuh pesat berkat gebrakan teknologi, namun akhirnya rontok karena pengelolaan keuangan yang lemah? Kesalahan dalam membaca cash flow, perhitungan biaya yang sembrono, atau analisis risiko investasi yang dangkal, semuanya berpotensi meruntuhkan pilar bisnis yang sedang dibangun.
Baca juga: Sertifikasi Kompetensi: Jembatan Vital Menuju Profesionalisme Unggul dan Mutu Pendidikan Tinggi
Prodi Bisnis Digital jadi bekal kesuksesan fintech
Oleh karena itu, pembelajaran di Prodi Bisnis Digital dirancang untuk mengaitkan secara eksplisit antara strategi bisnis dengan kesehatan finansial perusahaan. Mulai dari perencanaan keuangan, analisis investasi yang tajam, hingga manajemen risiko yang relevan dengan karakter dinamis bisnis digital dan fintech. Ditambah lagi dengan skema magang industri selama satu tahun, ini menjadi arena pembuktian.
Di sinilah mahasiswa akan dihadapkan pada realitas bisnis yang menuntut pengambilan keputusan finansial yang tepat waktu dan akurat. Kami percaya, integrasi pengalaman industri dengan teori akademik akan membentuk pribadi-pribadi yang adaptif, kritis, dan siap menghadapi badai persaingan di sektor fintech yang bergerak secepat kilat.
Penguatan kompetensi di bidang keuangan ini sejatinya adalah investasi jangka panjang bagi ekosistem fintech nasional. Dengan talenta yang memiliki pemahaman holistik teknologi dan keuangan kita dapat mendorong pertumbuhan yang lebih berkelanjutan, mengurangi potensi risiko, dan pada akhirnya, meningkatkan kualitas sumber daya manusia Indonesia di era ekonomi digital yang semakin kompetitif ini. Mari kita bersama-sama membangun fondasi yang kokoh agar fintech Indonesia tak hanya sekadar tumbuh, tetapi juga bertahan dan memimpin.
Oleh: Dr. Ayi Wahid, Dosen Program Studi Bisnis Digital Cyber University
Tonton podcast Milenianews yang menghadirkan bintang tamu beragam dari Sobat Milenia dengan cerita yang menghibur, inspiratif serta gaul hanya di youtube MileniaNews.













