Set Boundaries Itu Perlu, Bukan Jahat

set your boundaries

Let’s make ourselves calmer and not hurt others.

Mata Akademisi, Milenianews.com – Tanpa disadari, kita sering terlalu fokus pada perubahan sikap seseorang dalam memperlakukan kita. Perubahan itu—yang berada di luar kendali kita—perlahan menciptakan rasa lelah di hati, terutama ketika orang lain tidak bertindak sesuai ekspektasi. Rasa lelah inilah yang kemudian menguras energi, memicu stres berkepanjangan, dan merampas kebahagiaan yang seharusnya bisa kita rasakan hari itu. Semua bisa runtuh hanya karena perlakuan seseorang yang terasa berbeda dari biasanya, tidak sesuai harapan, hingga memunculkan pertanyaan berulang di benak kita: “Aku salah apa, ya?”

Dalam buku Boundaries karya Dr. Henry Cloud dan Dr. John Townsend, batasan diibaratkan seperti sebuah rumah. Rumah memiliki pagar, ruang tamu, ruang makan, ruang keluarga, hingga kamar tidur. Sebagai pemilik rumah, kita berhak menentukan siapa yang hanya boleh sampai di pagar, siapa yang boleh masuk ke ruang tamu, dan siapa yang diizinkan masuk lebih dalam. Begitulah konsep boundaries dalam diri kita—baik batasan fisik, emosional, mental, maupun spiritual.

Baca juga: Lebih Baik Menyesal karena Menolak daripada Kelelahan karena Mengiyakan

Tanda batasan diri yang tidak sehat

Seseorang yang belum memiliki batasan diri yang sehat umumnya menunjukkan beberapa tanda berikut:

  • Merasa bertanggung jawab atas perasaan orang lain.

  • Sulit mengatakan “tidak” pada permintaan orang lain.

  • Sering merasa dimanfaatkan atau tidak dihargai.

  • Cenderung mengiyakan semua permintaan meski merasa tidak nyaman.

  • Kesulitan menerima kritik dan penolakan.

Dampak tidak memiliki batasan diri

Tidak adanya batasan yang jelas dapat menimbulkan berbagai dampak, antara lain:

  • Menurunnya konsentrasi dalam belajar, bekerja, dan aktivitas sehari-hari.

  • Rentan mengalami stres.

  • Mental dan fisik cepat merasa lelah.

  • Muncul perasaan dimanfaatkan.

  • Risiko depresi.

Bagi sebagian orang, kata boundaries mungkin terdengar asing atau bahkan terasa tidak nyaman. Padahal, setiap individu membutuhkan ruang aman dalam dirinya untuk menciptakan ketenangan. Setiap hari kita bertemu dan berinteraksi dengan banyak orang, masing-masing dengan karakter, etika, dan sikap yang berbeda. Kita tidak bisa mengontrol sikap orang lain, tetapi kita bisa mengelola diri sendiri—salah satunya dengan menurunkan ekspektasi dan mulai menetapkan batasan yang sehat.

Secara umum, boundaries mencakup empat aspek utama: fisik, emosional, mental, dan waktu. Keempatnya berfungsi untuk melindungi diri, menjaga kesehatan mental, serta membangun hubungan yang sehat dan saling menghargai. Menetapkan batasan adalah bentuk self-love yang membantu kita membedakan diri dari orang lain sekaligus mencegah eksploitasi dan manipulasi.

Membangun batasan dalam hidup memang tidak bisa dilakukan secara instan. Sebagai langkah awal, penting untuk memahami keterkaitan tiga aspek utama: emosional, mental, dan waktu. Ketika emosi tidak terkelola dengan baik, kesehatan mental ikut terganggu. Mental yang tidak sehat pada akhirnya berdampak pada produktivitas, sehingga banyak waktu terbuang sia-sia. Adapun batasan fisik juga tak kalah penting, meski sering kali lebih dominan dalam konteks hubungan personal.

Cara mulai “set your boundaries” dalam hidup

Ketika kamu mulai memahami cara menetapkan dan menjaga batasan diri yang sehat, perasaan kecewa dan marah di masa depan dapat diminimalkan. Berikut tiga langkah awal yang bisa dilakukan:

1. Tetapkan batasan dengan jelas

Sebelum menetapkan batasan, penting untuk memahami manfaatnya bagi kesehatan mental. Luangkan waktu untuk mengenali batasan apa saja yang benar-benar dibutuhkan oleh diri sendiri. Proses eksplorasi ini akan membantu menemukan formulasi batasan yang tepat.

2. Mulai dari hal kecil

Jika belum terbiasa, bangun batasan secara perlahan dari hal-hal sederhana. Langkah kecil ini dapat membuka kesadaran akan batasan lain yang perlu diterapkan di kemudian hari, sehingga penyesuaian bisa dilakukan secara bertahap.

3. Tetap konsisten

Setelah batasan terbentuk, konsistensi menjadi kunci utama. Membiarkan batasan dilanggar sesekali dapat menimbulkan kebingungan bagi orang lain dan berpotensi menjadi kebiasaan baru. Konsistensi menjaga batasan tetap jelas dan dihormati.

Contoh batasan kecil yang bisa diterapkan

Beberapa contoh batasan sederhana yang bisa kamu mulai terapkan dalam kehidupan sehari-hari:

  • Jika tidak diajak, maka tidak perlu ikut.

  • Jika tidak diprioritaskan, maka tidak perlu memprioritaskan.

  • Jika tidak didengarkan, maka tidak perlu melanjutkan pembicaraan.

  • Jika tidak diberi tahu, maka tidak perlu merasa penasaran.

  • Jika tidak dilibatkan, maka tidak perlu ikut campur.

  • Jika tidak dimintai saran, maka tidak perlu mengumbar saran.

Baca juga: Capek Mulu Padahal Baru 20-an? Bisa Jadi Kamu Burnout!

Tanpa batasan, tubuh akan cepat lelah, energi terkuras, suasana hati memburuk, dan perasaan diremehkan pun muncul. Sebaliknya, dengan batasan yang sehat, kamu menciptakan rasa aman bagi diri sendiri tanpa harus menyakiti orang lain.

Let’s make ourselves calmer and not hurt others.

Mulailah menyadari hal-hal yang mengganggu ketenangan mentalmu, lalu tentukan batasan yang perlu diterapkan. Jangan ragu untuk memulainya dan tetap konsisten menjaga batasan yang sudah kamu bangun—karena menjaga diri sendiri juga merupakan bentuk tanggung jawab.

Penulis: Sry Ardini Badriatul Hakim, Mahasiswi S1 Manajemen Bisnis Syariah IAI SEBI 

Tonton podcast Milenianews yang menghadirkan bintang tamu beragam dari Sobat Milenia dengan cerita yang menghibur, inspiratif serta gaul hanya di youtube Milenianews.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *