Seni sebagai Jalan Dakwah yang Abadi

dakwah lewat seni

Di era saat ini, salah satu ulama yang paling menginspirasi karena keluasan bacaannya adalah Gus Baha. Beliau membaca ribuan kitab, dan mendengarkan ceramahnya membuat banyak hal yang sebelumnya kurang dipahami menjadi jelas. Ceramahnya disampaikan dengan cara yang ringan dan sering disertai humor, namun tetap padat dan berlandaskan dalil yang kuat. Misalnya, tentang adab seorang kiai kepada santrinya, serta seorang suami yang mendapatkan kemudahan di alam kubur karena selama hidupnya sering menghadapi kecerewetan istrinya.

Habiburrahman El-Shirazy juga menunjukkan kedalaman literasinya dengan menulis novel Ayat-Ayat Cinta yang didasarkan pada referensi dari delapan kitab kuning.

Di kalangan dai muda, Ustadz Abdul Somad dan Ustadz Adi Hidayat sangat menginspirasi umat dengan pengetahuan mereka yang luas. Ustadz Adi Hidayat, misalnya, memiliki hafalan Al-Qur’an yang luar biasa. Ia bisa mengingat dengan tepat nama surat, posisi ayat di dalam Al-Qur’an, bahkan halaman dan letak ayat tersebut (di atas, tengah, atau bawah halaman).

Mulai Saja dan Terus Berkarya

Mengawali dakwah melalui karya seni, khususnya buku, mungkin tidak langsung membuahkan kesuksesan. Contohnya, Habiburrahman El-Shirazy. Buku ketiganya, Ayat-Ayat Cinta, awalnya direncanakan untuk diterbitkan secara mandiri. Namun, tiba-tiba karya tersebut diminta untuk diterbitkan sebagai cerita bersambung (cerbung) di koran Republika, dan akhirnya diterbitkan oleh Penerbit Republika. Setiap kali dicetak, dengan rata-rata 20.000 eksemplar per cetak, novel ini menjadi buruan para pembeli, termasuk toko buku. Bahkan, sebuah toko buku besar berani membayar di muka untuk mendapatkan jatah novel tersebut.

Contoh lain datang dari penulis luar, John Grisham dari Amerika Serikat. Novel perdananya, A Time To Kill, dicetak terbatas hanya 500 eksemplar dan dijual di tingkat kecamatan. Baru setelah itu, novel keduanya, The Firm, meledak di pasaran dan diangkat menjadi film dengan pemeran utama Tom Cruise. Begitu pula beberapa novel berikutnya seperti Pelican Brief (difilmkan dengan pemeran Julia Roberts), The Client, The Rainmaker, dan The Testament, yang semuanya meraih kesuksesan besar.

Disiplin Berkarya

Seni apa pun yang dipilih untuk dakwah, seperti sastra, musik, atau film, perlu ditekuni dengan disiplin dan disertai target yang jelas. Beberapa contoh tokoh yang berdakwah melalui buku antara lain Buya HAMKA, Habiburrahman El-Shirazy, Tere Liye, Asma Nadia, Quraish Shihab (pengarang Tafsir Al-Misbah), Prof. Didin Hafidhuddin, Helvy Tiana Rosa, dan Asma Nadia. Para penulis ini menyediakan waktu khusus untuk menulis karya mereka. Mereka meluangkan waktu untuk berkarya, bukan hanya menunggu waktu luang untuk menulis.

Dewasa ini, kita berada di era digital yang memberikan peluang luar biasa untuk berdakwah melalui seni. Kita dapat menyampaikan pesan dakwah melalui berbagai platform, seperti buku, koran, media online, sosial media (Facebook, website, dan lain-lain), e-book, aplikasi, musik, dan film.

Baca juga: Strategi Dakwah untuk Peradaban Islam yang Lebih Baik

Yang terpenting adalah konten atau karya itu sendiri. Sementara itu, platform dapat dipilih dan dikombinasikan sesuai kebutuhan. Contohnya, film Hayya yang ditulis oleh Asma Nadia dan Helvy Tiana Rosa, yang juga diikuti dengan penerbitan novelnya. Ada juga karya yang diterbitkan terlebih dahulu dalam bentuk buku sebelum difilmkan, seperti novel-novel karya Kang Abik dan Asma Nadia.

Pembuatan film Islami juga tidak terlepas dari penggunaan lagu-lagu Islami sebagai soundtrack.

Oleh karena itu, hal terpenting yang harus dipegang teguh adalah komitmen untuk terus berkarya. Dengan kata lain, disiplin dalam berkarya adalah kunci utama.

Penulis: Irwan Kelana

Profil Singkat: Penulis adalah anggota Lembaga Seni Budaya dan Peradaban Islam (LSBPI) MUI Pusat serta merupakan Redaktur Senior di Milenianews

Catatan: Tulisan ini disampaikan pada Seminar Sehari dengan tema “Tantangan Seni Budaya Islam dan Upaya Melestarikannya di Era Digital” yang diadakan oleh MUI Depok di kantor MUI Depok, pada Kamis, 19 September 2024.

Tonton podcast Milenianews yang menghadirkan bintang tamu beragam dari Sobat Milenia dengan cerita yang menghibur, inspiratif serta gaul hanya di youtube Milenianews.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *