Seni sebagai Jalan Dakwah yang Abadi

dakwah lewat seni

Helvy Tiana Rosa dan Habiburrahman El-Shirazy

Pada era 1990-an dan 2000-an hingga saat ini, ada banyak pejuang dakwah melalui literasi, salah satunya adalah Helvy Tiana Rosa. Ia adalah pendiri Forum Lingkar Pena, novelis, penyair, dosen, dan produser film. Salah satu novelnya yang terkenal adalah Ketika Mas Gagah Pergi.

Forum Lingkar Pena menggerakkan lahirnya para penulis Muslim seperti penyair, cerpenis, dan novelis. Anggotanya lebih dari 3.500 orang, tersebar di seluruh Indonesia hingga ke mancanegara (termasuk Mesir dan lain-lain).

Nama berikutnya adalah Habiburrahman El-Shirazy, yang akrab disapa Kang Abik, seorang sastrawan Muslim terkemuka dan salah satu penulis terlaris di Indonesia. Ia dikenal melalui novelnya Ayat-Ayat Cinta, yang telah terjual lebih dari setengah juta eksemplar. Sebagian besar karyanya telah diadaptasi menjadi film layar lebar yang sukses besar dan meraih predikat box office, ditonton oleh jutaan penonton.

Beberapa contohnya adalah Ayat-Ayat Cinta 1, yang ditonton lebih dari 3,6 juta orang, dan Ayat-Ayat Cinta 2, yang meraih lebih dari 2,8 juta penonton. Selain itu, film Ketika Cinta Bertasbih 1 ditonton oleh 3,1 juta orang, dan sekuelnya, Ketika Cinta Bertasbih 2, ditonton oleh 1,5 juta orang. Salah satu pemeran dalam film tersebut adalah Ustadzah Oki Setiana Dewi.

Novel Dalam Mihrab Cinta juga diadaptasi menjadi film. Karya-karya Kang Abik lainnya yang terkenal antara lain Api Tauhid, Bidadari Bermata Bening, dan Kembara Rindu.

Masih banyak sastrawan Muslim lainnya dari Indonesia, khususnya pada abad ke-21. Sebut saja Ahmadun Yosi Herfanda, yang dikenal lewat sajaknya Sembahyang Rerumputan, serta Asma Nadia, penulis produktif yang telah menerbitkan lebih dari 60 novel, di antaranya Assalamu’alaikum, Beijing, Cinta di Ujung Sajadah, dan Rumah Tanpa Jendela. Ada juga Ahmad Fuadi, pengarang trilogi terkenal Negeri 5 Menara.

Kearifan Lokal dan Dakwah Nusantara

Berdakwah melalui karya seni memungkinkan kita menyisipkan pesan-pesan Islam yang indah, termasuk kearifan lokal Nusantara yang Islami. Contohnya bisa kita temukan dalam karya Buya HAMKA, Tenggelamnya Kapal Van der Wijck, ketika Zainuddin bertemu Hayati di sebuah dangau, ditemani adik Hayati, Ahmad. Adegan ini menegaskan ajaran bahwa lelaki dan perempuan tidak boleh berkhalwat atau berduaan tanpa pendamping.

Ada juga pepatah Minangkabau yang muncul dalam karya tersebut: Karatau madang di hulu, babuaoh babungo alun, merantau bujang dahulu, di rumah baguno balun, yang mengajarkan pentingnya merantau sebelum bisa memberi manfaat di kampung halaman, serta pandangan hidup yang selalu optimis terhadap masa depan.

Pesan-pesan Islami dan kearifan lokal juga hadir, misalnya, dalam novel Ayat-Ayat Cinta karya Habiburrahman El-Shirazy, yang mengangkat isu poligami dan pentingnya tidak tidur setelah shalat Subuh. Sementara itu, dalam novel Negeri 5 Menara karya Ahmad Fuadi, terdapat filosofi man jadda wa jada, yang berarti “siapa yang bersungguh-sungguh, akan berhasil.” Filosofi ini digambarkan melalui analogi seseorang yang memotong kayu dengan golok tumpul; jika golok tumpul saja bisa memotong kayu, apalagi jika goloknya tajam.

Rajin Membaca, Jadilah Pembaca Aktif

Untuk dapat berdakwah secara luas, termasuk melalui seni, seorang dai harus rajin menekuni literasi, seperti membaca, menulis, dan menyimak. Jadilah pembaca dan pendengar yang aktif, baik dalam membaca buku maupun mencari informasi dari sumber online, seperti sosial media, platform online, Google, YouTube, dan lainnya.

Buya HAMKA meski tidak kuliah dan hanya menguasai bahasa Arab, namun ia rajin melahap ratusan bahkan ribuan buku terjemahan berbahasa Arab. Dengan demikian, pengetahuannya sangat luas. Melalui Tafsir Al-Azhar, Buya HAMKA mendemonstrasikan wawasan yang mendalam, termasuk filsafat Yunani dan pembicaraan tentang atom, sehingga ia mendapat pujian dari seorang profesor di Amerika Serikat. Atas kontribusinya, Buya HAMKA dianugerahi gelar Doktor Honoris Causa (HC) dan Profesor.

Baca juga: Filosofi Dakwah: Berislam dan Berakal Sehat

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *