Milenianews.com, Mata Akademisi — Perkembangan teknologi digital di Indonesia telah melahirkan berbagai bentuk penipuan daring atau scam. Scam online merupakan praktik penipuan yang dilakukan melalui internet dengan tujuan mencuri uang, data pribadi, maupun informasi sensitif lainnya. Dalam beberapa tahun terakhir, fenomena ini semakin marak dan menjangkau berbagai lapisan masyarakat.
Bentuk scam digital pun semakin beragam. Mulai dari pesan WhatsApp palsu, akun Instagram bodong, media sosial yang mereplikasi identitas lembaga resmi, hingga penggunaan teknologi deepfake yang menampilkan sosok pejabat seolah menawarkan bantuan atau investasi. Tingginya tingkat kepercayaan masyarakat terhadap konten digital menyebabkan informasi palsu kerap diterima sebagai pengetahuan yang sah, meskipun tidak melalui proses verifikasi apa pun.
Epistemologi dan Cara Pengetahuan Dibentuk
Dalam kajian epistemologi, pengetahuan manusia umumnya diperoleh melalui tiga jalur utama, yaitu pengalaman inderawi, kesaksian orang lain, dan pengalaman langsung yang dapat dipertanggungjawabkan. Epistemologi berupaya menjelaskan bagaimana pengetahuan terbentuk, apa syarat-syaratnya, serta bagaimana seseorang membedakan informasi yang layak dipercaya dan yang patut diragukan.
Namun, di era digital, pola pembentukan pengetahuan mengalami perubahan drastis. Kesaksian tidak lagi hadir melalui relasi sosial yang jelas dan dapat diverifikasi, melainkan melalui pesan singkat, unggahan media sosial, akun anonim, gambar, video, dan tangkapan layar yang beredar secara luas.
Instabilitas Informasi dalam Ruang Digital
Perubahan ini menciptakan dinamika baru dalam proses memperoleh pengetahuan. Informasi digital sering muncul tanpa konteks, tanpa identitas sumber yang jelas, serta tanpa mekanisme verifikasi sosial yang sebelumnya menjadi dasar kepercayaan. Dalam ruang digital, kesaksian dapat direkayasa, dipotong, dimanipulasi, atau diproduksi secara massal oleh pihak yang tidak terlihat.
Akun anonim dapat menyebarkan klaim seolah-olah itu adalah fakta. Gambar dan video dapat diedit sedemikian rupa hingga tampak meyakinkan, sementara tangkapan layar bisa diambil dari percakapan fiktif atau sepenuhnya dipalsukan. Permasalahan epistemologis di sini bukan semata-mata soal kecerdasan individu, melainkan kegagalan membedakan antara informasi mentah dan pengetahuan yang menuntut bukti, konsistensi, serta kejelasan sumber.
Baca juga: Qirā’at QS. Al-Ahzab: 33 dan Ruang Karir Perempuan dalam Perspektif Matan Syatibi
Kerentanan Epistemik Masyarakat Digital
Berbagai laporan nasional menunjukkan bahwa penipuan digital dan konten deepfake menjadi salah satu bentuk hoaks paling dominan pada tahun 2025. Dalam kurun satu tahun, ribuan kasus misinformasi tercatat, banyak di antaranya berupa scam digital yang memanfaatkan media sosial secara tidak bijak.
Kondisi ini memperlihatkan bahwa teknologi membuat penipuan semakin sulit dibedakan dari informasi yang sahih. Akibatnya, masyarakat dituntut memiliki kewaspadaan epistemik yang lebih tinggi dalam memilah sumber serta memverifikasi kebenaran informasi yang beredar.
Kesaksian Digital dan Ilusi Kebenaran
Dari perspektif epistemologi, kesaksian (testimony) memiliki posisi penting sebagai dasar pengetahuan. Namun, dalam ruang digital, kesaksian menjadi tidak stabil. Konten visual seperti deepfake memperkuat ilusi kebenaran dengan memanipulasi persepsi inderawi, sehingga indera yang biasanya dapat diandalkan sebagai sumber pengetahuan justru menjadi rentan disesatkan.
Situasi ini diperparah oleh kecenderungan bias kognitif. Banyak orang menerima klaim tanpa melakukan konfirmasi ulang atau mencari bukti tambahan. Dalam epistemologi, informasi tanpa justifikasi yang memadai tidak dapat disebut sebagai pengetahuan. Fenomena ini menandai pergeseran dari epistemologi berbasis bukti menuju kondisi di mana kesan visual dan persepsi subjektif sering dijadikan ukuran kebenaran.
Dampak Epistemik Maraknya Scam Online
Maraknya scam digital membawa dampak epistemik yang serius. Kemampuan masyarakat untuk membedakan informasi benar dan salah menjadi melemah, sementara proses pembentukan pengetahuan terganggu oleh keputusan yang didasarkan pada data keliru. Kesaksian digital yang mudah dipalsukan membuat penilaian terhadap kredibilitas sumber semakin sulit dilakukan.
Selain itu, bias kognitif semakin menguat karena individu cenderung bereaksi berdasarkan emosi dan harapan tertentu. Ekosistem informasi digital pun dipenuhi kebisingan dan misinformasi, sehingga pengetahuan yang valid semakin sulit diperoleh. Jika kondisi ini tidak diimbangi dengan kemampuan kritis masyarakat, ruang digital berpotensi merongrong kepercayaan publik terhadap fakta dan otoritas pengetahuan.
Penguatan Literasi Epistemik di Era Digital
Untuk memperkuat kemampuan dalam menilai pengetahuan di era digital, beberapa langkah penting perlu dilakukan. Masyarakat perlu membiasakan diri memeriksa kebenaran informasi dengan menelusuri sumber yang terverifikasi serta membandingkannya dengan sumber lain sebelum mempercayainya.
Literasi digital juga perlu ditingkatkan menjadi literasi epistemik, yakni pemahaman tentang bagaimana pengetahuan diperoleh dan dinilai. Sikap skeptis rasional perlu dikembangkan agar individu mampu meragukan klaim secara sehat, tanpa bersikap emosional. Di sisi lain, setiap individu memiliki tanggung jawab etis untuk tidak menyebarkan informasi yang belum terverifikasi.
Epistemologi sebagai Kerangka Menghadapi Scam Digital
Maraknya scam digital menegaskan bahwa tantangan epistemik di era modern semakin kompleks. Penipuan daring berhasil mengeksploitasi cara manusia memahami pengetahuan, dengan mendorong kepercayaan tanpa pengujian yang memadai. Oleh karena itu, penguatan kesadaran epistemologis menjadi keharusan bagi masyarakat digital.
Dalam konteks ini, filsafat ilmu—khususnya epistemologi—memegang peran sentral. Ia menyediakan kerangka konseptual untuk memahami bagaimana pengetahuan dibangun, diuji, dan dibedakan dari klaim menyesatkan. Dengan berpegang pada prinsip epistemologi, masyarakat dapat merespons fenomena scam digital secara lebih reflektif dan bertanggung jawab, sehingga pengetahuan tetap menjadi fondasi kokoh dalam kehidupan modern.
Penulis: Nadiya Qanita, Mahasiswa semester 1 (IAT) Institut Ilmu Al-Qur’an Jakarta
Tonton podcast Milenianews yang menghadirkan bintang tamu beragam dari Sobat Milenia dengan cerita yang menghibur, inspiratif serta gaul hanya di youtube MileniaNews.













