Milenianews.com, Mata Akademisi – Dalam Rhetorica, teori retorika Aristoteles menekankan tiga elemen persuasi utama yaitu: ethos (kredibilitas pembicara), logos (argumen logis), dan pathos (daya tarik emosional). Untuk memengaruhi audiens secara efektif, ethos membangun kepercayaan, dan logos memberikan bukti rasional. Esai ini, yang ditulis oleh mahasiswi program Komunikasi dan Dakwah, menganalisis penerapan teori tersebut dalam gaya ceramah Dr. H. Fahruddin Faiz, S.Ag., M.Ag., dosen filsafat di UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta. Ini dilakukan melalui channel YouTube Ngaji Filsafat. Sejak 2013, penelitian rutin ini adalah studi kasus ideal untuk dakwah intelektual digital. Ini menggabungkan ide-ide dari Barat (Plato, Nietzsche), Islam klasik (Al-Ghazali), dan masalah modern seperti Pancasila.
Ethics dalam Kejujuran Intelektual : Ethos Aristoteles merujuk pada karakter pembicara yang diyakini melalui kebijaksanaan, keutamaan moral, dan niat baik. Dengan latar belakang akademisnya sebagai profesor filsafat dan sikap rendah hatinya dalam pidatonya, Fahruddin Faiz membangun prinsip yang kuat. Ia sering membuka diskusi dengan kata-kata seperti, “Saya bukan ahli mutlak, mari kita belajar bareng dari perspektif Islam,” yang menghasilkan eunoia (niat baik) dan phronesis (kebijaksanaan praktis).
Logos dalam Argumen Logis dan Silogisme: Filsafat Logos menggunakan deduksi, induksi, dan silogisme untuk menekankan bukti rasional. Di tempat ini, gaya ceramah Dr. Faiz unggul karena strukturnya yang sistematis, termasuk pengenalan konsep filsafat, kritik logis, dan sintesis Islam. Ia menggunakan silogisme dalam videonya yang berjudul “Fahruddin Faiz: Ngaji Filsafat, Tafsir Pancasila” yang dirilis pada tahun 2024, seperti premis mayor (misalnya, filsafat Barat yang reduktif dan ateistik), premis minor (misalnya, “Tuhan mati” dari Nietzsche), dan kesimpulan (misalnya, tauhid Ibn Sina yang lebih komprehensif melalui argumen kosmologis).
Ia membuat argumen yang tidak dapat diragukan lagi dengan mengutip literatur klasik (Republic Plato, Al-Isharat Ibn Sina) dan informasi dari masa lalu. Logo terlihat di “Dr. H. Fahruddin Faiz S.Ag, M.Ag | Ngaji Filsafat” (2024), yang membahas eksistensialisme Sartre, yang menyatakan bahwa absurditas hidup modern dapat direduksi ke solusi Qur’ani. Metode ini sesuai dengan logos Aristoteles, yang dianggap sebagai “bukti intelektual” yang jelas dan proporsional yang relevan bagi audiens yang terdidik.
Pathos dalam Emosi Eksistensial dan Relevansi Kontemporer : Pathos menggerakkan audiens dengan menimbulkan emosi. “Hidup tanpa Tuhan seperti Sisyphus Camus—sia-sia.
Islam beri makna melalui kontemplasi.” Dr. Faiz mahir menyentuh pathos dengan narasi eksistensial yang relevan bagi Generasi Z. Di dalam videonya.
Dalam bukunya yang diterbitkan pada tahun 2025, “FAHRUDDIN FAIZ:GEN-Z PERLU KONTEMPLASI AGAR BAHAGIA”, ia berusaha untuk mendorong orang untuk berempati terhadap kecemasan masa kini dengan menggunakan komedi ringan, cerita pribadi, dan pertanyaan retoris seperti “Mengapa mumet?”.
Pathos dalam kontennya berhasil karena menyasar perasaan khas anak muda:memadukan rasa penasaran intelektual dengan kebanggaan sebagai Muslim. Hasilnya, pemuda termotivasi untuk konsisten dalam beragama (istiqamah).
Contohnya, video “Filsafat Cinta – Jalaluddin Rumi” yang ditonton jutaan kali itu berhasil membangun kedekatan emosional. Caranya dengan mengangkat harapan dan spiritualitas tauhid, sehingga penonton merasa “akhirnya ada yang ngerti perasaan saya” dan sekaligus terdorong secara spiritual.
Dr. Faiz berhasil menggabungkan tiga kunci komunikasi (etika, logika, dan emosi) secara harmonis dalam dakwah digitalnya. Kredibilitasnya membuka pintu kepercayaan, penjelasan logisnya membangun pemahaman, dan sentuhan emosionalnya mendorong aksi spiritual. Formatnya juga disesuaikan dengan platform digital: durasi 1-2 jam, menggunakan visual yang relevan seperti latar masjid, serta membahas topik kekinian seperti pola pikir dan hubungan asmara. Interaksi langsung melalui komentar juga memperkuat keterlibatan penonton. Hasilnya terlihat dari angka: rata-rata videonya ditonton lebih dari 100 ribu kali, dan banyak komentar seperti “akhirnya filsafat jadi mudah dipahami sekaligus menguatkan iman”. Ini menjadi bukti bahwa strategi komunikasinya berhasil persuasif dan berdampak.
| Elemen Retorika | Contoh di Ngaji Filsafat | Dampak pada Audiens |
| Ethos (Kredibilitas) | Dr. Faiz menunjukkan kerendahan hati dan memanfaatkan latar belakangnya sebagai dosen. | Membangun kepercayaan, terutama dari kalangan pemuda perkotaan. |
| Logos (Logika) | Menggunakan penalaran sistematis (silogisme) untuk menghubungkan filsafat dengan ajaran tauhid. | Audiens mendapatkan pemahaman yang lebih rasional dan masuk akal. |
| Pathos (Emosi) | Menyampaikan cerita atau situasi yang relate dengan kegalauan dan pencarian identitas Gen-Z | Menumbuhkan motivasi spiritual dan rasa terdorong untuk lebih dekat dengan agama. |
Baca juga: Penerapan Teori Retorika dalam Kampanye “#SayaPilihBumi” oleh Greenera Indonesia
Dr. Faiz menerapkan teori retorika Aristoteles dengan cerdas dalam ceramahnya. Caranya adalah dengan menyentuh akal lewat argumen logis, menyentuh hati lewat cerita yang menghibur dan relate, serta menunjukkan integritas pribadi yang bisa dipercaya.
Bagi mahasiswa Komunikasi atau Dakwah, ini adalah contoh nyata tentang cara mengadaptasi retorika klasik ke dunia digital. Filsafat digunakan sebagai alat bantu untuk memperdalam iman, bukan untuk menggantikan agama.
Channel Ngaji Filsafat pun menjadi sumber inspirasi penting untuk dakwah intelektual yang cocok dengan generasi milenial.
Penulis: Neng Elis, Mahasiswa Institut Ilmu Al-Qur’an Jakarta.
Tonton podcast Milenianews yang menghadirkan bintang tamu beragam dari Sobat Milenia dengan cerita yang menghibur, inspiratif serta gaul hanya di youtube Milenianews.













