Mata Akademisi, Milenianews.com – Di balik senyuman polos anak-anak di sekolah, tersembunyi potensi ancaman kesehatan yang seringkali tidak terlihat secara kasat mata, yakni cacingan. Mungkin terdengar sepele bagi sebagian orang, namun faktanya penyakit ini dapat menghambat tumbuh kembang anak secara serius.
Di Indonesia, cacingan masih menjadi masalah kesehatan masyarakat, terutama di wilayah dengan sanitasi buruk dan kebersihan yang rendah. Salah satu langkah penting dalam pencegahannya adalah pemberian obat cacing secara berkala, yang kini kerap dilakukan di sekolah-sekolah oleh para guru.
Baca juga: Anak Bukan Sekadar Harapan, Tapi Investasi Terbesar Bangsa
Lebih Dari Sekadar Pil
Namun, kegiatan ini bukan hanya soal membagikan dan meminum pil. Lebih dari itu, guru memainkan peran kunci dalam mengedukasi anak-anak tentang pentingnya kebersihan dan menjaga kesehatan diri.
Sesungguhnya, pencegahan cacingan tidak berhenti pada obat, tetapi harus dilengkapi dengan perubahan perilaku, terutama kebiasaan mencuci tangan.
Cacingan disebabkan oleh infeksi cacing parasit seperti Ascaris lumbricoides (cacing gelang), Trichuris trichiura (cacing cambuk), dan Ancylostoma duodenale (cacing tambang). Cacing-cacing ini masuk ke dalam tubuh manusia, khususnya anak-anak, melalui tanah, makanan, atau air yang terkontaminasi, serta kebiasaan buruk seperti tidak mencuci tangan sebelum makan atau setelah buang air besar.
Dampaknya tidak main-main. Anak yang menderita cacingan cenderung mengalami penurunan nafsu makan, kurang gizi, anemia, gangguan konsentrasi belajar, serta pertumbuhan fisik yang terhambat. Maka, tidak mengherankan jika cacingan disebut sebagai penyakit yang memiskinkan secara perlahan. Di banyak daerah, anak-anak yang seharusnya aktif dan cerdas justru menjadi lemas, mudah sakit, dan tertinggal dalam pelajaran akibat infeksi yang sebenarnya bisa dicegah ini.
Peran Guru dalam Program Pemberian Obat Cacing
Keterlibatan guru dalam program pemberian obat cacing di sekolah bukanlah hal baru. Kementerian Kesehatan RI, melalui kerja sama lintas sektor, telah menggiatkan program Pemberian Obat Pencegahan Massal (POPM) cacing kepada anak usia sekolah setiap enam bulan sekali.
Di sinilah peran guru menjadi sangat vital, sebab perannya bukan hanya menjadi fasilitator pemberian obat, tetapi juga agen perubahan perilaku. Mereka harus menjelaskan kepada anak-anak mengapa obat cacing penting diminum meskipun tidak merasa sakit, bagaimana cacing masuk ke dalam tubuh, apa akibatnya jika terinfeksi cacing, dan yang paling penting, bagaimana cara mencegahnya.
Selain itu, guru juga harus mengajarkan pentingnya kebiasaan mencuci tangan dengan sabun dan air mengalir. Sebuah tindakan sederhana, tapi sangat efektif dalam mencegah penularan cacing.
Cuci Tangan, Kunci Pencegahan Banyak Penyakit
Cacingan bukan satu-satunya penyakit yang bisa dicegah dengan mencuci tangan. Penyakit diare, hepatitis A, infeksi saluran pencernaan, dan bahkan beberapa infeksi pernapasan juga bisa dicegah dengan kebersihan tangan. Sayangnya, tidak semua anak diajarkan cara mencuci tangan yang benar di rumah.
Sekolah menjadi tempat yang strategis untuk membentuk kebiasaan ini. Dengan pendekatan yang tepat, guru bisa membuat praktik cuci tangan menjadi bagian dari budaya sekolah. Guru juga bisa mengajarkan enam langkah mencuci tangan sesuai standar WHO dengan cara yang menyenangkan, seperti melalui lagu, permainan, atau poster edukatif di kelas. Dengan cara ini, anak tidak hanya belajar, tetapi juga memahami dan terbiasa melakukannya.
Meskipun program pemberian obat cacing dan edukasi kebersihan telah digalakkan, kenyataannya tidak semua sekolah memiliki fasilitas sanitasi yang memadai. Banyak sekolah di daerah tertinggal masih kekurangan air bersih yang mengalir dan toilet yang layak. Kondisi ini tentu menghambat proses edukasi kebersihan.
Maka, perlu ada sinergi antara pemerintah, sekolah, dan masyarakat untuk memperbaiki infrastruktur sanitasi dasar. Selain itu, masih ada orang tua yang enggan anaknya diberi obat cacing karena kurangnya pemahaman atau mitos keliru.
Guru kembali dihadapkan pada tantangan untuk meyakinkan orang tua, memberikan edukasi yang benar, dan meluruskan informasi yang salah. Ini bukan tugas mudah, tetapi penting untuk memastikan seluruh anak mendapatkan perlindungan yang sama.
Agar program pemberian obat cacing dan edukasi kebersihan ini efektif, diperlukan dukungan berkelanjutan dari semua pihak, mulai dari pemerintah yang memastikan distribusi obat dan fasilitas sanitasi tersedia di seluruh sekolah, hingga orang tua yang melanjutkan kebiasaan cuci tangan di rumah.
Pendidikan Kesehatan sebagai Investasi Masa Depan
Mengajarkan anak mencuci tangan dan memberikan obat cacing bukan hanya soal mencegah penyakit, tetapi juga menanamkan nilai hidup sehat sejak dini. Di sinilah letak pentingnya peran guru sebagai pendidik dan pelindung kesehatan anak-anak bangsa.
Baca juga: Handphone dan Dunia Anak: Tanggung Jawab Orang Tua di Era Digital
Kita tidak bisa terus membiarkan anak-anak kita menjadi korban penyakit yang seharusnya bisa dicegah. Sudah saatnya kita memandang program pemberian obat cacing bukan sekadar rutinitas sekolah, tetapi sebagai langkah konkret dalam membentuk generasi yang sehat, cerdas, dan kuat.
Karena sesungguhnya, pencegahan cacingan bukan hanya tanggung jawab tenaga kesehatan, tetapi juga tanggung jawab kita semua.
Penulis: Insan Faisal Ibrahim, S.Pd.
Instagram: @innsanfaisal
Profil Singkat: Seorang pendidik berdedikasi yang mengajar di jenjang Madrasah Ibtidaiyah. Selain aktif mengajar, ia juga memiliki hobi menulis yang ia tekuni secara konsisten. Kecintaannya terhadap dunia literasi membuahkan hasil dengan terbitnya beberapa karya tulis, termasuk buku yang telah dipublikasikan. Melalui tulisan-tulisannya, ia berusaha menyampaikan gagasan, nilai-nilai pendidikan, dan inspirasi bagi para pembaca, khususnya generasi muda.
Tonton podcast Milenianews yang menghadirkan bintang tamu beragam dari Sobat Milenia dengan cerita yang menghibur, inspiratif serta gaul hanya di youtube Milenianews.