Gen Z, Data, dan Jalan Sunyi Menuju Karier Masa Depan

Mata Akademisi, Milenianews.com – Pada sebuah ruang coworking di sudut Jakarta, seorang mahasiswa semester akhir tampak serius menatap layar laptopnya. Diagram warna-warni bergerak dinamis, menampilkan tren perilaku konsumen dalam 24 jam terakhir. “Data ini lebih jujur daripada opini siapa pun,” katanya pelan sambil tersenyum. Sepertinya dia bukan analis senior, melainkan bagian dari generasi yang tumbuh dengan notifikasi real-time dan ritme digital yang tak pernah tidur. Dia adalah Geni Z.

Pemandangan seperti ini mungkin terlihat biasa, namun sejatinya menyimpan gambaran besar tentang arah dunia kerja hari ini. Kita hidup dalam era data-driven, saat keputusan bisnis tak lagi bertumpu pada intuisi semata. Perusahaan, dari mulai ritel hingga teknologi, bertumpu pada kemampuan membaca pola, memprediksi pasar, dan mengubah data menjadi strategi. Dan Gen Z, dengan kecakapan digitalnya, berada di posisi paling strategis untuk mengambil peran penting itu.

Baca juga: Cyber University Hadirkan Workshop Data-Driven Marketing dengan KNIME

Di tengah derasnya arus informasi, generasi ini tumbuh dengan kemampuan multitasking, adaptasi cepat, serta kepekaan terhadap perubahan. Mereka terbiasa menavigasi dunia yang serba terhubung. Sehingga tidak heran jika banyak di antara mereka mencari jalur pendidikan yang mampu menggabungkan teknologi dan manajemen. Di titik inilah Program Studi (Prodi) Sistem Informasi hadir sebagai jembatan yang tepat.

Prodi ini bukan sekadar mempelajari komputer atau koding, melainkan cara berpikir. Mengajarkan bagaimana cara melihat data bukan sebagai angka saja, melainkan sebagai cerita tentang perilaku manusia dan arah pasar. Di dalamnya, mahasiswa belajar merancang, mengelola, dan mengoptimalkan sistem berbasis data untuk membantu organisasi atau perusahaan mengambil keputusan yang tepat.

Bagi Gen Z yang kreatif –namun analitis, rasional namun tetap intuitif– bidang ini seperti rumah intelektual yang memadukan dua dunia yakni teknologi yang logis dan bisnis yang strategis.

Lalu, apa yang membuat Sistem Informasi begitu relevan hari ini?

Pertama, peluang karier yang luas dan terus berkembang. Lulusan program ini tidak dibatasi oleh satu sektor. Mereka dapat menjadi business analyst, system analyst, IT consultant, data administrator, hingga project manager. Bahkan, sektor startup, yang menjadi magnet bagi banyak anak muda—sangat membutuhkan talenta yang mampu merangkul data sekaligus memahami dinamika bisnis.

Kedua, kebutuhan perusahaan terhadap talenta data tidak akan surut, bahkan meningkat. Semakin banyak proses bisnis bergantung pada sistem informasi, dari layanan pelanggan hingga pengambilan keputusan strategis. Singkatnya, ini bukan sekadar tren, melainkan transformasi permanen.

Ketiga, Sistem Informasi memberi ruang bagi Gen Z untuk tetap menjadi dirinya sendiri: inovatif, fleksibel, adaptif, dan berorientasi solusi.

Universitas Bina Sarana Informatika (UBSI) termasuk kampus yang membaca kebutuhan ini dengan cepat. Program studi Sistem Informasi di UBSI dirancang untuk selaras dengan kebutuhan industri, mengintegrasikan teknologi informasi, analisis data, dan manajemen bisnis dalam satu kurikulum yang aplikatif. Hasilnya, mahasiswa tidak hanya menguasai sisi teknis, tetapi juga mampu memahami konteks bisnis yang lebih luas.

Fasilitas laboratorium modern menjadi arena eksperimen, tempat ide-ide diuji dan dikembangkan. Dosen profesional memberikan arahan bukan hanya berdasarkan teori, tetapi juga pengalaman lapangan yang relevan. Lebih penting lagi, UBSI memberi kesempatan mahasiswa terlibat dalam project industri nyata, sebuah proses belajar yang jauh lebih berharga daripada sekadar memahami buku teks.

Lingkungan kampus turut membentuk karakter kreatif dan rasa percaya diri yang kuat. Gen Z yang tumbuh di ekosistem seperti ini tidak hanya siap terjun ke dunia kerja, tetapi juga mampu mencetak peluangnya sendiri.

Jika kita melihat lebih jauh, pilihan Gen Z terhadap Sistem Informasi sebenarnya mencerminkan perubahan besar dalam cara generasi ini membangun masa depan. Mereka tidak hanya mencari pekerjaan yang stabil, tetapi pekerjaan yang bermakna, yang memberi ruang inovasi, dan selaras dengan perubahan teknologi.

Di sisi lain, dunia modern sangat membutuhkan talenta yang mampu mengubah data menjadi arah strategis. Perusahaan menghadapi tantangan kompleks: perubahan perilaku konsumen, disrupsi teknologi, dan kompetisi global. Tanpa kemampuan membaca dan memanfaatkan data, perusahaan akan mudah tersingkir.

Gen Z memahami ini. Mereka tidak ingin sekadar menjadi pengguna teknologi, tetapi bagian dari mereka yang membentuk masa depan teknologi.

Baca juga: UT Datangi Masyarakat: Wisata Bahari, Kreativitas Pemuda, dan Harapan Nelayan di Untung Jawa, Kepulauan Seribu

Pada akhirnya, Program Studi Sistem Informasi hadir sebagai pintu yang menghubungkan ambisi Gen Z dengan kebutuhan dunia kerja. Ia menawarkan ruang untuk tumbuh, belajar, bereksperimen, dan berkontribusi dalam ekosistem digital yang terus berkembang. Dengan dukungan fasilitas dan kurikulum UBSI, Gen Z dapat melangkah lebih jauh, tidak hanya sebagai pekerja, tetapi sebagai arsitek masa depan industri berbasis data.

Di era ketika data menjadi kompas baru bagi bisnis, generasi ini memiliki semua modal untuk menjadi nakhoda. Dan mungkin, seperti mahasiswa di ruang coworking itu, mereka akan terus membuktikan bahwa di balik setiap grafik dan angka, selalu ada peluang besar menunggu untuk diwujudkan.

Penulis: Ricki Sastra, M.Kom, Kepala Kampus UBSI kampus Kramat 98 Jakarta

Tonton podcast Milenianews yang menghadirkan bintang tamu beragam dari Sobat Milenia dengan cerita yang menghibur, inspiratif serta gaul hanya di youtube Milenianews.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *