Mata Akademisi, Milenianews.com – Waktu selalu setia merekam perjalan hidup manusia dengan kejadian. Namun untuk membaca kembali kejadian tersebut, kata-kata mesti menjalar melalui tangan manusia sendiri. Ibarat do’a yang selalu hangat dengan harapan para pemuja di hadapan ilahi.
“Ajarkan sastra pada anak-anakmu, agar anak pengecut jadi pemberani.”
-(Umar bin Khattab).
Sangat heroik dan menginspirasi. Namun timbul pertanyaan, bagaimana jika orang tua jua tak mampu membaca apalagi menulis (non pendidikan), ditambah hidup dalam kelas menengah ke bawah? Maka kesimpulannya adalah do’a. Do’a orang tua-lah sebagai cahaya penerang di gelapnya jalan menuju terangnya hidup di masa mendatang.
Dari desa menulis do’a ialah kalimat pembuka dari penulis sebagai ungkapan syukur telah mampu menjamah pendidikan. Terlebih lagi, setelah menciptakan buku yang tentunya masih bayi dalam hal kekaryaan. Penulis berharap akan lebih banyak lagi yang akan terbit kedepannya.
Buku yang berjudul Kecupan Sang Penyair ini hanyalah berisi do’a, secuil harapan yang dimetaforakan keabadian kelak. Alhamdulillah kalau pun berguna. Dengan seksama mari dendangkan gambaran umumnya.
KECUPAN SANG PENYAIR
Buku Kecupan Sang Penyair. Menyampaikan pesan-pesan kehidupan yang syarat akan makna tentang semangat cinta dan perjuangan melalui syair merupakan eksistensi ke-diri-an bagi penulis. Menjabarkan setiap wujud kejadian yang hadir sebagai benalu kebenaran. Tak tanggung-tanggung, keresahan akan terlibat menjelma kata-kata yang menerjang mendekam dengan geram, menjalar seirama gelombang metafora. Mimpi akan kebenaran menjadi titik yang dirindukan kenyataannya, meninggalkan banyak belenggu dari harapan-harapan yang hampir berlalu. Akankah keterpurukan hidup senantiasa menjadi sandiwara dalam tubuh perasaan yang tumbuh bersama ego tanpa resah, tanpa perlu apa-apa?
Atas nama cinta, menjunjung tinggi kejumudan dalam bingkai hubungan kasih sayang, kadang kala penyesalan menjajah perilaku dan berujung perbudakan. Dalam dekap romantika, orang-orang berlalu layaknya ayunan kaki yang mengejar keinginan tanpa tahu dalil kemanusiaan. Banyak yang gemar mengeja semesta dengan kesenangan tanpa harus peduli maksud dari ungkapan Sang Sunyi pemilik aksara langit. Kata-kata hadir sebagai jembatan kebenaran yang bergerak dengan keresahan penulis. Walau bahasa kadang terlihat mempesona tapi cakrawala nalar harus mendobrak kebatilan-kebatilan melalui benturan-benturan sunyi agar syair menjadi bunyi-bunyi kecupan perlawanan.
Baca Juga : Pandemi Bernada Sumbang
Kecupan Sang Penyair adalah sebuah karya sastra naratif yang lahir dari dimensi perjalanan hidup penulis dengan narasi-narasi yang bernuansa aliran romantika yang dipadukan dengan aliran satire. Bahasa yang cukup berkeringat dingin dan begitu sederhana menghalau kesuraman berfikir. Ungkapan syair berangkat dari kondisi kehidupan sosial, latar belakang, pemahaman dan pengalaman pribadi, di sisi lain bermula pada perjalanan romantisme penulis itu sendiri.
Begitu banyak orang yang terlena dengan keadaan, kata-kata cukup dijadikan sebagai alat eksploitasi di antara pahit manisnya kehidupan. Mestinya kata-kata dirakit sebagai gerakan keseimbangan hidup dalam mewujudkan kebahagiaan bersama.
Maka dari itu, penulis tertarik bercengkrama dengan kenyataan melalui bahasa sunyi “Kecupan Sang Penyair”.
Salam Syahdu!!!
Iwan Mazkrib, Penulis Buku “Kecupan Sang Penyair”.