Aksiologi dan Aliran Etika sebagai Kompas Moral di Era Modern

Aksiologi Etika

Milenianews.com, Mata Akademisi — Aksiologi sebagai cabang filsafat yang mempelajari nilai memiliki peran penting dalam membimbing manusia menentukan standar kebaikan dan tujuan tindakan. Dalam kajian etika, aksiologi melahirkan beberapa aliran utama yang berfokus pada sumber nilai moral, di antaranya hedonisme, utilitarianisme, deontologi, dan pragmatisme.

Di era modern, manusia dihadapkan pada beragam pilihan dalam kehidupan sehari-hari, baik yang berkaitan dengan kesenangan pribadi, tanggung jawab sosial, maupun pemanfaatan teknologi. Keempat aliran filsafat tersebut menawarkan panduan berpikir dan bertindak yang berbeda. Oleh karena itu, pemahaman terhadap aliran-aliran ini menjadi penting dalam membentuk kompas moral agar setiap tindakan tetap bijak, etis, dan bermanfaat bagi diri sendiri maupun masyarakat.

Hedonisme: Kesenangan sebagai Nilai Utama

Hedonisme berasal dari bahasa Yunani hedone yang berarti kenikmatan atau kesenangan. Aliran ini berpandangan bahwa kesenangan dan kebahagiaan merupakan satu-satunya nilai intrinsik serta tujuan utama kehidupan manusia. Bagi penganut hedonisme, aktivitas seperti bersenang-senang, pesta pora, dan pelesiran dipandang sebagai tujuan hidup, terlepas dari dampaknya terhadap orang lain.

Dalam konteks era modern, hedonisme tercermin dari kecenderungan masyarakat mengejar kesenangan instan dan kenyamanan pribadi. Fenomena Fear of Missing Out (FOMO) yang marak di media sosial mendorong banyak orang merasa harus selalu mengikuti tren agar tidak dianggap tertinggal. Akibatnya, gaya hidup konsumtif seperti membeli barang trending, berlibur demi konten, atau menjalani kehidupan mewah di luar kemampuan kerap terjadi.

Pada akhirnya, orientasi hidup semacam ini sering kali lebih didorong oleh kebutuhan akan pengakuan sosial dibandingkan kebutuhan nyata. Dampaknya tidak hanya merugikan individu, tetapi juga memperlebar kesenjangan sosial, di mana kelompok yang kuat secara ekonomi semakin diuntungkan, sementara yang lemah semakin tertinggal.

Utilitarianisme: Manfaat bagi Sebanyak Mungkin Orang

Utilitarianisme berasal dari kata utility yang berarti kegunaan atau manfaat. Aliran ini menilai bahwa suatu tindakan dianggap benar apabila menghasilkan manfaat terbesar bagi jumlah orang yang paling banyak. Nilai moral tindakan diukur dari seberapa besar kebahagiaan yang dihasilkan dan sejauh mana penderitaan dapat dikurangi.

Dalam kehidupan kampus, prinsip utilitarianisme dapat dilihat pada kebijakan pemberian beasiswa. Ketika dana terbatas, pihak kampus perlu menentukan strategi agar manfaatnya optimal, misalnya dengan memprioritaskan mahasiswa yang berpotensi putus kuliah. Dengan cara ini, sumber daya yang terbatas dapat memberikan dampak sosial yang lebih luas.

Agar kebijakan tersebut benar-benar efektif, mahasiswa penerima beasiswa dituntut memiliki kompas moral yang baik. Kejujuran dalam mengisi data, penggunaan dana sesuai tujuan, serta komitmen menjaga prestasi menjadi bagian penting agar manfaat beasiswa dapat dirasakan secara maksimal oleh individu maupun lingkungan kampus.

Baca juga: Qirā’at QS. Al-Ahzab: 33 dan Ruang Karir Perempuan dalam Perspektif Matan Syatibi

Deontologi: Kewajiban Moral di Atas Konsekuensi

Deontologi berasal dari kata Yunani deon yang berarti kewajiban. Aliran ini menekankan bahwa nilai moral suatu tindakan terletak pada kewajiban dan prinsip moral itu sendiri, bukan pada akibat yang ditimbulkan. Dengan demikian, tindakan dianggap benar karena memang seharusnya dilakukan, meskipun berpotensi menimbulkan konsekuensi yang tidak menyenangkan.

Di era modern, tantangan deontologis semakin kompleks, terutama dalam penggunaan teknologi seperti kecerdasan buatan (AI). AI dapat membantu proses akademik, namun juga membuka peluang pelanggaran etika, seperti menyontek atau mengklaim karya AI sebagai hasil pribadi.

Mahasiswa yang berpegang pada prinsip deontologi akan tetap menjunjung kejujuran akademik. Teknologi dimanfaatkan sebagai alat bantu belajar, bukan sebagai jalan pintas yang merusak integritas. Dengan kompas moral yang kuat, pemanfaatan teknologi dapat tetap sejalan dengan nilai etika dan tanggung jawab akademik.

Pragmatisme: Kebenaran Berdasarkan Manfaat Praktis

Pragmatisme berasal dari kata Yunani pragma yang berarti tindakan. Aliran ini memandang bahwa kebenaran suatu gagasan ditentukan oleh manfaat praktisnya dalam kehidupan nyata. Sesuatu dianggap benar apabila terbukti berguna dan dapat diterapkan secara konkret.

Transportasi daring seperti Gojek, Grab, dan layanan sejenis menjadi contoh nyata pragmatisme di era modern. Nilai kebenarannya diukur dari kemudahan yang dirasakan masyarakat, seperti efisiensi waktu, kemudahan mobilitas, serta peluang kerja bagi pengemudi.

Selain memberikan manfaat praktis, sistem transportasi daring juga menawarkan fleksibilitas dan solusi bagi berbagai kebutuhan sehari-hari. Namun demikian, penggunaan layanan ini tetap memerlukan kompas moral, seperti bersikap jujur, menghargai pengemudi, mematuhi aturan, dan tidak menyalahgunakan fasilitas yang tersedia.

Aksiologi sebagai Kompas Moral di Era Modern

Dari keempat aliran tersebut dapat disimpulkan bahwa masing-masing memiliki nilai aksiologis yang mengarahkan tindakan manusia. Hedonisme menekankan kesenangan pribadi, utilitarianisme menekankan manfaat kolektif, deontologi menekankan kewajiban moral, sementara pragmatisme menekankan kegunaan praktis.

Dalam konteks kehidupan modern yang kompleks, aliran-aliran ini berfungsi sebagai kompas moral untuk membantu manusia bertindak secara bijak, bertanggung jawab, dan berorientasi pada kemaslahatan. Dengan pemahaman aksiologi yang baik, setiap individu diharapkan mampu menimbang nilai di balik setiap pilihan, sehingga tindakan yang diambil tidak hanya menguntungkan secara pribadi, tetapi juga bermanfaat bagi masyarakat luas.

Penulis: Nasywa Fadila Hanifa, Mahasiswa Semester 1 (IAT), Institut Ilmu Al-Qur’an (IIQ) Jakarta

Tonton podcast Milenianews yang menghadirkan bintang tamu beragam dari Sobat Milenia dengan cerita yang menghibur, inspiratif serta gaul hanya di youtube MileniaNews.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *