Uzbekistan, Jalur Sutera yang Hidup di Pasar dan Sepiring Plov

Oleh: Dr. Ir. Wahyu Saidi, MSc, seorang Entrepreneur, Peminat dan Penikmat Kuliner

Milenianews.com – Uzbekistan adalah negara dengan lebih dari 94 persen penduduknya beragama Islam, bahkan secara persentase lebih tinggi dibanding Indonesia. Dari negeri ini lahir ulama besar seperti Imam Bukhari dan Imam At-Tirmidzi pada abad ke-9 Masehi, yang hingga kini hadisnya menjadi rujukan umat Islam di seluruh dunia.

Negara di Asia Tengah ini sejak lama menjadi simpul penting perdagangan, peradaban, dan keilmuan Islam. Uzbekistan berdiri di jalur perdagangan legendaris yang dikenal sebagai Silk Road, jalur yang menghubungkan Timur dan Barat selama berabad-abad.

Perjalanan dimulai dari Tashkent, ibu kota sekaligus gerbang utama menjelajahi Asia Tengah. Kota ini menampilkan wajah modern dengan jejak sejarah yang masih terasa kuat. Jalan-jalan lebar, taman kota yang tertata rapi, serta trotoar yang nyaman berdampingan dengan masjid, madrasah, dan bazar tradisional.

Baca juga: Tashkent, Kota Tua Islam yang Bangkit Lagi dari Warisan Jalur Sutra ke Wajah Modern Uzbekistan

Selain nilai religius, Tashkent juga menyimpan kekayaan budaya yang terasa hidup. Salah satu titik pentingnya adalah Chorsu Bazaar, pasar tradisional yang telah ada sejak masa Jalur Sutera. Tempat para pedagang dari berbagai wilayah Asia dan Timur Tengah bertemu, bertransaksi, dan membawa budaya masing-masing.

Di kota ini pula kuliner Asia Tengah terasa begitu dekat—nasi dan daging menjadi pusatnya. Pengaruh tradisi nomaden berpadu dengan budaya Persia, China, Rusia, dan Timur Tengah, menciptakan hidangan yang kaya rasa, sederhana, namun mengenyangkan.

Pasar tradisional dan cerita dari balik bahan makanan

bahan makanan

Mengunjungi pasar tradisional adalah cara paling cepat memahami suatu budaya. Di Chorsu Bazaar, suasana hidup terasa dari setiap sudutnya.

Bangunan pasar dinaungi kubah raksasa berwarna biru, arsitektur era Uni Soviet tahun 1980-an yang melindungi aktivitas perdagangan yang usianya jauh lebih tua.

Lorong pertama dipenuhi roti tradisional Uzbekistan, non. Bentuknya bulat dengan bagian tengah berpola, ditumpuk rapi seperti karya seni. Bagi masyarakat lokal, roti ini bukan sekadar makanan, tetapi simbol keberkahan dan penghormatan kepada tamu.

Berpindah ke area rempah, mata disambut tumpukan warna-warni yang ditata seperti palet lukisan. Merah paprika, kuning kunyit, cokelat jintan, hingga hijau rempah kering tersusun rapi. Tidak hanya estetis, tetapi juga menunjukkan kualitas dan kesegaran.

Jintan menjadi bumbu utama yang paling dominan, terutama untuk hidangan khas seperti plov. Aroma rempah yang dihaluskan langsung di tangan pedagang memberikan pengalaman yang tidak bisa didapat di tempat lain.

Di bagian lain, area daging dan produk susu tradisional tak kalah menarik. Potongan daging sapi dan domba tersusun rapi di atas meja marmer putih. Di sisi lain tersedia qatiq, yoghurt lokal dengan rasa asam segar, serta qurut—bola kecil susu fermentasi yang dikeringkan, gurih dan tahan lama, cocok untuk perjalanan panjang ala masyarakat nomaden.

Ada juga daging kuda, yang umum dalam kuliner Uzbekistan. Salah satu olahannya adalah kazy, sosis daging kuda berbumbu jintan dan lada. Hidangan ini tergolong mewah dan biasanya hadir dalam perayaan besar seperti pernikahan.

Sashlik, Plov, dan “pelanggaran” yang mengenyangkan

kazy

Menjelang siang, aroma panggangan mulai mendominasi pelataran pasar.

Sashlik, sate khas Uzbekistan, tersusun di atas panggangan besi. Potongan daging besar diselingi lemak yang perlahan meleleh saat dibakar, menciptakan aroma gurih yang sulit ditolak. Satu porsi disajikan di atas roti non hangat, dilengkapi irisan bawang bombai dengan cuka dan taburan sumac.

Tak jauh dari sana, plov—hidangan nasi khas Uzbekistan—dimasak dalam kuali besi raksasa. Nasi dimasak bersama daging, wortel, dan rempah hingga menghasilkan rasa yang kaya dan padat.

Baca juga: Bukares, Kota Tua yang Elegan dan Sepiring Orez cu Legume yang Menghangatkan

Secara tradisi, plov adalah hidangan utama yang sudah lengkap, sementara sashlik lebih dianggap sebagai camilan berat. Mengonsumsi keduanya bersamaan dianggap berlebihan—terlalu berat bagi lidah dan perut.

Namun di meja sederhana di tengah bazar, keduanya tetap tersaji berdampingan. Plov hangat, sate domba yang gurih, roti non sebagai pelengkap, serta teh hijau panas dalam cangkir kecil—kombinasi yang sederhana tapi memuaskan.

Di tengah hiruk-pikuk pasar, aturan kuliner terasa sedikit longgar. Jalur Sutera sejak dulu memang bukan hanya tentang perdagangan barang, tetapi juga pertemuan budaya—termasuk cara makan.

Dan di Tashkent, warisan itu masih terasa. Hidup, nyata, dan bisa dinikmati dalam setiap suapan.

Tonton podcast Milenianews yang menghadirkan bintang tamu beragam dari Sobat Milenia dengan cerita yang menghibur, inspiratif serta gaul hanya di youtube MileniaNews.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *