Oleh: Dr. Ir. Wahyu Saidi, MSc, seorang Entrepreneur, Peminat dan Penikmat Kuliner
Milenianews.com – Ia membentang ribuan kilometer, melintasi gunung, lembah, dinasti, dan catatan sejarah. Sebuah megakarya manusia yang mengagumkan, tetapi juga jejak ambisi kekuasaan yang mungkin pernah menebarkan ketakutan dan pengorbanan. Susunan batanya menyimpan keringat pekerja, derap prajurit, dan ambisi para kaisar.
Tembok Besar China membentang sepanjang 21.196 kilometer. Hampir dua kali bolak-balik jika dibandingkan jarak Sabang–Merauke. Dibangun bertahap dari abad ke-7 sebelum masehi hingga abad ke-17, lintas dinasti dan lintas milenium. Berdiri di hadapannya, saya merasa kecil dan terpana. Warisan budaya dan destinasi wisata ini sekaligus menjadi penanda bagaimana kekuasaan berusaha mempertahankan diri.
Di dalamnya terkandung teknologi konstruksi, manajemen manusia dalam skala raksasa, strategi militer, dan ketekunan luar biasa. Dalam perjalanan ke utara China, saya merasa perlu datang ke sini. Ini simbol peradaban manusia yang begitu populer, situs Warisan Dunia UNESCO, sekaligus cara untuk memahami China masa lalu dan masa kini. Tembok melewati lembah dan pegunungan di wilayah empat musim, setiap musim menawarkan nuansa yang berbeda.
Baca juga: Shanghai ke Beijing, Melaju di Rel 300 Kilometer per Jam
Masuk melalui Gerbang Mutianyu

Bus yang menunggu di halaman hotel berangkat tepat pukul 08.00. Bus pariwisata yang nyaman, kursinya empuk dengan susunan 2-1, tersedia colokan listrik dan lampu baca. Saya duduk di deretan depan, kursi dengan meja lipat kecil yang memungkinkan membuka laptop atau menulis.
Bus melaju meninggalkan Beijing. Gedung-gedung tinggi perlahan tertinggal, digantikan area pedesaan yang semakin jarang bangunan. Tepi jalan dipenuhi lahan hijau dan perdu pepohonan. Bukit mulai terlihat di kejauhan. Lanskap China utara masih hijau dan terjaga.
Kami menuju Mutianyu, salah satu sektor populer untuk mengunjungi Tembok Besar. Menurut pemandu, sektor ini mudah dijangkau, masih mempertahankan struktur asli Dinasti Ming, dan relatif aman untuk didaki. Ada sektor Jiankou yang lebih liar dan menantang, cocok bagi pencinta petualangan alam. Ada juga Badaling yang lebih modern dan padat turis karena renovasi besar-besaran. Mutianyu berada di antara keduanya, lebih tenang.
Setelah sekitar satu setengah jam, bus tiba di area parkir. Udara pegunungan terasa segar. Kami pindah ke bus transit internal yang membawa kami ke pelataran gerbang utama. Tiket berbentuk kartu elektronik dibagikan. Pemandu memberi arahan singkat tentang jalur naik, titik tertinggi, waktu kembali, dan area belanja.
“Tiga jam lagi kita bertemu kembali di parkir bus,” katanya.
Di atas Tembok Besar

Saya menuju stasiun kereta kabel. Dari bawah, Tembok Besar sudah terlihat memanjang di punggung bukit. Gondola bergerak naik turun tanpa henti. Sekitar 70 persen kapsulnya kaca transparan, bahkan sebagian lantainya juga kaca, memberi pandangan luas ke hutan di bawah.
Naik kereta kabel menghemat tenaga, cocok untuk keluarga atau yang membawa lansia. Begitu tiba di atas, saya berjalan sedikit dan menaiki tangga batu. Dan akhirnya, saya berdiri di atas Tembok Besar China.
Tembok memanjang sejauh mata memandang, sebagian menurun ke lembah, sebagian menanjak mengikuti kontur bukit. Tingginya rata-rata sekitar delapan meter, meski tidak seragam. Bagian atasnya lebar, mencapai lima meter. Secara teknis, ini lebih tepat disebut bangunan pertahanan daripada sekadar tembok.
Bagian ini dibangun pada era Dinasti Ming, menggunakan batu granit sebagai fondasi dan batu bata bakar sebagai pelapis. Dibandingkan sektor yang lebih tua, konstruksinya lebih modern. Di kiri dan kanan terdapat dinding setinggi sekitar dua meter dengan celah-celah kecil untuk pengintaian dan memanah.
Secara historis, bagian atas tembok ini bisa dilalui sepuluh prajurit berbaris atau empat kuda sekaligus. Ia bukan hanya benteng pertahanan, tetapi juga jalur mobilisasi pasukan.
Mutianyu berada pada ketinggian sekitar 1.039 meter di atas permukaan laut, hampir setara dengan kawasan Puncak di Jawa Barat. Tak heran udaranya terasa lebih dingin.
Tentang waktu dan ketekunan

Sambil beristirahat di pelataran, saya membayangkan proses pembangunan yang berlangsung lebih dari seribu tahun, melewati dinasti yang kadang saling bermusuhan. Namun, satu hal tetap sama: semua merasa tembok ini diperlukan.
Ide awalnya sederhana tetapi visioner. Tembok dibangun agar generasi berikutnya terlindungi dari ancaman di utara. Sebuah gagasan yang diwariskan lintas generasi dan lintas kekuasaan.
Pencapaian luar biasa ini lahir dari kumpulan batu kecil yang disusun dengan tekun dan konsisten. Tidak ada gunung yang diratakan. Tembok mengikuti kontur alam, menyesuaikan diri dengan punggung bukit dan lereng gunung. Fokusnya satu: pertahanan.
Pada awalnya, tembok dibangun dari tanah yang dipadatkan, kayu, dan jerami kering. Kemudian digunakan batu granit dan batu bata bakar. Salah satu inovasi penting adalah perekat yang terbuat dari beras ketan. Campuran ini menghasilkan semacam semen organik yang sangat kuat.
Baca juga: Masjid Kowloon: Jejak Muslim di Jantung Hong Kong
Ketika kita makan ketan dan jari terasa lengket, sesungguhnya kita sedang menyentuh prinsip perekat yang sama yang digunakan dalam pembangunan Tembok Besar. Itulah inovasi pada zamannya.
Dalam perjalanan pulang ke Beijing, pikiran saya dipenuhi banyak hal. Tembok Besar bukan hanya tentang panjang dan megahnya bangunan, tetapi tentang visi jangka panjang, ketekunan, dan kemampuan manusia membangun sesuatu yang melampaui satu generasi.
Great Wall mengajarkan bahwa peradaban besar tidak dibangun dalam satu malam, tetapi oleh kesabaran, konsistensi, dan keyakinan bahwa masa depan layak diperjuangkan.
Tonton podcast Milenianews yang menghadirkan bintang tamu beragam dari Sobat Milenia dengan cerita yang menghibur, inspiratif serta gaul hanya di youtube MileniaNews.







