Milenianews.com – Travelling ke Penang dan kulineran—seru, daya jelajahnya luas, pilihannya banyak, dan hampir semuanya enak. Di Penang kita bisa bertemu makanan dengan pengaruh Tiongkok, tidak hanya dari Hokkien, tetapi juga Teochew dan Cantonese. Ada laksa, char kway teow, ngo hiang, hingga kway teow th’ng. Dari Asia Selatan—anak benua India, Pakistan, dan Bangladesh—hadir nasi kandar yang sudah menjadi ikon nasional, nasi goreng mamak, serta roti Benggali. Kedekatan dengan India dan dunia Arab menghadirkan roti canai, roti prata, dan murtabak dengan kuah kari kental.
Thailand yang jaraknya tidak jauh dari Penang turut menyumbang tom yam Penang, masakan Thai yang telah dilokalkan. Pengaruh Eropa, baik masa lalu maupun masa kini, juga terasa kuat. Apalagi kafe dan kopi sudah menjadi tujuan populer, sehingga dikenal kopi tiam, bread toast, butter cake Penang, dan srikaya toast.
Baca juga: Dili, Ibu Kota Timor Leste yang Tenang dan Penuh Jejak Sejarah
Tentu tak boleh lupa pengaruh Melayu. Kuliner ini sangat dekat dengan Sumatra Timur, Medan, dan Riau. Di setiap sudut Penang, kita bisa menjumpai nasi lemak, sate Penang, ais cendol, dan ais kacang merah. Percampuran kuliner berlatar beragam bangsa inilah yang membuat Penang kerap disebut sebagai titik pertemuan cita rasa dunia. Kini Penang dikenal sebagai heritage food city, kota yang menjadikan makanan sebagai warisan budaya. Ia memiliki kumpulan kuliner tradisional unik yang menjadi bagian dari identitas sejarah dan budaya kehidupan sosial masyarakat, mencakup resep kuno, teknik memasak tradisional, serta cara penyajian khas.
Pulau Penang, atau secara resmi Negeri Pulau Pinang, merupakan salah satu negeri di Malaysia. Wilayahnya terdiri atas Pulau Penang seluas sekitar 233 km² dan daratan di Semenanjung Malaysia yang luasnya hampir tiga kali lipat. Di Pulau Penang terdapat Kota George Town yang sekaligus menjadi ibu kota. Sejak 2008, George Town ditetapkan sebagai Situs Warisan Dunia UNESCO karena nilai sejarah, budaya, dan arsitekturnya yang luar biasa sebagai contoh hidup kota pelabuhan multikultural di Asia Tenggara yang masih terawat.
George Town, Penang, dan Melaka merupakan dua pelabuhan penting dalam perdagangan maritim dunia sejak abad ke-15 hingga ke-19. Kawasan ini menjadi ruang interaksi budaya Barat dan Timur selama lebih dari 500 tahun—titik temu para pelaut Melayu, Tionghoa, India, Arab, Eropa, hingga Siam—yang melahirkan budaya campuran khas.
Jejak pertukaran Timur dan Barat masih terawat hingga kini. Di kawasan kota tua berdiri berdekatan Masjid Kapitan Keling dengan sentuhan India Selatan, Kuil Kek Lok Si bernuansa Tiongkok, Gereja St. George peninggalan Inggris, serta Kuil Hindu Sri Mahamariamman. George Town masih mempertahankan lebih dari 5.000 bangunan bersejarah berarsitektur unik: mansion kolonial Inggris, shophouse dua lantai bergaya Tionghoa-Eropa, hingga clan houses atau rumah marga Tionghoa. Tradisi keramaian seperti Festival Thaipusam, Hungry Ghost Festival, Deepavali, Tahun Baru Imlek, dan Idulfitri masih rutin dirayakan setiap tahun.
Chew Jetty dan Hokkien Mee, mi dengan topping udang

Menjelajahi Pulau Penang rasanya belum lengkap tanpa singgah ke Chew Jetty. Ini adalah perkampungan kayu tradisional di tepi laut yang juga menjadi bagian dari warisan UNESCO. Chew Jetty merupakan satu dari enam jetty yang didirikan oleh imigran Tionghoa generasi awal di Penang. Mereka membangun permukiman di atas tiang-tiang kayu yang ditancapkan ke laut. Jetty menjadi pusat aktivitas warga: dermaga untuk berdagang, bertukar barang, dan menambatkan perahu kecil sebagai sarana transportasi.
Menjelang sore, udara Penang bersahabat. Angin laut berhembus lembut membawa aroma asin. Melangkah ke arah laut, suasana klasik perkampungan Tionghoa semakin terasa. Lampion-lampion bergambar naga tergantung, tempat sembahyang terlihat di deretan rumah tua di kiri-kanan panggung. Beberapa rumah menjual makanan kecil dan suvenir di terasnya.
Chew Jetty bukan sekadar perkampungan biasa. Di sini kita bisa melihat perjalanan sejarah komunitas Tionghoa di Penang. Arsitektur kayu yang mendominasi menghadirkan kesan nostalgia, sekaligus pengingat bahwa memulai hidup di Penang dahulu bukan perkara mudah. Mungkin sebagian keturunan imigran kini telah memiliki rumah atau apartemen di kawasan lain, tetapi jetty ini tetap dipertahankan nyaris tanpa perubahan, seolah waktu berhenti berputar. Dengan latar Selat Malaka yang tenang dan bayang kota modern di seberang, jetty menjadi tempat ideal menikmati senja dan berfoto.
Di area jetty terdapat food court. Saya melihat menu char kway teow—kway teow berarti mi pipih, char berarti goreng—yakni mi goreng cepat di atas wok panas dengan api besar, sehingga asap masih mengepul saat disajikan. Ada pula asam laksa, kuliner ikonik Penang dengan kuah asam pedas dari tamarind, bukan santan, hasil perpaduan Tionghoa-Melayu. Kunjungan ke jetty saya tutup dengan semangkuk Penang Hokkien Mee, mi berkuah dengan topping udang utuh sehingga sering disebut prawn mee. Hidangan ini berasal dari komunitas Hokkien asal Fujian, Tiongkok, sebelum melebur menjadi kuliner khas Penang.
Cendol Penang Road

Inilah kuliner legendaris Penang yang telah hadir sejak 1936: Taochew Cendol Penang Road, juga dikenal sebagai Penang Road Famous Taochew Chendul. Tegukan pertama langsung menyegarkan. Manis gula Melaka berpadu dengan gurih santan, aroma pandan, dan tekstur cendol yang kenyal halus. Tidak terlalu manis—cocok juga untuk usia senior. Menikmatinya serasa menjadi bagian dari Penang masa lalu: resep yang sama, tempat yang sama, dan semangat yang tak berubah.
Saya memasuki sebuah gang kecil dan berdiri di antara antrean panjang pembeli. Udara panas dan hiruk-pikuk kota membuat rasa haus meningkat saat melihat mangkuk-mangkuk cendol yang dinikmati mereka yang lebih dulu mendapat giliran. Santan segar dituangkan ke mangkuk plastik hijau, ditambahkan cendol—berbeda dengan cendol Jakarta karena di sini dibuat dari tepung kacang hijau dengan warna hijau pucat—lalu kacang merah, disiram gula Melaka kental, dan ditutup es serut halus menggunung. Cendol pun tersaji, menaklukkan panas tropis Penang dengan kesejukan yang nyaris surgawi.
Penang Road di George Town adalah jalan besar yang nyaris tak pernah tidur. Jejak kolonial masih terasa melalui deretan ruko bergaya Anglo-Tionghoa, jendela kayu tinggi, ornamen Tionghoa, serta papan nama toko dalam aksara Tionghoa, Melayu, dan Inggris. Tidak ada gedung pencakar langit di sini. Di pertengahan jalan terdapat Lebuh Keng Kwee, gang kecil tempat Taochew Cendol dijajakan. Kursi terbatas, tak lebih dari 20, sehingga banyak pengunjung—termasuk saya—menikmati cendol sambil berdiri.
Inilah koridor kuliner Penang yang terkenal. Panjangnya hanya sekitar 200 meter, tetapi dipenuhi puluhan gerai makanan: asam laksa, roti canai, nasi kandar, kway teow, dan lainnya. Gang ini tetap hidup hingga malam, ketika lampu-lampu toko menyala, balkon kayu menghadirkan nuansa masa lalu, mural menjadi latar swafoto wisatawan, dan penjual cendol mungkin menyiapkan mangkuk terakhir hari itu.
Sup Kambing Penang

Matahari Penang tetap garang—maklum wilayah tropis. Saya yang berasal dari Jakarta sudah terbiasa. Seorang teman lokal mengajak menikmati kuliner kelas berat yang terkenal: Sup Hameed, sup kambing ala Melayu-India Muslim. Tempat ini telah populer sejak lebih dari 30 tahun lalu dan berlokasi di Penang Road, pusat kota. Saya datang saat makan siang, ketika rumah makan sedang ramai.
Panci-panci besar mengepul di dapur terbuka. Seorang mamak tua mengaduk kuah dengan sendok besi panjang di bawah kipas angin tua yang berputar malas. Saya memilih meja dekat dapur agar bisa menyaksikan aktivitas. Pelayan datang sigap bertanya, “Mau sup apa, bos—daging, ekor, atau torpedo?”
Sup ini merupakan sup kambing mamak yang mengakar kuat di Penang, memadukan teknik dan bumbu India dengan rempah lokal. Menu favorit tentu sup kambing. Ada pula sup daging sapi, ekor kambing, dan yang paling kontroversial—sup torpedo, berbahan alat kelamin kambing jantan. Hidangan ini juga dikenal di Indonesia; saya teringat warung sate legendaris di sekitar Stasiun Bandung yang menyajikannya.
Baca juga: Mumbai: Kota Kontras, dari Kemewahan hingga Hening di Haji Ali Dargah
Percakapan multibahasa terdengar di sekeliling—Tamil, Melayu, Mandarin. Saat sup kambing panas tersaji, aroma kaldu dan rempah langsung menyergap. Potongan dagingnya melimpah, empuk, sebagian terlepas dari tulang. Kuah Sup Hameed berwarna cokelat gelap, kaya rasa, gurih, dan sedikit pedas. Sup disantap dengan roti Benggali yang tebal dan sedikit asam, langsung lembut di mulut. Kehangatan kuah menyebar, mengenyangkan sekaligus menambah tenaga. Di meja sebelah, dua turis asing tampak terpana ketika sup torpedo dihidangkan—menambah hangat suasana.
Sup Hameed bukan sekadar tempat makan enak. Di sini saya melihat potongan kecil sejarah percampuran budaya yang bertemu dalam semangkuk rasa. Segelas teh tarik panas menjadi penutup yang pas. Manisnya berbuih tebal memberi sensasi tersendiri, membuat udara malam terasa lebih segar. Saat meninggalkan meja, bukan hanya perut yang kenyang, tetapi juga hati yang hangat dan lapang.
Kontributor: Dr. Ir. Wahyu Saidi, MSc, seorang Entrepreneur, Peminat dan Penikmat Kuliner
Tonton podcast Milenianews yang menghadirkan bintang tamu beragam dari Sobat Milenia dengan cerita yang menghibur, inspiratif serta gaul hanya di youtube MileniaNews.









