Milenianews.com – Kopenhagen, Denmark, dari kacamata penduduk Jakarta, tak jauh dari gambaran umum kota-kota Skandinavia: tertib, tenang, dan penuh pesona. Kesan itu langsung terasa sejak tiba di Bandara Kopenhagen—keluar dari pintu terminal kedatangan setelah menyelesaikan imigrasi dan mengambil bagasi.
Melangkah ke luar terminal pada malam musim dingin, seolah memasuki dunia baru. Bandara tampak terang dan bersih, udara dingin terasa menusuk, sementara gerak langkah masyarakat terlihat tenang dan disiplin. Sesuai rekomendasi seorang teman, saya menuju kereta regional DSB yang menghubungkan bandara dengan Stasiun Sentral. Perjalanan hanya sekitar 15 menit. Tak lama kemudian, saya tiba di Stasiun Sentral Kopenhagen—titik awal perjalanan di Denmark.
Kereta dari bandara tiba di peron bawah tanah. Begitu turun, udara musim dingin langsung menyambut, tentu sangat berbeda dengan udara tropis Jakarta—meski untuk urusan kereta bandara, Jakarta tak kalah. Saya melangkah mengikuti arus penumpang menyusuri koridor menuju pintu keluar stasiun.
Baca juga: 8 Jam di Polandia: Singgah di Kotanya Lech Wałęsa
Saat tiba di hall utama, saya cukup terpana. Lobi stasiun ternyata luas dan apik. Interiornya didominasi gaya klasik Skandinavia, dengan langit-langit kayu dan lantai bata merah yang tidak terkesan kuno, justru tetap modern. Suasananya tenang dan tidak bising. Hari masih pagi, dan karena musim dingin, matahari hanya tampak sebagai bayangan merah di balik jendela stasiun.
Stasiun utama, pusat perjalanan Kopenhagen

Nama resmi stasiun ini adalah København H, yang berarti Stasiun Utama. Inilah stasiun terbesar di Denmark. Berdasarkan informasi resmi, stasiun ini bukan hanya pusat transportasi, tetapi juga destinasi wisata sekaligus landmark kota yang memiliki jejak sejarah panjang.
Dari stasiun ini, penumpang dapat menaiki kereta antarnegara menuju Jerman, lalu meneruskan perjalanan ke Belanda, Prancis, dan negara-negara Eropa lainnya. Jalur ke Stockholm, Swedia, juga tersedia dengan menyeberangi Øresund—jembatan panjang yang membelah laut. Stasiun ini dibuka pada tahun 1911. Dari halaman luarnya yang luas, terlihat perpaduan arsitektur Nordik tradisional: fasad bata merah, atap kaca memanjang, dan rangka baja yang tegas. Sebuah kombinasi antara bangunan bersejarah dan pusat transportasi modern.
Pagi itu hari masih gelap, tetapi jam biologis sudah berbunyi. Di dalam stasiun yang tertata rapi, terdapat deretan toko kecil: minimarket 7-Eleven, gerai makanan cepat saji, restoran, dan kafe yang menggoda. Saya singgah di sebuah kedai roti, tergoda aroma cinnamon roll khas Denmark, ditemani segelas kopi latte panas.
Sambil duduk menyeruput kopi, arus penumpang mulai ramai. Rasanya berbeda, tetapi saya mencoba membandingkannya dengan suasana Stasiun Manggarai di Jakarta: pekerja kantoran mulai berdatangan, mahasiswa, keluarga dengan anak-anak berlalu-lalang, dan beberapa penumpang menyeret koper kecil—tampaknya penumpang kereta jarak jauh.
Di seberang jalan, berdasarkan peta di media sosial, terdapat Tivoli Gardens—taman hiburan klasik berusia lebih dari 180 tahun—yang pagi itu masih tutup. Di sisi kanan, terlihat deretan gedung tinggi, sebagian bergaya modern, sebagian klasik. Ada yang masih gelap, kemungkinan perkantoran, dan yang terang tampaknya apartemen hunian.
Setelah berjalan berkeliling sejenak, terasa sekali bahwa Kopenhagen adalah kota yang ramah bagi pejalan kaki, termasuk pengguna kursi roda. Tingkat ekonomi yang tinggi tentu berbanding lurus dengan sistem jaminan sosial yang baik. Halte bus tersedia di berbagai titik, siap membawa wisatawan ke berbagai tujuan. Namun, saya kembali masuk ke stasiun—tujuan saya lebih mudah dicapai dengan kereta, terutama bagi pengunjung pertama kali seperti saya.
Pelabuhan yang berubah jadi destinasi wisata utama

Nyhavn sebenarnya tidak terlalu jauh. Jika berjalan kaki, jaraknya sekitar tiga kilometer atau 30 menit. Namun, saya memilih menghemat tenaga dan naik metro, lalu turun di Rådhuspladsen. Keluar dari stasiun, hanya perlu melangkah sedikit untuk langsung melihat Denmark yang begitu fotogenik.
Deretan rumah kayu berwarna-warni—merah, kuning, hijau—berdiri cerah, jauh dari kesan kelabu. Ini bukan lagu anak-anak, ini Kopenhagen. Rumah-rumah klasik yang dibangun pada abad ke-17 dan ke-18 itu berbaris rapi di sepanjang kanal, menciptakan kontras indah dengan perahu-perahu kayu antik yang berlabuh.
Dahulu, bangunan ini merupakan rumah para pelaut dan pedagang yang memanfaatkan kanal sebagai jalur transportasi. Kini, seiring berkembangnya pariwisata, sebagian rumah beralih fungsi menjadi homestay, restoran, dan kafe. Duduk di tepi kanal, kita bisa membayangkan Hans Christian Andersen yang pernah tinggal di kawasan ini. Diyakini, karya-karya terkenalnya seperti The Little Mermaid dan The Princess and the Pea ditulis di sini.
Nyhavn dibangun pada akhir abad ke-17 oleh Raja Christian V. Awalnya, kanal ini dibuat untuk menghubungkan pelabuhan dengan pusat kota guna memperlancar distribusi barang. Selama hampir tiga abad, Nyhavn menjadi pelabuhan sibuk dan pusat pergerakan kapal Denmark ke berbagai penjuru dunia. Fungsi tersebut melahirkan kawasan singgah yang dipenuhi bar dan kedai yang buka siang dan malam.
Memasuki akhir abad ke-20, perkembangan industri pariwisata mengubah wajah Nyhavn. Kawasan ini menjelma menjadi destinasi wisata populer karena memenuhi semua unsur: indah, sarat sejarah, akses transportasi mudah, tersedia hunian, kuliner, laut, dan kini—sangat instagramable.
Kota sepeda nomor satu di dunia

Naik metro di Kopenhagen menghadirkan kejutan tersendiri: banyak sepeda ikut masuk ke dalam kereta. Ternyata, Kopenhagen memang dikenal sebagai kota paling ramah sepeda di dunia, bahkan mengalahkan Amsterdam.
Pada pintu atau dinding kereta tertentu terdapat simbol sepeda, menandakan bahwa pesepeda boleh masuk tanpa harus melipat sepedanya—berbeda dengan aturan di Jakarta. Di dalam kereta, tersedia ruang khusus dengan lantai kosong yang mampu menampung puluhan sepeda.
Bagi pekerja komuter yang tinggal jauh dari pusat kota, sistem ini sangat mendukung. Mereka bisa bersepeda dari rumah ke stasiun, naik kereta, lalu kembali melanjutkan perjalanan dengan sepeda setelah tiba di stasiun tujuan. Tidak perlu mendorong sepeda menaiki tangga. Bahkan, industri dan masyarakat saling mendukung dengan menyediakan perlengkapan bersepeda untuk segala kondisi cuaca—hujan, angin kencang, hingga salju.
Kereta komuter hanyalah salah satu bentuk dukungan pemerintah. Di Kopenhagen, sepeda merupakan bagian dari kehidupan sehari-hari, bukan sekadar alat olahraga atau gaya hidup. Secara statistik, jumlah sepeda di kota ini lebih banyak daripada mobil. Di pusat kota, sepeda melintas jauh lebih banyak daripada kendaraan bermotor.
Lebih dari 60 persen penduduk menggunakan sepeda untuk perjalanan harian: ke kantor, sekolah, berbelanja, dan keperluan lainnya. Status sosial tidak diukur dari jenis kendaraan. Sepeda digunakan oleh pelajar, profesional, eksekutif, ibu rumah tangga, bahkan anggota parlemen. Ukuran kualitas hidup di sini adalah efisiensi transportasi.
Infrastruktur kota pun dirancang untuk itu. Kopenhagen memiliki lebih dari 400 kilometer jalur sepeda—melebihi panjang jalan negara di Jakarta. Jalur ini terpisah dari jalur mobil dan trotoar. Pada persimpangan besar, tersedia jembatan khusus bagi pesepeda atau jalur gabungan dengan pejalan kaki. Lampu lalu lintas pun memiliki fase hijau khusus untuk sepeda, memberi prioritas karena kecepatan sepeda tidak mungkin menyamai mobil.
Alasan mengapa harus ke Patung Little Mermaid

Berkunjung ke Kopenhagen rasanya belum lengkap tanpa melihat patung Little Mermaid. Ikon kota ini termasuk salah satu ikon wisata paling terkenal di dunia—seperti Jakarta dengan Monas atau Paris dengan Menara Eiffel.
Patung ini berdiri di tepi laut kawasan Langelinie sejak tahun 1913 sebagai penghormatan kepada Hans Christian Andersen, penulis dongeng besar yang sangat berpengaruh dalam budaya Denmark. The Little Mermaid adalah salah satu karyanya yang paling mendunia. Di Jakarta, kita mungkin masih mengingat kisah Kaisar dengan Baju Barunya, Itik Buruk Rupa, Ratu Salju, dan Gadis Penjual Korek Api.
Saya menghabiskan potongan terakhir sandwich khas Denmark sebelum masuk ke peron metro menuju lokasi patung. Ini adalah open sandwich—roti gandum hitam padat tanpa penutup, dengan topping yang terlihat jelas. Saya memilih ikan herring acar dan telur rebus.
Baca juga: Vientiane, Ibu Kota Tenang di Jantung ASEAN
Dari pusat kota, saya naik metro menuju Stasiun Østerport, lalu berjalan kaki menyusuri jalur pelabuhan yang dinaungi pepohonan rindang. Udara dingin khas musim dingin terasa segar. Jalanan masih sepi, hanya sesekali berpapasan dengan orang lain. Seperti kota-kota Skandinavia lainnya, kawasan ini bersih dan tertata rapi.
Patung Little Mermaid tidak besar—tingginya sekitar 1,5 meter. Terbuat dari perunggu, patung ini duduk di atas batu granit dan menghadap laut. Kawasan perairan Langelinie tenang, hijau, dan nyaman, mendorong pengunjung untuk berjalan-jalan sambil merenungi sosok putri duyung.
Saya beruntung datang pada pagi hari di musim dingin, bukan saat hari libur, sehingga bisa mengambil foto tanpa kerumunan. Bagi penggemar Andersen yang menyerap kisah-kisahnya hingga ke hati, patung ini adalah perwujudan cinta, pengorbanan, dan kerinduan. Di era media sosial, setidaknya, ini menjadi penanda bahwa saya telah menjejakkan kaki di salah satu ibu kota Skandinavia—bersama patung ikoniknya.
Kontributor: Dr. Ir. Wahyu Saidi, MSc, seorang Entrepreneur, Peminat dan Penikmat Kuliner
Tonton podcast Milenianews yang menghadirkan bintang tamu beragam dari Sobat Milenia dengan cerita yang menghibur, inspiratif serta gaul hanya di youtube MileniaNews.













