Vic Market dan Chinatown

Tentu perlu mengunjungi pasar tradisional, dan di Melbourne yang direkomendasikan adalah Queen Victoria Market, sering disebut Vic Market. Pasar ini merupakan pusat perdagangan sekaligus tujuan wisata, telah hadir melayani penduduk sejak 1878, dan merupakan pasar rakyat tertua serta terbesar di Australia. Pasar ini menjadi bagian keseharian masyarakat.
Seperti pasar tradisional kota dunia lain, kita bisa melihat dan menghayati budaya setempat, termasuk pakaian, kebiasaan sehari-hari, kuliner, dan apa yang dimasak di rumah tangga. Bangunan pasar menampilkan arsitektur era Victoria abad ke-19, jejak sejarah dan perkembangan kota Melbourne pada masa kolonial.
Gerbang utama di Queen Street merupakan bagian paling ikonik, bergaya neoklasik dengan detail ukuran batu, menjadi titik temu pengunjung. Vic Market luasnya 7 hektar, terdiri dari beberapa bangunan beratap logam besar yang tersusun memanjang. Bangunan ini dirancang dengan konsep semi-terbuka, memadukan fungsi praktis tempat berdagang dengan estetika masa kolonial yang masih terjaga.
Struktur baja tinggi memberikan sirkulasi udara baik, tetap segar meskipun ramai pengunjung. Di bagian selatan berdiri The Meat Hall dan Deli Hall, bangunan tertua, terbuat dari bata tebal dengan jendela lengkung besar gaya Eropa klasik, diperkaya pilar besi tuang, kanopi logam, dan hiasan ventilasi geometris, menunjukkan pengaruh industri yang berkembang di Inggris pada masanya.
Perlu juga mengunjungi Chinatown Melbourne, kawasan budaya tua dan paling bersejarah, terletak di pusat bisnis di sepanjang Little Bourke Street. Di sepanjang jalan ini terdapat tempat tinggal, usaha, serta lokasi aktivitas sosial dan keagamaan. Chinatown mulai tumbuh ketika gelombang besar imigran Tionghoa datang ke Australia pada masa demam emas tahun 1850-an.
Ribuan penambang dari Fujian dan Guangzhou tiba di Pelabuhan Melbourne sebelum menuju area pertambangan. Sebagian dari mereka memilih menetap dan berdagang di Melbourne, membentuk komunitas dengan budaya masing-masing, lahirlah Chinatown Melbourne. Kini, di sepanjang Bourke Street terdapat restoran Cina, toko obat herbal, rumah opera, tempat ibadah, dan museum.
Chinatown sempat menghadapi tantangan besar di akhir abad ke-19, ketika pemerintah kolonial memberlakukan pembatasan imigrasi Asia. Komunitas Tionghoa di Melbourne tetap bertahan, bersatu menjaga budaya, bahasa, dan tradisi di tengah tekanan sosial. Memasuki pertengahan abad ke-20, kebijakan diskriminatif berakhir, imigran Tionghoa dan Asia kembali datang sehingga Chinatown menjadi semakin kuat dan menjadi pusat kebudayaan Asia di Australia. Gerbang tradisional, paifang, dan kawasan wisata kuliner terus dikembangkan, kini menjadi daya tarik bagi wisatawan.
Masjid Albania, Masjid Tertua di Melbourne

Sholat di masjid di negara dengan mayoritas non-Muslim selalu menjadi pengalaman menarik. Saya pernah mencari masjid di Budapest selama tiga hari dan tidak ketemu, di Antwerpen, Belgia, masjid hanya buka 30 menit saat waktu sholat, di Tokyo masjidnya ramai, di Laos sepi tapi jemaah ramah-ramah.
Di Melbourne, saya mengunjungi Masjid Albania, di Carlton North. Masjid ini berada di dalam perumahan, cukup besar dan bersih. Masjid ini merupakan masjid tertua di Melbourne, terdaftar sebagai bangunan heritage negara bagian Victoria. Dibangun oleh komunitas Albania Australia, mulai dipakai pada tahun 1969.
Fasad dan bangunan masjid dipengaruhi oleh gaya arsitektur masjid Ottoman, seperti yang banyak ditemui di Albania. Dilengkapi jendela tinggi, ruang sholat terbuka, dan memiliki satu menara (minaret) yang baru dibangun pada tahun 1994 setelah mendapat izin. Awalnya masjid ini berwarna bata, namun kemudian dicat putih, dengan karpet merah sebagai pengingat warna bendera Albania. Jalan masuk dan fasilitas wudhu antara laki-laki dan perempuan terpisah.
Baca juga: Menjejak Keajaiban Laut Utara: Dari Rennes ke Mont Saint-Michel, Pesona Abadi Prancis
Karena berada di kawasan perumahan, parkir relatif terbatas. Pengunjung diingatkan untuk tidak berisik, dan meskipun ada menara tinggi, suara azan tidak diperkenankan keluar. Sebagai masjid tertua, tempat ini tidak hanya untuk sholat, tetapi juga sebagai pusat kegiatan komunitas Islam sekitar, perayaan hari besar Islam, kelas pendidikan, pengkajian Islam, pelajaran bahasa Arab, serta budaya Albania. Masjid juga memberikan bimbingan dan pendampingan, termasuk bantuan dana bagi pendatang baru, mahasiswa internasional dari Asia Tenggara, termasuk Indonesia.
Mungkin karena berada di pemukiman dan di Australia, sayangnya tidak ada kuliner halal di sekitar masjid ini, berbeda dengan masjid-masjid di kota dunia lain.
Kontributor: Dr. Ir. Wahyu Saidi, MSc, seorang Entrepreneur, Peminat dan Penikmat Kuliner
Tonton podcast Milenianews yang menghadirkan bintang tamu beragam dari Sobat Milenia dengan cerita yang menghibur, inspiratif serta gaul hanya di youtube MileniaNews.








