Kyoto, Ibu Kota Lama Jepang yang Tetap Dijaga

Oleh: Dr. Ir. Wahyu Saidi, MSc, seorang Entrepreneur, Peminat dan Penikmat Kuliner

Milenianews.com – Kimono dua belas lapis mungkin masih diingat sebagian orang. Pakaian itu dikenakan Permaisuri Masako saat penobatan Kaisar Naruhito pada 2019. Foto-fotonya tersebar luas di media sosial, menjadi pemandangan langka di zaman modern. Kimono tersebut bernama junihitoe, terbuat dari sutra berkualitas tinggi. Beratnya bisa mencapai 25 kilogram, terdiri dari dua belas lapisan, mulai dari pakaian dalam kosode, beberapa lapis jubah, uchiginu, hingga lapisan luar paling indah bernama karaginu.

Junihitoe adalah warisan Zaman Heian, masa ketika ibu kota Jepang masih berada di Kyoto. Periode ini dikenal sebagai zaman keemasan Jepang klasik, ketika kehidupan politik, sosial, dan budaya berpusat di istana kekaisaran. Kyoto menjadi ibu kota dari tahun 794 hingga 1868, lebih dari seribu tahun lamanya. Pada masa itu, Jepang hidup dalam budaya yang sangat khas dan tertutup dari pengaruh luar.

Setelah 1868, ibu kota berpindah ke Tokyo. Jepang mulai membuka diri terhadap dunia luar. Kehidupan sosial, budaya, dan politik memasuki era baru yang ditandai dengan modernisasi dan perubahan besar. Namun jejak masa lalu tidak sepenuhnya hilang. Ia bertahan di Kyoto.

Baca juga: Tsukiji Bukan Sekadar Pasar Ikan, tapi Pusat Rasa dan Sejarah Tokyo

Kesimpulannya sederhana. Saya harus ke Kyoto. Banyak orang mengatakan Kyoto bukan sekadar kota wisata. Jika ingin mengenal jiwa Jepang dan memahami akarnya, maka Kyoto adalah tempatnya. Tokyo memperlihatkan masa depan Jepang yang futuristik. Kyoto menjaga masa lalu Jepang yang elegan.

Di Kyoto, jejak Zaman Heian dan Zaman Edo masih hidup. Arsitektur tradisional dipertahankan, ruang kota dirawat dengan disiplin. Kyoto cantik di semua musim. Musim semi menghadirkan sakura di taman dan hutan kota. Musim gugur menampilkan daun mapel yang memerah. Kota ini terawat, terbukti dengan tujuh belas situs Warisan Dunia UNESCO yang berada di dalamnya.

Jalan batu, rumah kayu, dan aroma kayu cendana

shinkansen

Saya berangkat pagi dari Tokyo dengan shinkansen. Dua setengah jam perjalanan membawa saya tiba di Stasiun Kyoto. Keluar dari pintu utama, Kyoto Tower langsung terlihat menjulang. Bentuknya seperti lilin putih raksasa, berdiri tepat di seberang stasiun.

Area stasiun justru tampil modern. Bangunannya besar, futuristik, dan ramai. Jiwa Jepang lama belum terasa di sini. Saya disarankan menggunakan bus kota. Terminal bus berada tepat di depan pintu keluar stasiun. Saya naik bus nomor 100.

Sekitar lima belas menit kemudian, bus berhenti di Gion. Inilah jantung kota tua Kyoto. Saya turun, sempat gamang melihat keramaian, lalu mengikuti arus pejalan kaki. Jalan setapak berbatu menanjak dan berliku, lebarnya sekitar lima meter, dan hampir semua orang berjalan kaki.

Ketika kaki mulai menginjak ishidatami, jalan batu khas Kyoto, rasanya seperti masuk ke lukisan Jepang masa lalu. Modernitas tertinggal di belakang. Bangunan beton menghilang, digantikan rumah-rumah kayu tradisional yang disebut machiya. Dindingnya kusam, kayunya kokoh, telah melewati ratusan pergantian musim.

Di kota tua Kyoto, hampir tidak ada orang yang tergesa-gesa. Langkah melambat dengan sendirinya. Beberapa rumah menggantung noren, tirai kain khas Jepang yang terbelah dua. Jika mendekat dan memperhatikan, tercium aroma samar dupa kayu cendana dari dalam bangunan. Tidak ada papan iklan mencolok, tidak ada kabel listrik bersilangan. Yang ada hanyalah harmoni antara langkah kaki, jalan batu, dinding kayu, dan udara yang bersih.

Timun sebagai bagian dari ritual religius

Saya berhenti di sebuah kios makanan tradisional. Bangunannya kecil, terbuat dari kayu, terbuka ke arah jalan. Di depan kios tersaji makanan yang tampak segar, tetapi ternyata replika dari lilin. Jepang memang terkenal dengan seni replika makanan yang nyaris tak bisa dibedakan dari aslinya.

Setiap kios memiliki spesialisasi. Tidak ada kios yang menjual semuanya. Saya tertarik pada kue berbentuk ikan berisi pasta kacang merah. Kue dipanggang di depan mata, disajikan panas. Dimakan sambil berjalan terasa nikmat. Kulitnya renyah, bagian dalamnya lembut.

Di kios lain, terlihat timun utuh yang ditusuk seperti sate. Timun Jepang ramping, berwarna hijau tua, disusun rapi di wadah kayu berisi es serut. Ini disebut asazuke, artinya direndam sebentar. Timun hanya difermentasi ringan, tidak menyengat seperti acar Barat. Rasanya segar, gurih, sedikit asin, dengan aroma dashi dan rumput laut yang halus.

Di Kyoto, timun bukan sekadar makanan. Ia bagian dari ritual religius. Dalam festival atau upacara kuil, timun dipercaya melindungi diri dari penyakit dan membantu membuang nasib buruk. Menikmati timun di sini berarti menyentuh lapisan budaya yang dalam.

Kyoto dan dunia suci para Dewa

kuil

Di ujung jalan berbatu, saya terpana. Sebuah bangunan besar berwarna jingga kemerahan berdiri megah. Itulah Nishi Romon, gerbang barat Kuil Yasaka. Saya telah tiba di pusat spiritual Kyoto.

Baca juga: Pagi di Hakodate, Petualangan Kuliner di Pasar Pagi

Dalam tradisi Jepang, gerbang kuil bukan sekadar pintu masuk. Saat melangkah melewatinya, seseorang meninggalkan dunia fana dan memasuki wilayah suci para dewa. Tangga batu lebar di depan gerbang menjadi ruang peralihan itu.

Jika berdiri menghadap ke luar, terlihat keramaian Gion. Wisatawan berjalan, berbelanja, menikmati bangunan dan kuliner. Namun ketika berbalik arah, tampak dunia lain. Jepang dengan jejak sejarah seribu tahun. Bangunan kuil, taman, dan ruang suci yang tenang.

Di kiri dan kanan gerbang berdiri dua patung penjaga bernama zuishin. Mereka duduk tenang, berpakaian bangsawan Jepang, seolah memastikan hanya niat yang bersih yang boleh masuk. Masyarakat Kyoto percaya gerbang ini diliputi energi naga. Berdiri di bawah atapnya, angin terasa lebih sejuk, udara terasa berbeda.

Di titik inilah saya benar-benar mengerti Kyoto.

Kyoto, saya sangat menikmatimu.

Tonton podcast Milenianews yang menghadirkan bintang tamu beragam dari Sobat Milenia dengan cerita yang menghibur, inspiratif serta gaul hanya di youtube MileniaNews.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *