Sejarah dan Filosofi Busana Tanimbar yang Dipakai Presiden Jokowi

Busana Tanimbar

Milenianews.com, Jakarta – Sesuai dengan tradisi tahun-tahun sebelumnya, Presiden Joko Widodo (Jokowi) mengenakan pakaian adat ketika menghadiri Sidang Tahunan MPR. Kali ini, Jokowi memilih busana Tanimbar dari Maluku.

Jokowi adalah presiden pertama yang memulai kebiasaan mengenakan pakaian adat saat Sidang Tahunan MPR. Ia pertama kali melakukannya pada Sidang Tahunan MPR tahun 2017.

Selama beberapa tahun, Jokowi telah memakai berbagai pakaian adat, seperti Baju Adat Suku Bugis (2017), Baju Adat Suku Sasak (2019), Baju Adat Suku Sabu (2020), Baju Adat Suku Baduy (2021), Baju Adat Bangka Belitung (2022), dan Baju Adat Suku Tanimbar (2023).

Baca juga : CSR Eco Pounding, Cara Beda Peringati HUT Kemerdekaan RI di Taman Bacaan

Baju Adat Suku Tanimbar yang Jokowi pilih tahun ini memiliki kain tenun yang memiliki makna khusus. Ini dia penjelasannya.

Sejarah dan filosofi busana Tanimbar

Busana adat dari Tanimbar

Menurut jurnal Moda, Volume 3 Nomor 1, Januari 2021 yang berjudul “Penggunaan Bahan Tenun Ikat Tanimbar Pada Busana Resort Wear” oleh Ivona Maria Tanlain, dkk, Suku Tanimbar berasal dari Kabupaten Kepulauan Tanimbar di Provinsi Maluku. Kota utama kabupaten ini adalah Saumlaki.

Busana adat perempuan Tanimbar saat mengikuti upacara adat adalah kebaya dan tais (kain tenun). Mereka juga memakai aksesoris seperti sinune (selendang), somalea (hiasan cendrawasih di kepala atau dahi), ngore (kalung), lelbutir (anting), belusu (gelang), dan lufu (tas anyaman rotan).

Busana adat pria Tanimbar terdiri dari teik (cawat) atau umban. Teik adalah kain tenun kecil yang menutupi alat kelamin. Umban adalah cawat dari tenunan sekitar 3 meter. Ini diikat pada pinggang saat upacara adat. Pria Tanimbar juga memakai tatabun ulun (kain penutup kepala), somalea (hiasan cendrawasih di kepala), kmwenga (anting emas atau perak), dan wangpar (gantungan emas di dada).

Baca juga : Makna Dibalik Lomba Panjat Pinang di Setiap Hari Kemerdekaan 17 Agustus

Sejarah dan filosofi tenun ikat di busana Tanimbar

Sejarah tenun ikat di Kepulauan Tanimbar mulai pada tahun 1900 ketika ahli etnografi G.P. Rouffaen memperkenalkannya. Dia belajar cara membuat pola hias dan warna pada kain dengan cara mengikat. Istilah “ikat” berasal dari bahasa Melayu untuk teknik ini, jadi kainnya bernama “tenun ikat”.

Masyarakat di Kepulauan Tanimbar sudah lama tahu cara menenun. Mereka awalnya menggunakan serat daun lontar, tetapi itu tidak bertahan lama. Kemudian, mereka mulai menggunakan kapas yang terpintal menjadi benang, serta pewarna alami dari kayu dan dedaunan.

Pemilihan kain tenun ikat Tanimbar juga memiliki arti. Kain dengan warna dasar coklat menunjukkan status bangsawan, warna hitam kebiruan menandakan status menengan, dan warna hitam hanya menandakan status rakyat biasa.

Baca juga : Kongres Budaya Umat Islam Indonesia Resmi Dibuka

Filosofi

Kain tenun ikat dalam busana adat Tanimbar biasanya mempunyai beragam warna dan banyak  hiasan garis-garis serta pola khusus yang terinspirasi dari alam sekitarnya.

Di Kepulauan Tanimbar, dulu ada sekitar 47 pola tenun ikat yang berbeda. Namun, sekarang hanya ada 7 pola yang masih tersisa. Pola-pola tersebut adalah:

  1. Motif Lelmuku (Bunga Anggrek): ciri khasnya ada bunga anggrek yang diapit oleh beberapa garis yang melambangkan kecantikan, keanggunan, dan keuletan.
  2. Motif Sair (Bendera): berbentuk seperti bendera yang menggambarkan semangat masyarakat Kepulauan Tanimbar dalam mempertahankan identitas semua wanita.
  3. Motif Tunis (Anak Panah): berbentuk anak panah yang diapit oleh beberapa garis. Motif ini menggambarkan kesiapan mental masyarakat Kepulauan Tanimbar yang selalu berhati-hati.
  4. Motif Ulerati (Ulat kecil): berbentuk ulat kecil yang dikombinasikan beberapa motif lainnya. Filosofinya tentang kecintaan masyarakat akan lingkungan sekitar.
  5. Motif Eman Matan Lihir: terinspirasi dari jenis busana pria jaman dulu, tetapi yang dipandang dari satu sisi.
  6. Motif Mantatur (Tulang Ikan): memiliki ciri khas berwarna biru yang menggambarkan warna laut dan motif tulang ikan yang menggambarkan sumber daya laut yang berlimpah.
  7. Motif Wulan Lihir (Bulan Sabit): motif ini dibuat terinspirasi dari bulan dan keadaan alam masyarakat Tanimbar. Pada waktu bulan bersinar, masyarakat melakukan pelayaran untuk mencari hasil laut dan makanan di darat.

Jangan sampai ketinggalan info terkini bagi generasi milenial, segera subscribe channel telegram milenianews di t.me/milenianewscom.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *