Milenianews.com – Namanya Lech Wałęsa. Seorang tukang listrik di kota pelabuhan dan industri Gdańsk, Polandia, yang menghadap Laut Baltik. Ia pekerja kasar tanpa jabatan di sebuah galangan kapal—setiap hari bekerja dengan tangan penuh oli, hidup sebagai buruh sederhana. Dari titik yang tampak kecil itulah ia kemudian menjadi tokoh dunia, pemimpin gerakan nasional yang mengubah peta politik dan ekonomi global.
Wałęsa memang memulai segalanya sebagai pekerja biasa. Namun pada tahun 1980, ia memanjat pagar galangan kapal, berdiri di hadapan para buruh, lalu memimpin rapat dan demonstrasi. Hari itu menjadi momen bersejarah. Dengan suara lantang dan keberanian yang nyaris nekat, ia muncul sebagai pemimpin saat buruh galangan kapal melakukan mogok kerja.
Baca juga: Penang: Ketika Sejarah Disajikan di Setiap Meja Makan
Gerakan ini lahir dari anak-anak pabrik—sebuah grassroots movement—yang tumbuh menjadi gerakan nasional, lalu bergema hingga mengguncang dunia. Keberaniannya luar biasa, karena yang dilawan adalah pemerintahan komunis yang keras dan mengekang kebebasan. Dampaknya menjalar luas: Uni Soviet yang sebelumnya menjadi satu kesatuan wilayah kemudian runtuh dan bertransformasi. Rusia berdiri sendiri, sementara Uzbekistan, Kazakhstan, Chechnya, dan negara-negara lain kembali menjadi negara merdeka.
Bagi kita di Indonesia, perubahan itu terasa nyata. Negara-negara yang dulu sulit dikunjungi—Uni Soviet, Polandia, Rumania, dan Eropa Timur lainnya—perlahan menjadi terbuka. Dari sistem yang tertutup dan terbatas, mereka bergerak menuju dunia yang lebih bebas.
Wałęsa sendiri sempat dibungkam dan dipenjara, tetapi pergerakannya tak pernah benar-benar berhenti. Ia menjadi simbol yang memicu runtuhnya rezim komunis. Tahun 1993, ia dianugerahi Hadiah Nobel Perdamaian, dan pada 1990–1995 menjabat sebagai Presiden Polandia. Ia memimpin perubahan bukan dengan senjata atau kekuatan politik, melainkan dengan kekuatan moral—tanpa perang, tanpa pertumpahan darah.
Sejarah mencatat gerakan ini sebagai Solidarność—solidaritas—sesuai dengan nama organisasi serikat buruh independen di Eropa Timur. Seorang pekerja berhasil mengguncang sistem yang sebelumnya dianggap mustahil runtuh, di era ketika dunia hanya mengenal radio, telepon, dan koran. Belum ada internet, YouTube, Instagram, atau TikTok.
Terdampar di Bandara Lech Wałęsa

Gdańsk berada di Polandia, negara yang telah ada sejak abad ke-10 dengan sejarah politik yang panjang dan kompleks. Mayoritas penduduknya penganut Katolik Roma; Paus Yohanes Paulus II berasal dari negeri ini. Meski demikian, Polandia juga pernah lama hidup di bawah sistem komunis.
Gdańsk sendiri adalah kota pelabuhan modern terpenting, pusat industri dan perdagangan bersejarah. Kota ini pula yang menandai awal Perang Dunia II, ketika Nazi Jerman menyerang Polandia pada 1 September 1939. Perang tersebut melibatkan sekitar 70 negara, merenggut lebih dari 60 juta nyawa, dan baru berakhir enam tahun kemudian, Mei 1945, saat Jerman menyerah tanpa syarat.
Lech Wałęsa adalah bukti bahwa satu orang mampu memicu perubahan besar. Seorang tukang listrik yang sehari-hari memegang tang dan memotong kabel, justru menyalakan cahaya perubahan bagi dunia. Ia bukan elit, bukan bangsawan, dan bukan lulusan pendidikan tinggi. Modalnya hanya keberanian, solidaritas, dan keyakinan moral—melawan negara otoriter dengan aksi damai. Runtuhnya Tembok Berlin adalah salah satu dampak nyata dari gelombang perubahan itu.
Malam ini saya berada di Bandara Internasional Gdańsk, bandara yang kini menyandang nama Lech Wałęsa. Kehadiran saya di kota ini sepenuhnya tidak direncanakan. Awalnya saya terlalu asyik menjelajah dan kulineran di Islandia, hingga terlambat tiba di bandara. Pesawat menuju Oslo—yang seharusnya membawa saya melanjutkan perjalanan ke Amsterdam sebelum pulang ke Jakarta—terlewatkan.
Tiket ke Jakarta sudah terlanjur dibeli. Satu-satunya rute yang masih memungkinkan menuju Amsterdam adalah melalui Gdańsk, dan itu harus diambil. Masalahnya, pesawat dari Reykjavik tiba pukul 21.00, sementara penerbangan ke Amsterdam baru berangkat pukul 06.45 pagi. Ada sekitar sepuluh jam waktu tunggu.
Dalam kondisi ideal, ini justru menyenangkan. Saya bisa naik taksi atau kereta bandara menuju pusat kota, menikmati bangunan bersejarah, kuliner lokal, atau sekadar duduk di kafe. Bahkan opsi tidur di hotel kapsul pun sempat terlintas.
Namun, Gdańsk bukan Istanbul atau Dubai. Ini bandara kecil, bukan hub internasional yang hidup 24 jam penuh aktivitas. Bandara memang buka sepanjang hari, tetapi ibu kota Polandia ada di Warsawa, bukan di sini. Saya sudah kelelahan dan ragu bisa kembali ke bandara dengan mudah jika keluar kota.
Bandara Gdańsk tidak dirancang untuk penumpang transit panjang yang ingin belanja, kulineran, atau city tour. Setelah melewati pemeriksaan kedatangan, saya berkeliling terminal. Bandara ini kira-kira seukuran Bandara Semarang—satu terminal, bersih, terorganisir, dengan alur penumpang yang efisien. Bangunannya modern, banyak kaca, papan informasi jelas dan fungsional.
Segelas kopi pahit, croissant, dan tidur

Masih pukul 20.00. Perut perlu diisi sebelum semua gerai tutup sekitar pukul 21.00–22.00. Informasinya, hanya ada satu kafe es krim di area keberangkatan yang tetap buka, itu pun tanpa makanan berat. Saya masih berada di area kedatangan dan tak bisa keluar terminal tanpa pemeriksaan ulang.
Saya memilih So! Coffee, sebuah kafe kecil. Waktu tutupnya tinggal satu jam—cukup. Saya memesan kopi tanpa gula dan croissant polos. Ukurannya besar, standar Viking, cukup untuk menahan lapar. Pagi hari nanti, area keberangkatan biasanya sudah menyediakan kopi dan sarapan.
Menunggu malam di bandara kini jauh lebih mudah. Ini era Gen Z—selama ada pulsa atau Wi-Fi, hidup berjalan. Saya masih punya paket data 14 hari yang aman. Dengan ponsel, saya bisa membaca, bekerja, atau menonton apa saja. Kafe sepi, penjaganya juga sendiri, sibuk beres-beres. Selisih waktu enam jam membuat Jakarta masih terlelap.
Setelah itu saya menuju area keberangkatan. Pemeriksaan cepat, suasana lengang. Ruangan dengan langit-langit tinggi dan dinding kaca terasa lapang. Tata letaknya ringkas dan fungsional. Executive lounge tutup—wajar, hampir tak ada penumpang malam hari. Padahal, jika buka, tempat itu bisa menjadi ruang istirahat yang nyaman.
Saya mencari kursi yang memungkinkan untuk berbaring. Tidur di bandara adalah hal biasa—cara sederhana agar tak terlambat penerbangan pagi, sekaligus menghemat biaya hotel. Di dekat gerbang keberangkatan, saya menemukan kursi tanpa sandaran tangan di sudut ruangan. Hanya ada beberapa orang; satu di antaranya sudah tertidur.
Di sudut ini juga ada kafe es krim yang akan buka pagi hari. Perut sudah kenyang. Saya merebahkan badan, menutup mata, dan membiarkan delapan jam di kota Lech Wałęsa berlalu pelan.
Kontributor: Dr. Ir. Wahyu Saidi, MSc, seorang Entrepreneur, Peminat dan Penikmat Kuliner
Tonton podcast Milenianews yang menghadirkan bintang tamu beragam dari Sobat Milenia dengan cerita yang menghibur, inspiratif serta gaul hanya di youtube MileniaNews.









