Milenianews.com, Bogor– Untuk ke sekian kalinya SD Bina Insani Bogor menggelar kegiatan bernama sharing session. Kegiatan yang diadakan pada hari Jumat, 4 Oktober 2024 ini dikhususkan untuk para pendidik di lingkungan SD Bina Insani. Adapun topik pada hari itu dua hal, yakni tentang pemanfaatan aplikasi PMM (Platform Merdeka Mengajar) dan program Pelayanan ABK (Anak Berkebutuhan Khusus).
Dalam kesempatan yang tersebut, Kepala Sekolah SD Bina Insani, Dra. Eka Rafikah menyampaikan bahwa di era digital yang semakin berkembang, praktik-praktik berbagi informasi dan pengetahuan semakin penting. Salah satu cara yang paling populer adalah dengan mengadakan sesi berbagi atau yang sering dikenal dengan sharing session.
Baca Juga : SD Bina Insani Borong Piala FTBI Tingkat Kecamatan Tanah Sareal 2024
Sharing session adalah kegiatan di mana seseorang atau sekelompok orang berbagi pengetahuan, pengalaman, atau informasi tertentu kepada orang lain. “Ini merupakan salah satu program dari Komunitas Belajar SD Bina Insani,” kata Eka Rafikah dalam rilis yang diterima Milenianews.com.
“Adapun tujuan utama dari sharing session adalah untuk memfasilitasi pertukaran informasi yang bermanfaat dan memperluas pengetahuan,” ujarnya saat acara berlangsung.
Pelaksanaan sharing session kali ini mengenai aplikasi PMM yang harus diaktivasi dan dimanfaatkan oleh guru guru yang namanya sudah masuk ke Data Pokok Pendidikan. Dalam PMM ini banyak sekali fitur yang dapat dipelajari oleh guru untuk menambah wawasan dalam pembelajaran dan meningkatkan kompetensinya. Adapun guru yang mengisi kegiatan PMM yakni Ms. Dwi.
Baca Juga : SD Bina Insani Bogor-Jeolla Elementary School Korea Selatan Gelar Exchange Culture Day 2024
Selain materi aplikasi PMM, juga disampaikan proses penanganan siswa berkebutuhan khusus. Adapun pengisi materi yakni Ms. Kia, Ms. Lia dan Tuesty dari tim Bimbingan dan Konseling (BK). “Support system ke – BK – an di SD Bina Insani sudah lengkap sekali sehingga para guru BK dapat memberikan pelayanan pelayanan terbaik bagi anak anak yang berkebutuhan khusus,” kata Eka.
Selain untuk siswa berkebutuhan khusus, asesmen mengenai mental health juga dibutuhkan oleh guru guru. “Untuk ke depannya akan diprogramkan asesmen untuk melihat mental health guru, dengan tujuan agar terdeteksi guru yang perlu mendapat treatment,” tutur Eka di akhir acara.