Milenianews.com – Krisis iklim menjadi isu global yang semakin mendesak untuk diatasi. Banyak dari kita menyadari bahwa perubahan iklim disebabkan oleh berbagai faktor, termasuk deforestasi, emisi gas rumah kaca, dan lainnya.
Namun, seringkali kita mengabaikan dampak buruk dari tindakan sehari-hari kita, seperti pembuangan makanan sisa. Artikel ini akan membahas bagaimana kebiasaan membuang makanan sisa dapat memperburuk krisis iklim yang kamu alami.
Baca juga : Drone Untuk Transformasi Bursa Karbon dan Mitigasi Perubahan Iklim di Indonesia
Pembuangan makanan sisa menyumbang pada emisi gas rumah kaca
Makanan yang terbuang di tempat pembuangan sampah akhirnya membusuk dan menghasilkan metana, yang merupakan gas rumah kaca yang lebih kuat daripada karbon dioksida. Gas ini menyumbang pada pemanasan global dan perubahan iklim secara keseluruhan.
Jika kamu sering membuang makanan sisa tanpa memikirkan dampaknya, kamu sebenarnya turut bertanggung jawab atas peningkatan emisi gas rumah kaca.
Studi oleh Organisasi Pangan dan Pertanian Perserikatan Bangsa-Bangsa (FAO) menyebutkan bahwa sekitar sepertiga dari semua makanan yang dihasilkan untuk konsumsi manusia dibuang setiap tahunnya.
Jumlah ini tidak hanya mencakup makanan yang dibuang oleh produsen dan pengecer, namun juga limbah makanan yang dihasilkan oleh konsumen seperti kamu.
Produksi makanan yang tidak terpakai meningkatkan jejak karbon
Siklus hidup makanan dimulai dari produksi, distribusi, konsumsi, hingga pembuangan. Setiap tahap ini menghasilkan jejak karbon yang berkontribusi pada perubahan iklim. Ketika kamu membuang makanan, kamu sebenarnya menyia-nyiakan sumber daya alam dan energi yang digunakan dalam semua tahap tersebut.
Dengan mengurangi pembuangan makanan sisa, kamu dapat membantu mengurangi permintaan akan produksi makanan yang berkontribusi pada jejak karbon.
Penyusutan hutan dan keanekaragaman hayati terkait dengan pertanian
Banyak lahan hutan diubah menjadi lahan pertanian untuk memenuhi kebutuhan makanan global. Namun, saat makanan terbuang, ini menjadi hal yang merugikan lingkungan. Pembuangan makanan sisa yang tidak terhindarkan menyumbang pada peningkatan tekanan terhadap hutan dan ekosistem alam.
Keanekaragaman hayati terancam ketika lahan yang dulu menjadi habitat alami beralih fungsi menjadi lahan pertanian atau pengembangan urban.
Baca juga : Indonesia Menoreh Prestasi di 2023 Chatime Tea-Rista Global Competition
Air dan energi yang terbuang dalam proses produksi
Produksi makanan tidak hanya menggunakan lahan dan sumber daya alam, tetapi juga memerlukan air dan energi. Makanan yang terbuang berarti semua sumber daya tersebut juga dibuang dengan percuma.
Proses produksi makanan yang membutuhkan banyak air dan energi menyebabkan dampak besar pada lingkungan. Dengan membuang makanan, kamu tidak hanya menyia-nyiakan makanan itu sendiri tetapi juga semua sumber daya yang digunakan dalam proses produksinya.
Meningkatnya tekanan terhadap sumber daya alam
Pembuangan makanan sisa tidak hanya membuang-buang sumber daya yang digunakan dalam produksi makanan, tetapi juga meningkatkan tekanan terhadap sumber daya alam. Dengan populasi dunia yang terus meningkat, permintaan akan makanan juga meningkat.
Jika kita tidak mengubah kebiasaan membuang makanan, tekanan terhadap sumber daya alam akan semakin meningkat, mengakibatkan degradasi tanah, penurunan kualitas air, dan hilangnya sumber daya alam yang berharga.
Dalam rangka mengatasi krisis iklim, setiap individu memiliki peran penting, termasuk kamu. Kebiasaan membuang makanan sisa mungkin terlihat sepele, tetapi dampaknya terhadap lingkungan dan krisis iklim sangat besar. Dengan mengurangi pembuangan makanan, kamu dapat membantu mengurangi emisi gas rumah kaca, jejak karbon, dan tekanan terhadap sumber daya alam.
Tonton podcast Milenianews yang menghadirkan bintang tamu beragam dari Sobat Milenia dengan cerita yang menghibur, inspiratif serta gaul hanya di youtube Milenianews.