Peduli Pengelolaan Sampah, SMA Bina Insani Ajak Siswa Mencintai Bumi Melalui Projek P5

SMA Bina Insani menggelar workshop  membuat Eco Enzyme dan Eco Brick, serta penjelasan materi tentang hidroponik kepada siswa kelas X dan XI, Senin (14/8/2023). Hal itu dilaksanakan dalam rangka  Projek Penguatan Profil Pelajar Pancasila (P5). (Foto: Dok SBBI)

Milenianews.com, Bogor– Projek Penguatan Profil Pelajar Pancasila (P5) merupakan salah satu inovasi dalam Kurikulum Merdeka yang bertujuan untuk memberikan siswa pengalaman nyata dalam mewujudkan nilai-nilai luhur Pancasila melalui serangkaian aktivitas projek pembelajaran baik di dalam maupun di luar kelas.

Pelaksanaan Projek P5 di SMA Bina Insani Bogor semester ganjil tahun ajaran 2023/2024 dibuka dengan kegiatan pembekalan materi yang dilaksanakan pada Senin, 14  Agustus 2023 dan diisi dengan workshop  membuat Eco Enzyme dan Eco Brick, serta penjelasan materi tentang hidroponik kepada siswa kelas X dan XI.

“We Love The Earth” adalah tajuk yang diangkat sebagai tema projek tema kali ini mengajak siswa untuk peduli terhadap masalah pengelolaan sampah di lingkungan sekitar sekolah.

Aling Nurnaluri Widianti —  founder sekaligus CEO Salam Rancage yang merupakan entitas sosial dan bisnis  yang bergerak di bidang pemberdayaan masyarakat dan lingkungan —  menjelaskan bahwa lebih dari 50% sampah berasal dari makanan. “Jika dibiarkan akan berbahaya karena mengandung gas metana yang sewaktu waktu dapat meledak dan membahayakan keselamatan manusia,” ujarnya seperti dikutip dalam rilis yang diterima Milenianews.com.

Ia menambahkan, lebih parahnya lagi, sampah itu  bisa menyebabkan menipisnya lapisan ozon. Oleh karena itu, sampah-sampah yang berasal dari sisa sayuran dan kulit buah itu sebaiknya dimanfaatkan untuk membuat eco enzyme.

“Eco enzyme yang merupakan cairan hasil fermentasi kulit buah yg dicampur gula merah dan air akan mampu menyembuhkan bumi yg sakit,” imbuh Aling.

Eco  Enzyme dan Eco Brick

Dalam kegiatan pembuatan eco enzyme siswa diminta untuk membawa buah yang diambil kulitnya untuk kemudian  dicampur rata dengan air dan gula merah di dalam botol plastik ukuran 1.5 liter yang ditutup dengan menggunakan balon karet yang terikat kencang. Cairan eco enzyme ini dapat dipanen setelah 90 hari masa fermentasi.

“Cairan ini dapat dimanfaatkan untuk membersihkan lantai, kaca, mengusir bau yg tidak sedap dan bisa memulihkan sungai yang bau,” ujarnya.

Selanjutnya Surapati, S.P.,  seorang ahli hidroponik sekaligus owner Sra Farm menyampaikan, “Eco brick merupakan olahan sampah yang memanfaatkan botol plastik yang diisi padat dengan limbah non-biological untuk membuat blok bangunan yang dapat digunakan kembali dalam paparannya pada sesi kedua pembekalan ini.”

Pak Sura, panggilan akrabnya,  mengajak siswa untuk praktik membuat eco brick. Siswa membawa peralatan yang dibutuhkan dari rumah, kemudian dengan bimbingan Pak Sura mereka melakukan langkah-langkah pembuatan eco brick. Pak Sura juga memberikan tips bagaimana membuat eco brick tampak estetik ketika disusun menjadi sebuah barang yang bermanfaat.

“Pelaksanaan projek ini diharapkan menjadi kegiatan yang berkelanjutan dan tidak hanya berhenti setelah panen raya yang akan dilaksanakan pada Bulan November 2023,” demikian disampaikan oleh Dita, ketua Pelaksana Projek P5 semester ganjil kali ini.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *