Milenianews.com, Bogor— Prof. Dr. Yuyun Elizabeth Patras, M.Pd. dikukuhkan jadi Guru Besar Manajemen Pendidikan Dasar, Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan (FKIP), Universitas Pakuan (UNPAK), Bogor, Kamis (2/4/2026). Pad hari yang sama, UNPAK juga mengukuhkan Prof. Dr. Henny Suharyanti M.Si. sebagai Guru Besar Bidang Ilmu Manajemen Strategik Pendidikan.
Dalam kesempatan tersebut, Prof. Dr. Yuyun Elizabeth Patras, M.Pd. mengawali orasi ilmiahnya dengan sebuah pertanyaan: mengapa kita membutuhkan jalan baru dalam manajemen pendidikan dasar?
“Eksplorasi dari pertanyaan ini sangat berguna agar kita sebagai pendidik tidak kehilangan arah dan terlalu nyaman dengan keadaan pendidikan dasar sekarang! Jawaban kritis dan solutif perlu kita temukan,” kata Prof. Yuyun Elizabeth Patras dalam Sidang Terbuka Senat Akademik UNPAK 2026 yang digelar di Graha Pakuan Siliwangi, UNPAK Bogor.

Ia menyodorkan jawaban, “Bahwa kita menyadari pendidikan dasar atau sekolah dasar (SD) adalah fondasi life long learning sebagai dasar untuk pendidikan berkelanjutan (eduction for sustainable development). Melalui pendidikan dasar, kita sangat berharap anak-anak memiliki pola pikir bertumbuh (growth mindset), sehat, bahagia. Atau seperti ajaran Pancawaluya, anak-anak kita menjadi anak yang cageur, bageur, bener, pinter dan singer, sehingga mereka dapat menikmati Indonesia emas tahun 2045 nanti.”
Berdasar pengalaman panjang menjadi guru sekolah dasar (di Bandung, Bogor, supervisor sekolah satu atap, kejar mutu dan lain-lain) dan berdasarkan hasil penelitian, kata Prof. Yuyun Elizabeth Patras, arah baru manajemen pendidikan itu harus mempertimbangkan: Pendidikan Multikultural, Pembelajaran Adaptif, Ekosistem pendidikan Inklusif, dan Gamifikasi Bermakna.
Ia menyodorkan sejumlah alasan sebagai berikut:
Pertama: Masyarakat Indonesia sangat beragam (budaya, bahasa, agama, cara pandang, dan mungkin intelektualnya). Jika pembelajaran yang seragam (one-size-fits-all) mendominasi, maka konflik sosial rawan terjadi lagi (“seperti saat rumah dan harta keluarga saya dibakar pada kerusuhan Ternate tahun 1999-2000, sangat berat dan menyedihkan,” ujarnya). Adalah penting keragaman menjadi dasar pengembangan pendidikan melalui pendidikan multikultural.
Kedua: Perkembangan teknologi menuntut personalisasi belajar. Sekarang era AI telah tiba. Sumber informasi dan pengetahuan sangat berlimpah bahkan overload. Jika pembelajaran teacher-centered (guru sebagai pusat) mendominasi, maka partisipasi aktif siswa menyusut, critical thinking menguap, dan bahkan kemandirian belajar lenyap.
Ketiga: Masa depan membutuhkan manusia yang kreatif, kolaboratif, adaptif, mampu silih asih, silih asah, silih asuh dan silih wangi. Pembelajaran kolaboratif dan adaftif ini membutuhkan pendekatan berbeda yaitu melalui ekosistem pendidikan inklusif dan gamifikasi bermakna.
“Atas dasar konteks tersebut, integrasi pendidikan multikultural, ekosistem inklusif, pembelajaran adaptif, dan gamifikasi menjadi pilihan strategis dalam kerangka arah baru manajemen pendidikan dasar. Arah baru tersebut saya yakini akan mampu menjadi sistem dan solusi di sekolah dalam menjawab tuntutan keberagaman, inklusivitas, relevansi digital, dan keberlanjutan pendidikan,” kata Prof. Yuyun Elizabeth Patras.

Lebih jauh, Prof. Yuyun mengupas pendidikan multikultural, ekosistem inklusif, pembelajaran adaptif, dan gamifikasi: Apa kerennya atau urgensinya untuk pendidikan?
- Tema dalam bidang multikultural mendapat hibah penelitian Bima tahun 2023 dan masuk publikasi Sinta 2.
- Tema pendidikan adaftif seperti CRT dan local wisdom mendapat hibah penelitian doktor tahun 2024 dan masuk publikasi Scopus Q1.
- Tema pendidikan inklusif dan ekosistem pendidikan yang nklusif masuk publikasi Scopus Q2.
Bagaimana agar arah baru manajemen pendidikan dasar melalui pendidikan multikultural, ekosistem inklusif, pembelajaran adaptif, dan gamifikasi bermakna bisa diimplementasikan? Prof. Yuyun lalu menyajikan gambar dan arah panah yang menunjukkan 11 langkah, mulai dari fakta adanya keragaman dalam masyarakat sampai dampak dari arah baru manajemen pendidikan yang siap menghadapi era Indonesia emas, era pendidikan 4.0 dan 5.0.

“Berdasarkan pada diagram alir konsep manajemen pendidikan dasar tersebut, baik itu pemerintah, kepala sekolah, guru, orang tua dan masyarakat memiliki tanggung jawab untuk mewujudkan arah baru manajemen pendidikan. Salah satu contoh saja, kepala sekolah harus menciptakan budaya inklusif, antara lain menciptakan kebiasaan dialogis, reflektif dan resolusi konflik, konflik bukan dipelihara tapi diberikan jalan penyelesaiannya,” ujar Prof. Yuyun.
Acara pengukuhan Guru Besar Yuyun Elizabeth Patras dihadiri oleh Ketua dan Anggota Badan Pembina Yayasan Pakuan Siliwangi; Badan Pengawas, Ketua, Sekretaris dan Bendahara Yayasan Pakuan Siliwangi; Rektor, Para Wakil Rektor Universitas Pakuan; Ketua dan Sekretaris Senat Akademik Universitas Pakuan; Para guru besar, Para Dekan, Para Kepala Biro, Para Ketua Lembaga, dan Ketua Program Studi di lingkungan Universitas Pakuan; Ketua LLDIKTI 4;nPejabat Pemerintahan Kota dan Kabupatan Bogor; Para Rektor undangan dan Paguyuban Guru Besar LLDIKTI 4 Jawa barat dan Banten; serta undangan dari dalam dan luar Bogor.







