Macau, Di Antara Kasino dan Jejak Iman

Oleh: Dr. Ir. Wahyu Saidi, MSc, seorang Entrepreneur, Peminat dan Penikmat Kuliner

Milenianews.com – Macau sering disebut sebagai Las Vegas-nya Asia. Sejak 2006, pendapatan industrinya melampaui Las Vegas. Di sinilah satu-satunya wilayah di China yang melegalkan perjudian.

Namun sebelum kasino hadir, wilayah ini adalah titik pertama pendaratan pelaut Portugis sekitar tahun 1550. Para pedagang Portugis yang datang melalui jalur laut diberi izin menggunakan wilayah ini sebagai imbalan atas bantuan mereka memberantas bajak laut di Laut China Selatan. Melalui jaringan dagang dengan Eropa, Macau berkembang menjadi pusat perdagangan sutra dan rempah-rempah.

Seiring pertumbuhan perdagangan dan permukiman, hadir pula misi keagamaan Katolik. Ordo-ordo religius mendirikan Kolese St. Paul pada tahun 1594, yang tercatat sebagai institusi pendidikan bergaya Barat pertama di Asia Timur. Perkembangan agama Katolik yang pesat membuat Tahta Suci Vatikan memberi kewenangan kepada Raja Portugal untuk mengelola aktivitas keagamaan di Macau.

Baca juga: Suzhou: Kota Kanal, Taman, dan Waktu yang Berjalan Pelan

Raja Portugal memanfaatkan kewenangan ini untuk memperkuat pengaruh kolonialnya. Ia bahkan menyebut Macau sebagai Cidade do Nome de Deus, kota dengan nama Tuhan. Kapal-kapal yang membawa misionaris, bahan bangunan, dan dana dikirim untuk membangun gereja-gereja megah. Beberapa di antaranya masih berdiri hingga kini. Dari jejak sejarah yang ada, Macau pada awalnya adalah kota yang sangat religius.

Alun-Alun Portugis yang masih utuh

alun-alun

Kolonialisme Portugis di Macau bertahan lebih dari 400 tahun. Pada 20 Desember 1999, wilayah ini resmi diserahkan kembali kepada China dan menjadi Special Administrative Region dengan prinsip one country, two systems, serupa dengan Hong Kong.

Jejak kolonial itu tidak hilang. Jika berkunjung ke Macau bukan untuk berjudi, maka kawasan gereja dan pusat kota lama menjadi destinasi utama. Gereja-gereja di tengah kota bukan hanya tempat ibadah, tetapi juga ruang refleksi tentang bagaimana Barat dan Timur hidup berdampingan selama berabad-abad. Arsitektur Barok dan Katolik berdiri berdampingan dengan tradisi Kanton dan kuil Buddha.

Saya menapakkan kaki di Senado Square, atau Largo do Senado, alun-alun yang telah ada sejak empat abad lalu. Lantai mosaik bergelombang khas Portugis menyambut langkah. Batu kapur hitam dan putih dipahat manual membentuk pola ombak, membuat saya serasa berada di pesisir Lisbon.

Bangunan di sekelilingnya bergaya neoklasik, peninggalan era kolonial. Dahulu kawasan ini menjadi pusat pemerintahan dan ruang sosial pejabat Portugis. Kini gedung-gedung pastel berwarna hijau, kuning, dan merah muda terawat baik dan dilindungi UNESCO.

Turis memenuhi area ini. Toko es krim dan dendeng khas Macau berdampingan dengan merek internasional. Suasana ramai, tetapi identitas sejarah tetap terasa. Macau tidak hanya tentang kasino.

Kuil Papan Kayu

gereja

Beberapa langkah dari Senado Square, saya berdiri di depan Gereja Santo Dominikus, atau St. Dominic’s Church. Bangunan ini memancarkan kekuatan arsitektur Barok dan neoklasik.

Awalnya gereja ini dibangun dari kayu pada abad ke-16. Penduduk setempat yang belum akrab dengan Katolik menyebutnya sebagai Pan Cheong Miu, Kuil Papan Kayu. Struktur permanennya kemudian dibangun dari batu bata dan batu kapur pada awal 1600-an.

Fasadnya didominasi warna kuning pucat yang lembut, dipadukan detail putih. Tiga bagian vertikal dipisahkan kolom-kolom yang mengecil ke atas. Pintu dan jendela kayu bercat hijau tua tersusun simetris dengan lengkungan klasik yang mempertegas karakter religiusnya.

Pintu utama tampak sederhana namun kokoh. Di atasnya terdapat ornamen khas gereja dan jendela dekoratif. Di satu sisi berdiri menara lonceng yang menjadi fokus visual tambahan.

Gereja ini bukan sekadar objek wisata. Ia menunjukkan bahwa jejak spiritual masa lalu menjadi bagian penting identitas kota hari ini. Dari sini terlihat pertemuan budaya Portugis dan China yang melebur tanpa saling meniadakan.

Reruntuhan Santo Paul

papan penunjuk jalan

Saya menaiki 66 anak tangga batu menuju salah satu ikon utama Macau: Ruins of St. Paul. Struktur granit megah berdiri telanjang tanpa dinding dan atap, bersandar pada langit luas Macau.

Bangunan ini adalah sisa Gereja Mater Dei, yang pada masanya merupakan gereja terbesar di Asia. Dibangun pada awal abad ke-17 oleh misionaris Yesuit, gereja ini hancur akibat kebakaran saat badai besar pada tahun 1835. Yang tersisa hanyalah fasadnya, justru menjadikannya unik dan monumental.

Baca juga: Tembok Besar China: Tentang Ambisi, Ketekunan, dan Warisan Lintas Dinasti

Mendekat dan mengamati detailnya, terlihat perpaduan simbol yang menarik. Malaikat Katolik berdampingan dengan naga China. Ayat-ayat Latin terukir bersama tulisan Mandarin. Ada pula relief pelaut Portugis dengan kapal yang mengarungi samudra.

Tangga batu yang menjulang memberi kesan sakral, seolah menuntun pengunjung menapaki lapisan sejarah. Reruntuhan ini kini menjadi landmark utama kota dan bagian dari Situs Warisan Dunia UNESCO.

Di Macau, saya menemukan ruang refleksi tentang sejarah, perjumpaan budaya, dan bagaimana sebuah kota dapat memiliki lebih dari satu identitas. Di balik gemerlap kasino, tersimpan warisan religius dan arsitektur yang membentuk jiwanya.

Tonton podcast Milenianews yang menghadirkan bintang tamu beragam dari Sobat Milenia dengan cerita yang menghibur, inspiratif serta gaul hanya di youtube MileniaNews.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *