News  

Radio Kini Tak Terlihat, Kisah Tena Bertahan sebagai Penyiar Radio di Era Digital

Penyiar Radio di Era Digital

Milenianews.com, Jakarta – Hari Radio Sedunia telah lewat tiga hari yang lalu. Tagar perayaan telah surut, ucapan selamat telah tenggelam di antara arus informasi yang bergerak cepat. Namun di sebuah studio kecil, tak jauh dari hiruk pikuk kota, lampu “ON AIR” kembali menyala seperti biasa.

Di sana, ada Tena si penyiar yang duduk di kursinya, mengenakan headphone, menyesuaikan posisi mikrofon, lalu menarik napas pelan. Tidak ada perayaan khusus. Tidak ada seremoni. Hanya rutinitas yang sama untuk menjadi suara bagi mereka yang mungkin tidak pernah ia kenal, tetapi selalu ia temani.

Perjalanannya menjadi penyiar radio tidak dimulai dari ambisi besar. Semua berawal dari keisengan seorang mahasiswa yang sekadar mengikuti rasa ingin tahu.

“Gue mulai jadi penyiar saat masih kuliah. Awalnya iseng ikut Radio Dakwah dan Komunikasi (RDK FM) di kampus. Itu murni iseng aja karena gue suka ngobrol, suka musik,” ujar Tena saat diwawancarai pada Senin (16/02). 

Namun dari keisengan itu, ia menemukan sesuatu yang tidak ia temukan di tempat lain, yaitu cara untuk hadir tanpa harus terlihat.

“Suara bisa jadi cara untuk terhubung dengan banyak orang tanpa harus bertemu langsung,” katanya.

Sejak saat itu, radio bukan lagi sekadar aktivitas. Ia menjadi ruang di mana Tena bisa sepenuhnya menjadi dirinya sendiri.

“Radio jadi tempat ternyaman gue untuk jadi diri sendiri. Gue bisa cerita, ngobrol, sharing energi ke pendengar.”

Gugup, Diam, dan Tumbuh Bersama Suara

Siaran pertama tidak selalu indah. Ada ketegangan yang sulit diungkapkan, ada jeda yang terasa terlalu panjang, dan ada keheningan yang membuat waktu seolah berjalan lebih lambat.

“Jujur, gue tegang banget, banyak udara mati,” kenangnya sambil tertawa.

“Tapi tandemannya enak, jadi bisa dibawa enjoy”.

Waktu yang dilaluinya mengajarkan banyak hal tentang berbicara, tentang mendengarkan, dan tentang memahami bahwa di balik frekuensi itu, ada manusia lain yang juga ingin didengar.

Suara itu perlahan menjadi bagian dari identitasnya. Ada pendengar yang mungkin tidak mengetahui wajahnya, tetapi mengenali tawanya. Ada orang-orang yang mungkin tidak pernah ia temui, tetapi merasa dekat dengannya.

Di situlah radio menemukan maknanya.

Tetap Tersenyum, Bahkan Saat Dunia Tidak Ramah

Tidak semua siaran dimulai dari hari yang baik. Ada hari-hari ketika terasa berat, tetapi mikrofon tetap menunggu untuk menyala.

“Ada saat ketika gue lagi bad mood banget, tapi harus tetap on air,” katanya.

Sebelum siaran, ia memberinya waktu untuk pulih, meski hanya lewat hal-hal sederhana.

“Biasanya gue dengerin lagu yang gue suka, nyanyi-nyanyi di jalan. Tapi pas di depan mic, gue tarik napas, dan langsung pakai smiling voice.”

Smiling voice adalah cara untuk memastikan bahwa pendengar tetap merasakan kehangatan, bahkan ketika hatinya sendiri sedang berantakan.

“Gue selalu ingetin diri sendiri, mereka dengerin gue karena mereka butuh ditemenin”.

Dari sana, kita jadi memahami bahwa di balik suara yang terdengar ceria, ada upaya untuk tetap hadir bagi orang lain.

Bertahan di Tengah Dunia yang Berubah

Hari ini, radio tidak lagi berdiri sendiri. Ia hidup ditemani podcast, streaming, dan media sosial yang bergerak cepat. Tena merasakan perubahan itu secara langsung.

“Perubahan terbesar ada di kecepatan si, jadi sekarang semua serba instan. Mendengarkan tapi bisa langsung berkomentar lewat DM atau live chat.”

Namun demikian, radio memiliki sesuatu yang tidak bisa digantikan oleh platform lain. Mikrofon di hadapannya bukan sekedar alat kerja, ia adalah jembatan.

“Radio itu real time karena ada kedekatan yang sulit digantikan. Ada spontanitas, ada interaksi langsung dari mic sebagai jembatan komunikasinya. Dari studio kecil itu, suara gue bisa sampai ke banyak orang,” ucapnya.

Menjadi Teman bagi Mereka yang Pulang

Bagi Tena, siaran bukan hanya tentang berbicara. Ia tahu, di luar sana, ada orang-orang yang pulang dalam diam, membawa lelah yang tidak selalu bisa dijelaskan. Siaran di jam pulang kerja, waktu ketika kota masih ramai, tetapi banyak hati yang merasa sunyi.

“Gue berusaha untuk menjadi teman mereka setelah capek menjalani hidup,” katanya.

Dia mungkin tidak tahu nama pendengarnya. Dia mungkin tidak tahu cerita mereka. Namun ia tahu, kehadirannya berarti sesuatu.

Ketika Hari Radio Sedunia telah berlalu, makna itu justru terasa semakin nyata, bahwa radio bukan sekadar perayaan satu hari, tetapi tentang kehadiran yang terus berulang, hari demi hari.

“Terima kasih telah memilih frekuensi yang sama dengan gue,” ucapnya dengan bangga.

Lampu “ON AIR” akan terus menyala dan padam, seperti biasa. Dunia akan terus berubah. Platform akan terus berganti. Namun selama masih ada seseorang yang menyalakan radio dalam perjalanan pulang, suara itu akan selalu menemukan tempatnya. Karena bagi sebagian orang, radio bukan sekadar suara. Ia adalah teman yang tidak pernah benar-benar pergi.

Tonton podcast Milenianews yang menghadirkan bintang tamu beragam dari Sobat Milenia dengan cerita yang menghibur, inspiratif serta gaul hanya di youtube MileniaNews.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *