Tarhib Ramadhan Sekolah BM 400: Ibadah sebagai Fondasi dan Lompatan Peradaban

Sekolah Bakti Mulya 400 (BM 400) menyambut bulan suci Ramadhan melalui gelaran Tarhib Ramadhan bertema “How Our Worship Defines Our Worldview”, dengan narasumber tausiah, Prof. Dr. Ali Mochtar Ngabalin, M.Si., Jumat, 13 Januari 2026. (Foto: Dok BM 400)

Mileninews.com, Jakarta — Sekolah Bakti Mulya 400 (BM 400) menyambut bulan suci Ramadhan melalui gelaran Tarhib Ramadhan bertema “How Our Worship Defines Our Worldview”, Jumat, 13 Januari 2026, pukul 15.30 WIB, di Auditorium Ki Hadjar Dewantara, Bakti Mulya 400 Lower Secondary.

Acara ini dihadiri oleh seluruh pimpinan, guru, dan karyawan Sekolah BM 400 Jakarta, Cibubur, dan Depok, sebagai bentuk konsolidasi spiritual dan kelembagaan menjelang Ramadhan. Kegiatan tersebut menjadi momentum refleksi bersama di tengah pertumbuhan institusi yang kian signifikan.

Hadir sebagai pembicara utama CEO BM 400, Dr. Sutrisno Muslimin. M.Si., dan narasumber tausiah, Prof. Dr. Ali Mochtar Ngabalin, M.Si. Kegiatan ini juga dirangkaikan dengan Launching Program Summit Ramadhan 2026, menandai keseriusan sekolah dalam mengintegrasikan pembinaan spiritual ke dalam agenda pendidikan tahunan.

Kepercayaan Publik dan Pertumbuhan Institusi

Dalam sambutannya, Dr. Sutrisno Muslimin. M.Si., menegaskan bahwa kemajuan Sekolah Bakti Mulya 400 di Pondok Indah, Lebak Bulus, Cibubur, hingga unit terbaru di Depok merupakan refleksi meningkatnya kepercayaan masyarakat.

“Kepercayaan publik terus tumbuh seiring dengan meningkatnya kualitas pendidikan yang kita laksanakan. Ini adalah amanah,” ujarnya.

CEO BM 400, Dr. Sutrisno Muslimin. M.Si.

Menurutnya, pertumbuhan tersebut bukan sekadar ekspansi geografis, tetapi penguatan mutu akademik, tata kelola, serta pembinaan karakter. Ia mengingatkan bahwa kemajuan lembaga tidak dapat dilepaskan dari dimensi spiritual.

“Ramadhan ini, mari kita tingkatkan amal ibadah kita. Perbanyak memunajatkan doa, karena kemajuan Bakti Mulya 400 tidak lepas dari campur tangan dan ridho Allah SWT,” tuturnya.

Baca Juga : Peringatan  Isra Mi’raj di SD BM 400, K.H. Abdullah Gymnastiar: Inti Hidup adalah Akhlak

Ia juga mendorong seluruh civitas akademika untuk memperbanyak interaksi dengan Al-Qur’an selama bulan suci. Minimal satu kali khatam, menurutnya, menjadi target spiritual yang konkret. “Mereka yang bertekun selama Ramadhan diharapkan menjadi pribadi yang lebih baik—sholeh dan sholehah—yang menjadi uswatun hasanah di tengah masyarakat.”

Makna Tarhib dan Ukuran Pertumbuhan Diri

Dalam sesi hikmah Tarhib Ramadhan, Prof. Dr. Ali Mochtar Ngabalin, M.Si. mengurai makna tarhib dari sisi bahasa dan spiritualitas. Tarhib berasal dari kata Arab tarhīb (تَرْحِيْبٌ) yang berarti penyambutan atau menerima dengan tangan terbuka. Akar katanya, rahaba–yarhabu–rahaban, bermakna melapangkan atau meluaskan—menggambarkan kesiapan jiwa dan raga menyambut bulan suci dengan kegembiraan.

“Ramadhan adalah anugerah yang setiap tahun Allah pertemukan kembali dengan kita,” ujarnya. Waktu berputar, bulan berganti, hingga manusia kembali bertemu Ramadhan. Namun, ia mengingatkan, jangan sampai manusia tetap berada di kualitas yang sama.

Karena hadir setiap tahun, Ramadhan menjadi ukuran pertumbuhan diri. “Jangan biarkan ia berlalu tanpa perubahan. Jadikan Ramadhan sebagai titik lonjakan—lonjakan iman, ilmu, akhlak, dan kualitas diri—agar ketika ia pergi, kita tidak kembali seperti semula, tetapi naik satu derajat lebih tinggi di hadapan Allah dan di tengah masyarakat,” tegasnya.

Ibadah sebagai Worldview

Tema besar “How Our Worship Defines Our Worldview” menjadi benang merah seluruh rangkaian kegiatan. Di lingkungan BM 400, ibadah dipahami bukan sekadar kewajiban individual, melainkan fondasi pembentukan karakter kolektif.

Acara berlangsung terstruktur sejak registrasi pukul 15.45 WIB, dilanjutkan penampilan pembuka Band SMA, pembukaan oleh MC, pembacaan ayat suci Al-Qur’an (Al-Baqarah: 183), serta doa pembuka yang turut mendoakan para pendiri Sekolah BM 400.

Baca Juga : Kick Off 2026 Sekolah BM 400: Meneguhkan Arah, Menyatukan Langkah

Atmosfer auditorium memadukan nuansa khidmat dan optimisme. Simbol-simbol Ramadhan menjadi latar visual yang menguatkan pesan bahwa ibadah bukan hanya ritual personal, melainkan pembentuk cara pandang—worldview—yang akan memengaruhi keputusan, etos kerja, dan orientasi hidup.

Tarhib Ramadhan tahun ini menjadi penanda bahwa pertumbuhan institusi harus berjalan seiring dengan pertumbuhan spiritual warganya. Gedung boleh bertambah, siswa boleh meningkat, tetapi yang lebih penting adalah kualitas manusia yang dilahirkan.

Ramadhan datang setiap tahun. Namun, sebagaimana ditegaskan para pembicara, yang menentukan adalah apakah manusia ikut bertumbuh bersamanya.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *