Close Friends Jadi Ruang Aman Gen Z untuk Curhat, Karena Gak Mau Dihakimi Orang Banyak

instagram close friends

Milenianews.com, Jakarta – Di tengah linimasa yang ramai dan tuntutan untuk selalu terlihat “baik-baik saja”, banyak anak muda justru mencari ruang yang lebih sempit, lebih tenang, dan lebih personal. Mereka tidak selalu pergi ke ruang konseling atau menelepon sahabatnya. Sebaliknya, mereka membuka fitur kecil berwarna hijau di Instagram: Close Friends.

Fitur ini memang terlihat sederhana. Namun bagi Gen Z, lingkaran hijau itu menjelma menjadi ruang aman tempat mereka bisa berbagi tanpa takut dihakimi.

Baca juga: Instagram Punya Fitur Peta Baru, Fitur Baru yang Picu Kekhawatiran Privasi

Dari Panggung Publik ke Ruang Privat

Selama ini, media sosial kerap berfungsi sebagai panggung. Pengguna menyusun feed dengan rapi, memilih foto terbaik, lalu memikirkan caption sebelum mengunggahnya. Mereka mempertimbangkan respons, jumlah penonton, bahkan kemungkinan penilaian orang lain.

Namun tidak semua cerita cocok tampil di depan publik.

Karena itu, banyak Gen Z mulai memanfaatkan Close Friends sebagai batas tegas antara persona publik dan diri yang lebih autentik. Mereka memilih sendiri siapa saja yang boleh masuk ke lingkaran itu. Mereka mengatur siapa yang bisa melihat unggahan mereka sekaligus memilih cerita mana yang ingin mereka bagikan.

Di sana, mereka mengunggah keluhan soal tugas, kebingungan menghadapi skripsi, cerita percintaan yang rumit, hingga pikiran random tengah malam. Tak jarang, mereka hanya menulis satu kalimat sederhana: “Capek banget hari ini”.

Didengar Meski Hanya Lewat Layar

Nia (22), mahasiswa semester akhir di salah satu kampus negeri di Jakarta, hampir setiap hari membagikan cerita di Close Friends. Ia sengaja membatasi daftar itu hanya untuk sekitar 20 orang yang benar-benar ia percaya.

“Kalau di story biasa aku mikir dulu, takut dibilang lebay atau cari perhatian. Tapi di Close Friends, aku lebih lega. Rasanya kayak ngomong ke teman dekat aja,” ujarnya, Jumat (13/2).

Menurut Nia, respons kecil justru terasa paling berarti.

“Kadang aku cuma upload tulisan ‘capek banget hari ini’ terus ada yang balas, ‘kenapa?’ atau ‘semangat ya’. Sederhana, tapi rasanya didengar,” tambahnya.

Ia tidak membutuhkan nasihat panjang atau solusi instan. Ia hanya ingin seseorang berhenti sejenak dan benar-benar memperhatikan. Ketika satu nama muncul di layar dan mengirim pesan singkat, Nia merasa ada yang hadir di tengah lelahnya.

Beberapa kata sederhana itu mampu mematahkan rasa sepi yang sempat ia pendam seharian dan untuk sesaat, ia tahu bahwa ia tidak berjalan sendirian.

Baca juga: Gen Z di Era Digital: Karakteristik, Tantangan Informasi, dan Fondasi Berpikir Kritis

Privasi, Tapi Tetap Butuh Validasi

Fenomena ini menunjukkan dua kebutuhan yang berjalan beriringan. Di satu sisi, Gen Z ingin menjaga privasi. Di sisi lain, mereka tetap ingin didengar.

Alih-alih menutup diri sepenuhnya, mereka memilih berbagi secara terkontrol. Mereka tidak berhenti bercerita, tetapi mereka mempersempit audiensnya. Dengan cara itu, mereka tetap mendapatkan dukungan tanpa harus merasa terpapar.

Lebih jauh, Close Friends memberi pengguna kendali penuh atas siapa yang bisa melihat cerita mereka, memungkinkan mereka menambah atau menghapus orang kapan saja serta berbagi tanpa meninggalkan jejak permanen, sehingga mereka tetap menguasai narasi tentang diri sendiri.

Ruang Aman atau Ruang Strategi?

Meski begitu, tidak semua penggunaan Close Friends murni soal curhat. Di beberapa kasus, fitur ini juga menjadi ruang strategi sosial.

Sebagian orang sengaja memasukkan atau mengeluarkan seseorang untuk menyampaikan pesan tertentu. Ada yang mengunggah sindiran halus. Ada pula yang berharap satu orang tertentu melihat unggahannya.

Namun, pada akhirnya, kepercayaan tetap menjadi pondasi utama. Tanpa rasa percaya, fitur ini kehilangan maknanya. Orang-orang yang berada di dalam lingkaran hijau biasanya merasa memiliki akses khusus dan karena itu, mereka cenderung lebih menjaga sikap.

Saat Gen Z Ingin Didengar, Bukan Dihakimi

Di balik semua itu, Close Friends mencerminkan karakter Gen Z yang khas. Mereka tumbuh di era digital yang serba terbuka. Mereka terbiasa membagikan momen secara online. Namun, mereka juga semakin sadar pentingnya batas.

Karena itu, mereka tidak berhenti berbagi. Mereka hanya mengubah caranya.

Alih-alih tampil sepenuhnya di ruang publik, mereka sengaja membangun ruang privat yang terasa lebih intim dan jujur, sehingga mereka bisa mengekspresikan diri apa adanya tanpa tuntutan untuk selalu terlihat kuat, produktif, atau bahagia.

Baca juga: Pengaruh Media Sosial terhadap Kepercayaan Diri Generasi Z

Pada akhirnya, di tengah dunia yang serba terbuka, justru batasanlah yang menghadirkan rasa aman. Dan bagi banyak Gen Z, lingkaran hijau itu bukan sekadar fitur tambahan. Ia menjadi tempat singgah ketika dunia terasa terlalu ramai.

Tonton podcast Milenianews yang menghadirkan bintang tamu beragam dari Sobat Milenia dengan cerita yang menghibur, inspiratif serta gaul hanya di youtube MileniaNews.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *