Tabu dalam Kehidupan Sosial: Memahami yang Tak Terucap dalam Ilmu Sosial

tabu

Oleh: Safira Qurratu Aini, Mahasiswa Institut Ilmu Al-Qur’an (IIQ) Jakarta 

Mata Akademisi, Milenianews.com – Dalam memahami manusia dan masyarakat, kita kerap berhadapan dengan hal-hal yang sejatinya ada, tetapi seolah tidak diakui dan tidak dibicarakan. Fenomena inilah yang dikenal sebagai tabu. Tabu hadir sebagai peristiwa sosial yang tak terucap, namun nyata dalam kehidupan sehari-hari. Ia lahir dari nilai, budaya, dan konstruksi sosial yang telah mengakar kuat dalam masyarakat.

Tabu bukan sekadar larangan moral atau budaya, melainkan batas tak kasat mata yang membentuk cara manusia berpikir dan bertindak. Keberadaannya dapat membatasi keterbukaan, bahkan menghambat perkembangan pengetahuan dan pemahaman sosial. Oleh karena itu, memahami tabu dalam kajian ilmu sosial menjadi penting agar kita dapat melihat bagaimana individu menyembunyikan pengalaman tertentu, serta dampaknya terhadap kehidupan bersama.

Salah satu contoh yang relevan adalah tabu mengenai kesehatan mental, yang membuat banyak orang takut mengakui bahwa dirinya membutuhkan bantuan. Akibatnya, tidak sedikit individu yang memilih diam meski sedang berada dalam kesulitan.

Baca juga: Pamali dan Tabu: Membaca Kearifan Lokal Lewat Kacamata Psikoanalisis Freud

Tekanan Budaya dan Stigma Kesehatan Mental

Topik kesehatan mental sering dianggap terlalu pribadi, tidak pantas dibicarakan, atau bahkan memalukan. Di sinilah peran ilmu sosial menjadi krusial, yakni untuk mempelajari masyarakat secara lebih utuh dan manusiawi. Dalam perspektif ilmu sosial, tabu bukan semata persoalan individual, melainkan hasil dari tekanan budaya, norma sosial, dan struktur masyarakat.

Tabu kesehatan mental muncul dari anggapan bahwa seseorang harus selalu terlihat kuat dan baik-baik saja. Tidak jarang, masalah mental dipersepsikan sebagai tanda kelemahan, kurang iman, atau kurang bersyukur. Pola pikir semacam ini mendorong individu yang mengalami gangguan mental untuk memilih diam karena takut terhadap stigma dan penilaian sosial.

Filsafat menawarkan sudut pandang yang berbeda. Ia mengajarkan bahwa manusia adalah makhluk yang rapuh dan kompleks. Dalam eksistensialisme, setiap manusia dipahami memiliki pengalaman batin yang tidak selalu dapat diakses dari luar.

Ketika kesehatan mental dijadikan tabu, manusia kehilangan ruang untuk menjadi otentik dan terjebak dalam penggunaan “topeng sosial” demi terlihat baik-baik saja. Di sinilah filsafat mengkritik cara masyarakat menuntut stabilitas semu atas nama normalitas.

Tabu sebagai mekanisme kekuasaan sosial

Dari sudut pandang ilmu sosial, tabu kesehatan mental merupakan hasil konstruksi sosial yang telah mengakar. Banyak keluarga menganggap pembicaraan mengenai kecemasan dan depresi sebagai hal yang memalukan. Sekolah jarang menyediakan ruang aman untuk membicarakan perasaan, sementara dunia kerja menuntut produktivitas tanpa mempertimbangkan kondisi psikologis individu.

Dalam perspektif filsafat kritis, kondisi ini menunjukkan bahwa tabu sering kali berfungsi sebagai mekanisme kekuasaan: menentukan siapa yang harus terlihat kuat dan siapa yang tidak diberi ruang untuk terlihat lemah.

Bayangkan seseorang yang mengalami kecemasan kronis. Ia sulit tidur, sesak napas, dan mengalami kepanikan tanpa sebab yang jelas. Namun setiap hari ia tetap tersenyum dan menjalani rutinitas, karena masyarakat tidak memberi ruang untuk berkata, “Aku tidak baik-baik saja.”

Baca juga: Epistemologi dalam Kehidupan Sehari-hari: Cara Manusia Mengetahui, Menilai, dan Memastikan Kebenaran

Dalam fenomenologi, pengalaman batin semacam ini disebut sebagai realitas tersembunyi—realitas yang hanya dapat dipahami jika manusia didengarkan sebagai subjek dengan pengalaman hidupnya sendiri. Ketika tabu memaksa individu menutup pengalaman tersebut, masyarakat kehilangan kesempatan memahami manusia secara utuh.

Filsafat menekankan empati sebagai nilai utama dalam memahami sesama. Dalam kajian aksiologi, kepedulian dan empati merupakan fondasi nilai kemanusiaan. Tanpa nilai-nilai ini, ilmu sosial berisiko tereduksi menjadi sekadar data tanpa makna.

Pada akhirnya, tabu mengenai kesehatan mental bukan hanya persoalan diam atau berbicara, melainkan tentang cara masyarakat memaknai eksistensi manusia. Ilmu sosial memberikan kerangka untuk memahami dan membongkar tabu, sementara filsafat menawarkan refleksi kritis agar masyarakat bergerak menuju pemahaman yang lebih inklusif, jujur, dan manusiawi.

Tonton podcast Milenianews yang menghadirkan bintang tamu beragam dari Sobat Milenia dengan cerita yang menghibur, inspiratif serta gaul hanya di youtube MileniaNews.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *