Milenianews.com, Bogor— Mengapa Sekolah Bosowa Bina Insani menjadi sekolah favorit di Kota Bogor? “Salah satunya karena Sekolah Bosowa Bina Insani menerapkan Metode Sentra, yakni model kurikulum pendidikan anak usia dini yang dirancang oleh Pamela C. Phelps, Ph.D., seorang pendidik yang telah 40 tahun lebih menekuni bidang pendidikan anak usia dini,” kata Chief Academic Officer (CAO) Sekolah Bosowa Bina Insani, Haposan Andi Citra M.Pd, Senin (2/2/2026).
Haposan Andi menambahkan, saat ini cukup banyak sekolah yang menerapkan Metode Sentra. Namun yang menerapkan Metode Sentra yang sebenarnya masih relative sedikit.
“Salah satunya adalah Sekolah Bosowa Bina Insani, karena ditangani oleh pakar pendidikan yang menguasi Metode Sentra dengan sangat baik, yakni Tjutju Herawati M.Pd. Ia pernah belajar langsung dengan Pamela C. Phelps, Ph.D., di lembaga pendidikan dan penelitian Creative Center for Childhood Research and Training (CCCRT), Tallahassee, Florida, Amerika Serikat,” ujar Haposan Andi.

Keunggulan Metode Sentra
PIC (Penanggung Jawab) Kurikulum Bosowa Scholl – yang antara lain membawahi Sekolah Bosowa Bina Insani — Tjutju Herawati M.Pd. menjelaskan Metode Sentra di SBBI mulai diterapkan tahun 2017 dan pada tahun 2023 SBBI juga mengembangkan Sentra Memasak/ Cooking, selain dari Sentra Bahan Alam, Main Peran Besar, Main Peran Kecil, Balok, Seni, Imtaq, dan Persiapan.
Metode Sentra atau BCCT (Beyond Center and Circle Time) adalah konsep pembelajaran anak usia dini yang resmi diadopsi Departemen Pendidikan Nsional Republik Indonesia sejak tahun 2004. “Sentra bisa diartikan sebagai suatu wadah yang disiapkan guru bagi kegiatan bermain anak. Setiap Sentra memiliki _centre point_dan semua mengacu pada tujuan pembelajaran yang telah direncanakan oleh Tim Guru,” kata Tjutju Herawati.
Ia menambahkan, Metode Sentra diterapkan untuk anak usia dini yaitu di KB-TK dan SD kelas awal (sebagaimana hasil penelitian para ahli bahwa rentang usia dini 0-8 tahun). Sehingga di kelas 1-3 SD pun menggunakan Metode Sentra.
“Keunggulan Metode Sentra dalam hubungannya dengan tumbuh kembang anak adalah penerapan metode sentra ini membangun seluruh domain perkembangan anak, Multiple Intelligences, Seven Essential Life Skills, dan pembentukan karakter anak. Semua itu diterapkan sesuai dengan tahapan perkembangan anak,” ujarnya.

Selain mengacu kepada tujuan yang terpadu di atas, kegiatan-kegiatan Sentra dijalankan dengan tema-tema belajar yang serempak dan berganti dalam periode tertentu (bulanan/ mingguan). Setiap Sentra juga secara terpadu membangun anak dengan memberikan kesempatan kepada setiap anak untuk melakukan tiga jenis main, yaitu : main sensorimotor, main peran, dan main pembangunan. Semua pengalaman main itu akan membangun keaksaraan yang kuat.
“Kunci sukses sekolah dalam menerapkan Metode Sentra, antara lain : kesiapan dalam sumber daya manusia (guru pembelajar), sarana prasarana yang mendukung, ruang gerak anak terpenuhi, rasio sesuai untuk pendidikan anak usia dini (KB 1 : 8 siswa, TK 1 : 10 siswa), media pembelajaran tersedia untuk setiap sentra, Non Direct Teaching, 4 pijakan di Sentra, pemahaman guru tentang Tahapan Perkembangan Anak, serta kolaborasi dengan orang tua,” paparnya.
Tjutju mengungkapkan, hal-hal yang diterapkan oleh SBBI untuk meraih sukses penerapan Sentra dalah memperhatikan rasio guru dengan siswa sesuai usia, melakukan up-grading guru dan PTLP (Parent Teachers Learning Programme) secara berkala, weekly meeting dan monthly review terkait program SBBI, kegiatan Socialization and Onboarding bagi guru dan karyawan,serta kerjasama dengan organisasi dan instansi terkait program SBBI.
“Selain itu, Bimtek dan Desiminasi terkait inovasi kurikulum dan pembelajaran, merawat dan memenuhi kebutuhan media sentra disesuaikan dengan jumlah siswa, memperhatikan saran prasana, menyediakan area bermain anak baik indoor maupun outdoor untuk memenuhi kebutuhan tumbuh kembang anak, mempraktikkan keterampilan dalam non direct teaching dan pijakan-pijakan di sentra, mengadakan kegiatan kolaborasi dengan PABBI (Parents Association Bosowa Bina Insani),” kata Tjutju Herawati.













