Leiden: Kanal, Kincir Angin, dan Jejak Indonesia di Negeri Belanda

Milenianews.com – Saya melangkah keluar dari Stasiun Leiden Centraal. Di plaza stasiun, langkah saya langsung mengarah ke kontainer street food Leiden. Tujuan saya jelas: makan ikan mentah segar—anggap saja sashimi Belanda. Ya, saya sudah memegang Hollandse Nieuwe, ikan herring muda yang disajikan mentah dengan acar dan irisan bawang merah. Ikannya sudah dibersihkan, tulang telah dicabut, disajikan utuh karena ukurannya memang kecil, kira-kira seukuran spidol papan tulis. Di udara dingin Leiden, saya menikmati ikan ini sambil teringat pengalaman makan ikan mentah segar di Pasar Tsukiji.

Kontainer penjual ikan ini bersifat sementara, dalam arti tidak permanen. Namun, jangan bayangkan seperti gerobak di luar Stasiun Dukuh Atas. Di Leiden, gerobaknya terbuat dari logam, bersih dan rapi, dengan bendera Belanda terpasang di atasnya. Penjual berada di dalam kontainer, mengenakan seragam dan topi seperti koki. Ikan nieuwe dan beberapa penganan lain dipajang di dalam etalase kaca, dan pembeli tinggal menunjuk. Jual beli berlangsung cepat dan efisien. Pembelinya para pekerja, penumpang kereta yang baru turun, atau wisatawan seperti saya. Tidak ada tempat duduk; pembeli langsung berjalan sambil makan atau duduk di bangku taman.

Di Plaza Leiden Centraal, tentu bukan hanya ikan herring yang dijual. Ada deretan kontainer lain yang juga bersifat semi permanen. Gerai makanan kontainer ini sudah menjadi bagian dari plaza. Dagangannya beragam, mulai dari makanan ringan seperti hot dog, hamburger, es krim, hingga minuman hangat seperti kopi dan teh. Keberadaannya mengikuti arus pejalan kaki di plaza, tetap menyediakan ruang yang cukup untuk pejalan kaki dan pesepeda. Lalu lintas orang dan pembeli berlangsung tertib—begitulah budaya Belanda yang mengedepankan efisiensi dan kenyamanan bersama.

Baca juga: Tsukiji Bukan Sekadar Pasar Ikan, tapi Pusat Rasa dan Sejarah Tokyo

Tempat belajar tentang Indonesia masa kolonial

tempat belajar tentang indonesia masa kolonial

Kota Leiden terletak di bagian barat Belanda, di antara Den Haag dan Amsterdam. Kota ini memiliki kanal-kanal yang tertata rapi, bangunan bersejarah, dan kincir angin yang masih terawat. Leiden dikenal sebagai kota yang merawat warisan sejarah dan budaya dengan baik, sekaligus sebagai pusat ilmu pengetahuan. Universitas Leiden berdiri pada tahun 1575, menjadikan Leiden pusat perkembangan ilmu pengetahuan, pemikiran humanis, dan hukum sejak abad ke-16.

Leiden memang perlu dikunjungi. Kota ini menempati posisi penting dalam hubungannya dengan Indonesia. Proklamator Indonesia, Bung Hatta, pernah menempuh pendidikan di kota ini. Di sinilah Bung Hatta mengawali pemikirannya tentang ekonomi kerakyatan, hukum kebangsaan, dan gagasan Indonesia lepas dari penjajahan—pemikiran yang kelak memberi sumbangan besar dalam perjuangan kemerdekaan, antara lain tercermin dalam Pasal 33 UUD 1945.

Leiden juga penting karena di sinilah berdiri universitas tertua di Belanda yang turut membina perguruan tinggi di negara jajahan. Karena itu, berbagai arsip tulisan, manuskrip, dan koleksi intelektual Nusantara banyak tersimpan di kota ini. Leiden menjadi rujukan utama dalam studi tentang Belanda dan tanah jajahan. Hingga kini, perpustakaan dan museum tentang Indonesia dan Asia Tenggara memperkaya pemahaman historis tentang Nusantara secara komprehensif dan objektif.

Kanal dan kincir angin

kincir angin

Seperti banyak kota di Belanda, Leiden memiliki kanal-kanal yang menjadi bagian penting dari sejarah dan tata ruang kota. Sejak abad ke-16, kanal dibangun untuk mendukung transportasi air, perdagangan, dan sistem drainase kota. Kanal-kanal di Leiden termasuk yang tertua dan terpadat. Hingga kini, kanal tetap dirawat dan dipertahankan sebagai elemen utama kota tua yang memperkuat identitas Leiden sebagai kota budaya dan sejarah. Di era modern, kanal juga berperan sebagai elemen estetika kota dan destinasi wisata.

Tiga kanal utama di Leiden—Rapenburg, Nieuwe Rijn, dan Oude Rijn—membelah pusat kota dan menunjukkan jejaknya sebagai jalur transportasi utama. Kanal-kanal ini menghubungkan berbagai bangunan bersejarah, seperti kantor pemerintahan masa lalu, museum, dan bangunan perdagangan. Rapenburg merupakan kanal yang paling mencerminkan keanggunan kota abad pertengahan karena melewati kawasan perumahan bangsawan dan institusi akademik yang mencerminkan kemakmuran Leiden pada abad ke-16 dan ke-17. Hampir semuanya masih terawat hingga kini.

Saya pernah mengunjungi Suzhou, kota kanal di Tiongkok dekat Shanghai. Kanal-kanalnya telah ada sejak 2.500 tahun lalu dan lama menjadi tulang punggung kehidupan kota. Di sana, kanal berfungsi sebagai jalur irigasi, transportasi, sekaligus pembentuk pola permukiman yang akrab dengan air. Kanal yang sangat tua itu mengintegrasikan permukiman dengan jembatan batu.

Jakarta pun memiliki kanal yang dibangun oleh kolonial Belanda, meniru sistem kanal Eropa untuk drainase dan transportasi air. Seiring perkembangan kota dan ledakan jumlah penduduk, fungsi estetika dan transportasi air tersingkir. Kanal kemudian lebih difungsikan untuk pengendalian banjir, seperti Banjir Kanal Barat dan Banjir Kanal Timur.

Baca juga: Luxemburg, Brussel, Leuven: Menyusuri Kota-Kota Eropa dalam Ritme Tenang

Ke Belanda rasanya belum lengkap tanpa melihat kincir angin. Kita bahkan menyebut Belanda sebagai negeri kincir angin. Di Leiden terdapat salah satu kincir angin paling bersejarah yang menjadi ikon kota, yaitu Kincir Angin Molen De Valk. Dibangun pada tahun 1743, kincir ini termasuk jenis stellingmolen, kincir angin yang berdiri di atas bangunan tinggi bertingkat agar baling-balingnya dapat menangkap angin dengan lebih baik—penting karena letaknya di kawasan perkotaan.

Molen De Valk berfungsi sebagai penggiling gandum. Selain itu, di Belanda juga dikenal kincir untuk menggergaji kayu, mengolah rempah, serta mengendalikan dan mengelola air. Kincir di Leiden berperan penting dalam memenuhi kebutuhan pangan penduduk kota. Tepung yang dihasilkan diolah menjadi roti dan bahan makanan pokok lainnya. Pada abad ke-18 dan ke-19, kincir ini memegang peran penting dalam pertumbuhan ekonomi kota. Ketergantungan masyarakat Belanda terhadap teknologi tenaga angin sangat tinggi hingga kemudian berkurang seiring berkembangnya mesin uap dan, pada akhirnya, tenaga listrik.

Molen De Valk berhenti beroperasi sebagai penggilingan aktif sejak awal abad ke-20. Setelah sempat terlantar, pemerintah kota mengalihfungsikannya menjadi museum kincir angin dan menetapkannya sebagai cagar budaya. Di museum ini tersaji mekanisme asli penggilingan—roda gigi kayu, poros utama, hingga sistem pemindahan energi dari baling-baling ke batu giling—disajikan secara edukatif dan mudah dipahami.

Yuk, ke Leiden!

Kontributor: Dr. Ir. Wahyu Saidi, MSc, seorang Entrepreneur, Peminat dan Penikmat Kuliner

Tonton podcast Milenianews yang menghadirkan bintang tamu beragam dari Sobat Milenia dengan cerita yang menghibur, inspiratif serta gaul hanya di youtube MileniaNews.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *