Mahasiswa Universitas Humboldt Berlin Gelar  Indonesia Studies Day  

Inilah para mahasiswa Universitas Humboldt Berlin yang berkunjung  ke Indonesia dalam kegiatan Ekskursi SDGs 2025  beberapa waktu lalu. (Foto: Dok  Universitas Humboldt Berlin)

Milenianews.com, Berlin– Pada hari Kamis, 15 Januari 2026, Institut Studi Asia dan Afrika (IAAW, Institut für Asien-  und Afrikawissenschaften) Universitas Berlin,  mengadakan acara Indonesia Studies Day  yang ke-3. Ini adalah acara pertama di Universitas Humboldt Berlin, bahkan kemungkinan besar di universitas-universitas di Jerman lainnya. Karena dalam acara ini, para mahasiswa sendirilah  yang menjadi  pembicaranya.

Pada acara kali ini, untuk pertama kalinya para mahasiswa menjadi pembicara/narasumber utama untuk melaporkan hasil Ekskursi SDGs 2025  mereka ke Indonesia kepada para publikum.

Tari Piriang Badarai menandai pembukaan Indonesia Studies Day  yang digelar di Institut Studi Asia dan Afrika (IAAW, Institut für Asien-  und Afrikawissenschaften Universitas Berlin,   Kamis (15/1/2026).

Menurut Esie Hanstein, Lektor Bahasa Indonesia di Universitas Humboldt Berlin,  — yang menginisiasi kegiatan tersebut — acara akademis di mana para mahasiswa menyampaikan, melaporkan  dan mempertahankan “bukti-bukti” otentik perjalanan ekskursi SDGs mereka ke Indonesia ini, barulah pertama kalinya diadakan dan dilakukan di Universitas Humboldt dan mungkin bahkan di universitas-universitas di Jerman.

“Hal ini menunjukkan dan membuktikan  karakter akademis dari perjalanan ekskursi tersebut, serta manfaat yang sangat besar terhadap para mahasiswa yang mengikutinya,” kata Esie Hanstein dalam rilis yang diterima Milenianews.com, Jumat (16/1/2026).

Katharina dan Fabian menyampaikan pidato perjalanan mereka di Semarang dan Yogyakarta.

Ia menambahkan,  dalam penyampaian pidato mereka tersebut, mereka tidak hanya menyampaikan  serta mempresentasikan permasalahan yang mereka angkat menjadi topik selama mereka di Indonesia,  melainkan juga merefleksikan semua pengalaman ekskursi lapangan mereka secara akademik dan  mempertahanan argumen-argumennya serta berdiskusi dengan para publikum.

Perjalanan Ekskursi SDGs 2025 ini berlangsung selama 2 minggu, yakni dari tanggal 11-25 September 2025. “Selama berada di Indonesia, para mahasiswa berdiskusi antara lain tentang tema Green Campus, pengurangan pemakaian plastik, pendaur-ulangan sampah,  keberlanjutan, pelestarian lingkungan, kesehatan, energi terbarukan, reboisasi dan semua tema yang termuat dalam 17 Program Pembangunan Berkelanjutan yang ingin dicapai oleh PBB sampai dengan tahun 2030,” ungkap  Esie Hanstein..

Ia menambahkan, perjalanan akademis ekskursi SDGs ini dimulai dari Jakarta, Semarang, Yogyakarta dan Pontianak. Selama di Jakarta, para mahasiswa program Bahasa Indonesia Universitas Humboldt Berlin berdiskusi dengan para mahasiswi/wa di UIN Syarif Hidayatullah Jakarta. “Yang sangat membanggakan adalah, bahwa diskusi tersebut disampaikan dengan menggunakan bahasa Indonesia. Hanya jika mereka “benar-benar” tidak menemukan kata-kata  dalam bahasa Indonesia, mereka baru menggunakan bahasa Inggeris,” ujar  Esie Hanstein.

Wakil Dubes RI di Jerman, Fajar Wirawan Harijo;   Atasi Pendidikan dan Kebudayaan, Roniyus Marjunus;  Prof. Claudia Derichs dan Esie Hanstein saat mendengarkan laporan pidato dari Moritz dan Olga.

Tidak hanya diskusi akademik di UIN saja yang mereka lakukan, melainkan juga kunjungan kebudayaan,  serta pengenalan adat-istiadat, tradisi dan cara  menjaga lingkungan.  “Kami juga mengunjungi Taman Makam Pahlawan Kalibata, Badan Bahasa di Depok, Rumah Keramik Widayanto dan bahkan berdiskusi dan bertemu langsung dengan mantan Gubernur Jakarta serta Duta Besar Indonesia untuk Jerman, yakni Bapak Fauzi Bowo. Bersama beliau bahkan pembicaraan hangat dan mengesankan juga menggunakan bahasa Indonesia dan Jerman,” tuturnya.

Selanjutnya perjalanan ke UIN Walisongo Semarang juga ditempuh dengan menggunakan KA demi  menjaga lingkungan. “Sambutan yang begitu hangat juga kami dapatkan di Semarang. Kedatangan kami di stasiun KA di Semarang disambut langsung oleh direktur Pasca Sarjana, Prof. Muhyar Fanani,” kata Esie.

Di UIN Walisongo Semarang, diskusi akademik juga dilanjutkan dengan tema yang sama, yakni SDGs (Pembangunan Berkelanjutan)  dan dengan memakai bahasa Indonesia.

“Kami mengunjungi Kota Lama, Lawang Sewu, museum kereta pertama dan tertua di Indonesia, Sam Poo Kong dan tentu saja mengunjungi makam pahlawan emansipasi Ibu kita Kartini di Rembang. Kami juga mengunjungi candi Borobudur, disambut dan makan bersama dengan GKR Mangkubumi dan GKR Condrokirono di Keraton Yogyakarta. Diskusi kami juga berlanjut di meja makan dan tentu saja masih dengan tema yang sama,” paparnya.

Di UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta, rombongan juga disambut hangat dan berdiskusi dengan para mahasiswa dengan tentu saja menggunakan bahasa Indonesia.

Setelah itu mereka juga ikut bersama-sama dengan ibu dosen mereka, Esie Hanstein yang diminta berpidato di FIB UGM. Di sana mereka juga berinteraksi dengan menggunakan bahasa Indonesia.

Perjalanan mereka selanjutnya adalah ke kota Pontianak.  Mereka diundang oleh Walikota Pontianak untuk hadir dan mengikuti acara “Pesona Tanpa Bayangan” yang terkenal dengan Titik Kulminasinya yang terjadi 2 kali dalam setahun, yakni pada bulan Maret dan September.

Esie Hanstein, Lektor Bahasa Indonesia di Universitas Humboldt Berlin

Lagi-lagi mereka juga diwawancarai oleh wartawan  dengan menggunakan bahasa Indonesia. Serta mereka juga masuk TV Kalimantan Barat. “Kami juga membuat bakti sosial di Panti asuhan Nur Fauzi bersama-sama dengan dokter spesialis mata dan timnya serta para dokter penyakit kulit, dipandu oleh ketua PSC (Proyek Senyum Cemerlang).  Kami mengunjungi perkebunan kelapa sawit dan perkebunan lidah buaya serta berdiskusi dengan arsitek dan pelukis terkenal Pontianak, Paul Budi Yanto,” ujarnya.

Di akhir rilisnya, Esie Hanstein menuturkan,  ini adalah perjalanan ekskursi yang sangat berkesan yang tidak akan bisa mereka lupakan. Keramah-tamahan  masyarakat Indonesia, di mana saja mereka berada, sangat dirasakan oleh  para mahasiswa Bahasa Indonesia Universitas Humboldt Berlin.  Apalagi keberagaman Indonesia, toleransi dan makanannya, membuat mereka ingin kembali lagi ke Indonesia.“Bahkan beberapa di antara mereka masih tetap tinggal lama setelah jadwal ekskursi berakhir,” ungkapnya.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *