Milenianews.com, Jakarta – Perdagangan pasar saham Indonesia kembali diwarnai tekanan jual. Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) harus ditutup melemah 0,57 persen ke level 8.886,07 setelah sempat tertekan cukup dalam sepanjang sesi perdagangan. Meski bergerak berat sejak awal, IHSG menunjukkan upaya bangkit menjelang penutupan, menandakan minat beli di harga bawah masih belum sepenuhnya hilang.
Dalam pernyataan resminya, Bursa Efek Indonesia (BEI) menegaskan bahwa volatilitas yang terjadi merupakan bagian dari dinamika pasar yang wajar. “Pergerakan indeks yang fluktuatif mencerminkan mekanisme pasar yang berjalan normal seiring respons investor terhadap berbagai sentimen,” tulis BEI, Rabu (22/1).
Baca juga: Saham Hapsoro Jadi Magnet Baru: Investor MINA Melejit ke 43 Ribu dalam Satu Bulan
Kondisi pasar yang naik-turun ini dinilai sebagai bentuk tarik-menarik antara tekanan jual dan aksi beli selektif. Analis Jaringan Media Pemuda Indonesia (JAMPI), Yudi Suparta, menyebut volatilitas tinggi saat ini justru menunjukkan pasar masih aktif dan tidak kehilangan likuiditas.
“Tekanan jual memang cukup terasa dan sempat mendorong IHSG turun tajam. Tapi rebound yang muncul di akhir sesi menunjukkan masih ada kepercayaan investor untuk masuk di harga yang sudah terdiskon,” ujar Yudi, Kamis (23/1).
BUMI jadi pusat perhatian di tengah pasar yang goyang
Di tengah kondisi pasar yang penuh dinamika tersebut, saham PT Bumi Resources Tbk (BUMI) menjadi salah satu emiten yang paling mencuri perhatian. Saham sektor energi ini sempat mengalami tekanan jual cukup dalam hingga menyentuh area terendah di level 406. Namun, kondisi tersebut tidak bertahan lama. BUMI berhasil berbalik arah dan ditutup di level 444, meski secara harian masih terkoreksi 3,90 persen dibandingkan penutupan sebelumnya.
Menurut Yudi, pergerakan BUMI mencerminkan karakter saham yang agresif dan sarat volatilitas, namun tetap memiliki daya tarik kuat bagi pelaku pasar, terutama trader jangka pendek.
“BUMI sempat mengalami sell-off ekstrem, tapi yang menarik adalah respons belinya sangat cepat. Ini menandakan adanya minat akumulasi yang agresif di area bawah. Secara psikologis, ini bisa dibilang fase ‘reborn’ setelah tekanan berat,” jelasnya.
Tingginya atensi pasar terhadap saham BUMI juga tercermin dari volume transaksi yang tercatat mencapai 77,59 juta lot dengan nilai transaksi sekitar Rp3,44 triliun. Aktivitas tersebut menunjukkan bahwa BUMI masih menjadi salah satu saham paling ramai diperdagangkan, terutama di tengah kondisi pasar yang volatil.
Pasar tetap likuid meski sedang tidak ramah
Sejalan dengan itu, BEI dalam keterangannya menyebutkan bahwa lonjakan transaksi pada saham tertentu menjadi indikasi pasar masih bergerak aktif. “Tingginya volume transaksi menunjukkan partisipasi investor tetap kuat meskipun pasar berada dalam fase volatilitas tinggi,” tulis BEI, Rabu (22/1).
Baca juga: Darya-Varia Bagikan Dividen Rp100 per Saham, Bukti Komitmen pada Pemegang Saham
Lebih lanjut, Yudi menilai selama harga saham BUMI masih mampu bertahan di atas area support psikologis 400, peluang pergerakan teknikal jangka pendek masih terbuka. Namun, ia mengingatkan pelaku pasar untuk tetap realistis dan disiplin dalam mengelola risiko.
“BUMI memang masih menarik untuk trader agresif, tapi risiko juga besar. Manajemen risiko itu wajib, karena pasar saat ini belum sepenuhnya stabil,” tegasnya.
Secara keseluruhan, JAMPI melihat IHSG masih berada dalam fase konsolidasi dengan volatilitas tinggi. Dalam situasi seperti ini, strategi selektif, kedisiplinan, dan pengelolaan risiko menjadi kunci utama bagi investor dan trader agar tetap bisa bertahan dan memanfaatkan peluang di tengah gejolak pasar.
Tonton podcast Milenianews yang menghadirkan bintang tamu beragam dari Sobat Milenia dengan cerita yang menghibur, inspiratif serta gaul hanya di youtube MileniaNews.













