Dari Kosmologi, Teologi, hingga Teknologi: Mencari Kebenaran di Tengah Perubahan Zaman

kosmologi

Milenianews.com, Mata Akademisi – Manusia lahir ke bumi dengan fitrah rasa penasaran yang luar biasa, bahkan nyaris tanpa batas. Sejak pertama membuka mata terhadap dunia, manusia terus berusaha mencari kebenaran atas berbagai hal yang mengitarinya. Dari rasa ingin tahu itulah lahir pertanyaan-pertanyaan mendasar yang menuntut jawaban.

Pertanyaan seperti “bagaimana alam semesta ini terbentuk?” dan berbagai pertanyaan serupa menjadi awal dari pencarian kebenaran manusia. Dari sinilah perjalanan intelektual manusia dimulai—sebuah perjalanan panjang yang terus berubah seiring perkembangan zaman.

Baca juga: Filsafat Ilmu dan Refleksi Mahasiswa dalam Menemukan Makna Pengetahuan

Akar Pencarian Kebenaran dalam Kosmologi Yunani

Para filsuf Yunani kuno menjadi pelopor awal dalam pencarian kebenaran rasional. Tokoh-tokoh seperti Thales mengawali berkembangnya filsafat dengan bertolak dari rasa penasaran terhadap alam semesta. Mereka berusaha memahami realitas dengan meninggalkan mitos-mitos nenek moyang yang sebelumnya diterima begitu saja.

Pada masa Yunani Kuno, yang dikenal sebagai era kosmologi atau filsafat alam, fokus utama pemikiran adalah asal-usul alam semesta dan hakikat dunia. Akal menjadi satu-satunya alat untuk menilai apakah mitos-mitos tersebut benar atau sekadar cerita turun-temurun. Tidak ada panduan agama atau nilai normatif yang mengikat cara berpikir mereka.

Kondisi Yunani pada masa itu berbeda dengan wilayah lain. Masyarakatnya tidak terikat oleh doktrin agama tertentu, sehingga memiliki kebebasan berpikir yang relatif luas. Sebaliknya, di beberapa wilayah lain, penemuan ilmu pengetahuan justru dibatasi oleh otoritas keagamaan. Para ilmuwan kerap dilarang meneliti, bahkan dihukum atau dipenjara. Pengekangan ini justru memperkuat hasrat manusia untuk mempertanyakan kebenaran.

Islam dan Rekonsiliasi Akal dengan Wahyu

Kehadiran Islam membawa paradigma yang berbeda dari dua kondisi tersebut. Islam tidak mengekang akal, melainkan mendorong manusia untuk menggunakannya secara maksimal. Hal ini tercermin dalam wahyu pertama yang diturunkan kepada Nabi Muhammad SAW, yakni perintah untuk membaca—sebuah simbol dorongan terhadap pencarian ilmu dan pemikiran kritis.

Para pemikir Muslim kemudian melanjutkan warisan filsafat Yunani, bukan untuk menirunya secara mentah, melainkan untuk mengoreksi, menyelaraskan, dan mengembangkannya sesuai dengan nilai-nilai keislaman. Dalam Islam, ilmu tidak berdiri sendiri, tetapi harus berjalan seiring dengan moral dan tujuan hidup manusia sebagai hamba Allah.

Teologi Islam memberikan jawaban yang lebih utuh tentang hakikat manusia, tujuan eksistensinya, serta sumber kebenaran sejati. Akal dan etika disatukan agar pencarian kebenaran tidak kehilangan arah dan tidak terlepas dari tanggung jawab moral.

Tantangan Kebenaran di Era Teknologi Modern

Memasuki era modern, revolusi digital membawa tantangan baru dalam pencarian kebenaran. Teknologi berkembang sangat pesat, bahkan dalam beberapa aspek tampak melampaui kemampuan manusia. Kehadiran kecerdasan buatan (AI) menjadi peluang sekaligus ancaman.

Di satu sisi, AI dapat mempermudah kehidupan manusia jika digunakan secara bijak. Namun di sisi lain, teknologi ini juga mudah disalahgunakan. AI mampu menciptakan gambar dan informasi palsu yang tampak nyata, sehingga berpotensi menjadi alat kebohongan, fitnah, dan manipulasi yang merugikan banyak pihak.

Media sosial semakin memperkeruh keadaan. Informasi hoaks dapat tersebar dengan cepat ke seluruh dunia, melampaui kemampuan manusia untuk memverifikasi kebenaran. Akibatnya, kebenaran sering kali tenggelam oleh arus informasi palsu yang memengaruhi cara berpikir dan mengikis nilai moral. Akal tanpa nilai justru menjadi bencana di tengah banjir informasi digital.

Baca juga: Ilmu Kalam: Fondasi Rasional Dalam Teologi Islam

Kebenaran dan Batas Akal Manusia

Pada akhirnya, sejak era kosmologi Yunani, teologi Islam, hingga zaman teknologi modern, manusia tidak pernah berhenti mencari kebenaran. Namun pada titik tertentu, manusia akan menyadari bahwa tidak semua kebenaran dapat diukur hanya dengan logika dan rasionalitas semata.

Islam menutup perjalanan panjang pencarian ini dengan satu prinsip mendasar: bahwa kebenaran tertinggi hanyalah milik Allah SWT, Sang Pencipta. Seluruh proses pencarian kebenaran yang dilakukan manusia sejatinya adalah jalan untuk mendekatkan diri kepada-Nya.

“Dialah Yang Awal dan Yang Akhir, Yang Zhahir dan Yang Bathin; dan Dia Maha Mengetahui segala sesuatu.”
(QS. Al-Hadid [57]: 3)

Penulis: Kayla Awfa Nuha Wibowo, Mahasiswa Institut Ilmu Al-Qur’an (IIQ) Jakarta

Tonton podcast Milenianews yang menghadirkan bintang tamu beragam dari Sobat Milenia dengan cerita yang menghibur, inspiratif serta gaul hanya di youtube MileniaNews.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *