Milenianews.com, Mata Akademisi – Di era digital yang semakin maju dan kompleks, generasi muda—yang kerap disebut sebagai Generasi Z (Gen Z)—dihadapkan pada limpahan pilihan hidup yang nyaris tak terbatas. Pilihan pendidikan, karier, gaya hidup, hingga standar kebahagiaan disuguhkan secara masif melalui layar digital. Ironisnya, banyaknya pilihan justru melahirkan kecemasan dan ketidakpastian dalam mengambil keputusan.
Dalam dunia psikologi, fenomena ini dikenal dengan istilah FOMO (Fear of Missing Out), yakni rasa takut tertinggal atau kehilangan kesempatan yang dianggap lebih baik. Kekhawatiran ini muncul ketika seseorang merasa bahwa pilihan yang diambilnya akan membuatnya melewatkan pengalaman lain yang tampak lebih menjanjikan.
Media Sosial dan Ilusi Kebahagiaan
Arus informasi digital yang nyaris tak terbatas, ditambah dengan konten-konten singkat yang idealis dan memikat, secara tidak langsung membentuk asumsi di kalangan Gen Z bahwa kebahagiaan dan kesuksesan hanya dapat diraih melalui harta dan pengakuan sosial. Akibatnya, media sosial dikonsumsi secara berlebihan demi terus “terhubung” dan mengikuti pencapaian orang lain.
Kebiasaan membandingkan diri dengan standar semu di dunia maya inilah yang sering kali memicu rasa tidak cukup, cemas, dan kehilangan arah hidup. Berangkat dari kondisi tersebut, penulis menawarkan sudut pandang alternatif: mengubah dampak negatif FOMO menjadi inspirasi positif melalui konsep “Fastabiqul Khairat”—berlomba-lomba dalam kebaikan.
Asal-usul Konsep FOMO
Istilah FOMO pertama kali diperkenalkan oleh Patrick J. McGinnis dalam esainya pada tahun 2004 yang diterbitkan dalam majalah The Harbus milik Harvard Business School. FOMO merujuk pada ketakutan seseorang akan tertinggal dari pengalaman, aktivitas, atau peluang tertentu yang dianggap lebih bernilai.
Istilah ini kemudian semakin populer hingga resmi masuk dalam Oxford English Dictionary pada tahun 2013. Sejak saat itu, FOMO menjadi konsep penting dalam kajian psikologi modern, terutama yang berkaitan dengan kesehatan mental di era digital.
Baca juga: Qirā’at QS. Al-Ahzab: 33 dan Ruang Karir Perempuan dalam Perspektif Matan Syatibi
Mengelola FOMO: Perspektif Psikologi dan Islam
Dalam bukunya, McGinnis menawarkan beberapa strategi untuk mengatasi FOMO, di antaranya dengan merenungkan nilai-nilai pribadi, membatasi pilihan, serta mengambil keputusan dengan keyakinan. Menurutnya, kebahagiaan tidak ditentukan oleh banyaknya pilihan, melainkan oleh kemampuan seseorang dalam berkomitmen terhadap keputusan yang diambil.
Pandangan ini sejalan dengan ajaran Imam Az-Zarnuji dalam kitab Ta’limul Muta’allim, yang menekankan pentingnya konsistensi (istiqamah) dan fokus dalam satu tujuan. Menurutnya, ketekunan dalam satu jalan akan mengantarkan seseorang pada keahlian dan capaian yang diharapkan.
Fastabiqul Khairat sebagai Alternatif Positif
Al-Qur’an sebagai sumber utama ajaran Islam menawarkan konsep Fastabiqul Khairat, yakni berlomba-lomba dalam kebaikan. Konsep ini mengarahkan manusia untuk fokus pada potensi, nikmat, dan kesempatan yang dimilikinya, bukan pada apa yang dimiliki orang lain. Persaingan yang dibangun bukanlah persaingan material, melainkan persaingan moral dan spiritual.
Dalam konteks fenomena FOMO, Fastabiqul Khairat dapat mengubah kecemasan menjadi motivasi positif melalui beberapa cara.
Pertama, mengubah fokus prioritas. FOMO cenderung membuat seseorang terjebak dalam dunia maya yang tidak produktif. Sementara Fastabiqul Khairat mengalihkan fokus pada kualitas amal, peningkatan diri, dan ketakwaan, sehingga membentuk pribadi yang lebih tenang dan bermakna.
Kedua, memanfaatkan waktu secara efektif. Konsep Fastabiqul Khairat mendorong manusia untuk mengisi waktu dengan kebaikan. Dengan demikian, waktu tidak terbuang sia-sia, dan kehidupan dapat dijalani dengan lebih teratur serta terarah.
Ketiga, menumbuhkan rasa syukur. Berbuat baik dan membantu sesama, khususnya mereka yang kurang beruntung, dapat mengurangi rasa cemas dan ketidakpuasan akibat FOMO. Kesadaran akan nikmat yang dimiliki akan tumbuh ketika seseorang melihat realitas penderitaan orang lain.
Islam dan Keseimbangan Hidup
Secara keseluruhan, konsep Fastabiqul Khairat mengubah kompetisi yang didorong oleh kecemasan menjadi kompetisi yang didorong oleh motivasi positif. Persaingan tidak lagi bersifat destruktif, melainkan konstruktif dan bermanfaat, baik bagi diri sendiri maupun masyarakat.
Islam sebagai agama yang indah memberikan landasan ketenangan batin, keseimbangan hidup, serta ketergantungan kepada Allah Swt. Ajaran ini membentuk cara pandang bahwa kebahagiaan sejati tidak diukur dari apa yang dimiliki orang lain, melainkan dari kemampuan mensyukuri dan mengoptimalkan potensi yang ada pada diri sendiri.
Penulis: Nur Aulia Saffanatul Husna, Mahasiswi Institus Ilmu Al-Qur’an Jakarta
Tonton podcast Milenianews yang menghadirkan bintang tamu beragam dari Sobat Milenia dengan cerita yang menghibur, inspiratif serta gaul hanya di youtube MileniaNews.













