Analisis Pengaruh Eksploitasi Lingkungan Berdasartkan Ayat Al-Qur’an Dan Ilmu Alam

Eksploitasi Lingkungan

Milenianews.com, Mata Akademisi – Pada November 2025, wilayah di Sumatra Utara mengalami bencana banjir bandang yang sangat parah. Peristiwa ini bukan hanya membawa kerugian material, tetapi juga menelan lebih dari 941 korban jiwa, dengan puluhan warga yang hingga kini belum ditemukan dan dianggap hilang. Sungai-sungai besar dipenuhi oleh kayu gelondongan hasil erosi hutan yang semakin memperparah kondisi banjir. Selain itu, habitat orangutan yang menjadi salah satu spesies langka dan ikon konservasi di daerah tersebut mengalami kerusakan serius. Kerusakan hutan ini mengancam kelangsungan hidup satwa yang bergantung pada habitat tersebut.

Menurut laporan yang dirilis oleh Walhi, penyebab utama dari bencana ini adalah pembukaan lahan secara besar-besaran yang dilakukan oleh berbagai pihak tanpa memperhatikan kelestarian lingkungan. Penebangan hutan secara massif menyebabkan hilangnya tutupan tanaman yang seharusnya menyerap air hujan. Akibatnya, siklus hidrologi terganggu, di mana air hujan yang seharusnya meresap ke dalam tanah malah mengalir deras ke permukaan sehingga menyebabkan banjir dan tanah longsor. Perubahan kondisi ini bukan hanya menciptakan kerusakan lingkungan, tetapi juga menimbulkan dampak sosial yang mendalam bagi masyarakat sekitar, yang kehilangan tempat tinggal dan sumber mata pencaharian mereka.

Baca juga: Teknologi Halal Sebagai Bentuk Islamisasi Ilmu Pengetahuan di Bidang Teknologi

Fenomena ini menjadi gambaran jelas bagaimana eksploitasi lingkungan oleh manusia yang tidak bertanggung jawab[1] dapat memicu kerusakan parah dan bencana alam. Hal ini menjadi peringatan penting bagi kita semua untuk lebih meningkatkan kesadaran dalam menjaga keseimbangan ekosistem serta mengelola sumber daya alam secara berkelanjutan agar tragedi serupa tidak terulang di masa yang akan datang.

Fenomena banjir bandang Batang Toru menemukan jawaban teologis dalam Al-Qur’an. Allah SWT berfirman dalam QS Ar-Rum ayat 41:

ظَهَرَ ٱلْفَسَادُ فِى ٱلْبَرِّ وَٱلْبَحْرِ بِمَا كَسَبَتْ أَيْدِى ٱلنَّاسِ لِيُذِيقَهُم بَعْضَ ٱلَّذِى عَمِلُوا۟ لَعَلَّهُمْ يَرْجِعُون

Artinya:

Telah tampak kerusakan di darat dan di laut disebabkan karena perbuatan tangan manusia; Allah menghendaki agar mereka merasakan sebagian dari (akibat) perbuatan mereka, agar mereka kembali (ke jalan yang benar).

Lebih tegas lagi, QS Al-A’raf ayat 56 memerintahkan,

 وَلَا تُفْسِدُوْا فِى الْاَرْضِ بَعْدَ اِصْلَاحِهَا وَادْعُوْهُ خَوْفًا وَّطَمَعًاۗ اِنَّ رَحْمَتَ اللّٰهِ قَرِيْبٌ مِّنَ الْمُحْسِنِيْن

Artinya:

Janganlah kamu berbuat kerusakan di bumi setelah diatur dengan baik. Berdoalah kepada-Nya denganrasa takut dan penuh harap. Sesungguhnya rahmat Allah sangat dekat dengan orang-orang yang berbuat baik.

Menurut Tafsir Al-Misbah karya Quraish Shihab,  “fasad fil ard” mencakup segala bentuk kerusakan lingkungan akibat ulah tangan manusia, termasuk penebangan liar dan eksploitasi alam. Ayat-ayat ini bukan hanya peringatan, tapi juga bukti wahyu mendahului kajian ilmu alam modern tentang dampak deforestasi.

Ilmu alam menyajikan bukti konkret mengenai banjir Sumatra 2025 melalui data korban, cuaca, satelit deforestasi, hingga kerusakan lingkungan nasional, semuanya memperkuat analisis ayat Al-Qur’an sebelumnya bahwa eksploitasi hutan memperburuk bencana alam. Banjir dan longsor di akhir November 2025 menewaskan 914 jiwa (Aceh 359 orang, Sumatera Utara 329 orang, Sumatera Barat 226 orang), 389 orang masih hilang, 4.200 orang luka-luka, serta 835 ribu orang mengungsi dari total 3,3 juta warga yang terdampak. Sebanyak 46 ribu rumah rusak berat di Aceh saja, dengan kerugian ekonomi mencapai Rp68 triliun – menjadi bencana paling mematikan sejak tsunami Aceh 2004.

Baca juga: Membaca Ulang Arah Ilmu Modern: Antara Sekularisasi dan Proyek Islamisasi Ilmu

BMKG menyatakan penyebab utama banjir yaitu curah hujan ekstrem 300 mm per hari ditambah Siklon Tropis Senyar (26 November 2025) yang menyebabkan hujan satu bulan turun dalam sehari. Kerusakan hutan hulu menghilangkan fungsi resapan air alami seperti “spons raksasa”, sehingga air tidak terserap tanah melainkan langsung mengalir deras menyebabkan banjir kilat dan erosi hebat.[2] Data satelit LAPAN mencatat 1,4 juta hektar hutan hilang di Aceh, Sumatera Utara, dan Sumatera Barat periode 2016-2024, dengan Daerah Aliran Sungai (DAS) kritis yang tutupan hutannya kurang dari 30%. Penemuan kayu gelondongan liar di sungai menjadi bukti nyata penebangan liar – pola sebab-akibat terlihat jelas: hilangnya hutan menyebabkan sungai kelebihan muatan sehingga memicu banjir bandang.

Ayat 41 dari Surah Ar-Rum dalam Al-Qur’an telah terbukti benar melalui data ilmiah terbaru, di mana 1,4 juta hektar hutan telah hilang, ditambah dengan curah hujan ekstrem mencapai 300 mm per hari yang menyebabkan bencana banjir besar di Sumatra pada tahun 2025, mengakibatkan 174 jiwa meninggal dunia. Kondisi ini membuktikan pentingnya pesan dalam Islam, khususnya yang tegas tercermin dalam QS Al-A’raf ayat 56, yang menyerukan agar manusia tidak merusak bumi. Sebagai langkah konkret dan solusi yang sesuai dengan ajaran Islam, reboisasi massal harus dilakukan secara serius agar hutan dapat kembali berfungsi secara optimal sebagai penyerap air alami, sehingga bencana seperti banjir dapat diminimalisir dan keseimbangan alam tetap terjaga.

Penulis: Akhsanu Nadia, Mahasiswa Institut Ilmu Al-Qur’an Jakarta.

Tonton podcast Milenianews yang menghadirkan bintang tamu beragam dari Sobat Milenia dengan cerita yang menghibur, inspiratif serta gaul hanya di youtube Milenianews.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *