Milenianews.com – Ini ibu kota negara yang berbatasan dengan Nusa Tenggara Timur, bisa dicapai lewat jalan darat dari Kota Atambua, Nusa Tenggara Timur. Saya tidak lewat darat, tetapi lewat udara, mendarat di Bandara Dili yang nama resminya Presidente Nicolau Lobato International Airport. Dili, ibu kota Republik Demokratik Timor Leste, adalah kota yang berada di tepi pantai. Kota pusat pemerintahan dan ekonomi ini menjadi pintu masuk wisatawan yang mau berkunjung ke Timor Leste. Dili luasnya 327 km persegi, kira-kira seperti Semarang, dengan jumlah penduduk lebih sedikit, setara dengan penduduk Cirebon atau Tegal.
Dili berada di pantai utara Pulau Timor, memiliki pemandangan pantai dan laut yang berhubungan dengan Laut Banda. Laut yang bersih, tenang, dan jernih, kaya akan keanekaragaman hayati. Warna laut biru kehijauan, tidak tercemar sampah dan erosi sungai, memungkinkan wisatawan melihat terumbu karang dari permukaan laut. Kota Dili terlindung oleh teluk alami dengan pantai berpasir putih, kontur perbukitan, dan ombak yang tidak besar sehingga aman untuk pelayaran dan wisata bahari. Wisata pantai di Pantai Jesus dan Teluk Tasi Tolu dijadikan tempat berenang, menyelam, dan snorkeling.
Baca juga: Seoul, Si Kota Futuristik yang Tetap Muslim Friendly
Dili memberikan kesan sebagai kota tempat kekayaan budaya dan ketenangan pesisir berpadu. Kota yang berdiri memanjang di tepi pantai dengan latar belakang perbukitan memberi suasana khas. Kawasan pantai Dili telah dilengkapi fasilitas jalan yang baik, area parkir yang memadai, serta beberapa kafe dan restoran yang apik untuk memanjakan pengunjung. Bergeser sedikit, masih dapat bertemu dengan nelayan yang baru kembali dari laut dengan perahu tradisional, keluarga penduduk pinggir pantai yang bermain di pasir, dan pedagang bersepeda menawarkan dagangan—menarik untuk diamati.
Patung Paus di sisi barat

Saya berkunjung ke Monumen Paus Yohanes Paulus II. Ini salah satu tujuan wisata yang memberikan pengalaman religius, khususnya bagi penganut Katolik. Monumen ini masih di kawasan Kota Dili, terletak 7 km dari pusat kota, dari Istana Pemerintah (Government Palace), melewati bandara dengan jalan aspal yang mulus. Terletak di bukit tepi pantai, di kawasan Teluk Tolu, pengunjung parkir di lapangan, kemudian berjalan kaki menaiki tangga batu menuju puncak bukit tempat Patung Paus Yohanes Paulus II berdiri. Perjalanan tidak jauh, sudah terlihat dari bawah, butuh waktu sekitar 10 menit.
Dari puncak, kelelahan berjalan dari bawah terbayar. Selain melihat patung yang punya nilai religi, bisa melihat Teluk Tolu, Laut Banda, dan panorama Kota Dili dari sisi barat. Patung setinggi 6 meter ini dibuat dari beton saat Timor Leste masih menjadi bagian Indonesia, sebagai bentuk penghormatan atas kunjungan Paus ke lokasi ini pada tahun 1989. Patung ini diberi nama Monumen Paus dan Peace Park, dijadikan situs ziarah. Area sekitar bisa menjadi tempat upacara keagamaan dan peringatan hari nasional. Pada hari libur, kawasan ini menjadi kawasan wisata yang ramai, ada penjual makanan khususnya ikan bakar, dan berkunjung sore hari lebih menarik karena suhu lebih sejuk dan bisa melihat matahari terbenam.
Palacio do Governo

Palacio do Governo adalah bangunan paling megah dan punya banyak sejarah di Kota Dili. Terletak di tepi pantai, di tepi Teluk Dili, gedung ini menjadi kantor resmi Perdana Menteri Timor Leste dan simbol pemerintahan. Bangunan ini sudah ada sejak awal, dan dibangun menjadi bangunan besar sekitar tahun 1950-an oleh kolonial Portugis, di lahan sekitar 2 ha, dengan halaman luas dan dua lantai. Bangunan bergaya kolonial Portugis ini dibangun kembali tahun 2000-an karena sempat rusak saat konflik pasca referendum tahun 1999. Arsitekturnya menampilkan fasad putih panjang, jendela bergaya klasik, dan deretan pilar. Lokasinya yang strategis di pusat kota membuatnya mudah diakses dari berbagai wilayah.
Di sekitar gedung ini ada deretan bangunan penting lain seperti Katedral Dili, Museum Resistência, serta taman kecil dan patung Dom Boaventura. Sebagai pusat politik dan pemerintahan, halaman depannya sering digunakan untuk upacara kemerdekaan, peringatan hari nasional, serta penyambutan tamu negara. Selain fungsi itu, gedung ini juga menjadi tujuan utama wisata kota Dili. Hampir semua pengunjung Dili akan melewati gedung ini dan sebagian tentu tertarik untuk berkunjung. Taman, tampak depan, air mancur, dan patung memang menarik untuk dokumentasi, media sosial, dan pemberitahuan “Hei, saya di Dili, Timor Leste.”
Pada masa kolonial Portugis, bangunan ini berfungsi sebagai kantor gubernur dan administrasi pemerintahan kolonial. Tahun 1975, di depan gedung ini, partai politik lokal Fretilin mengumumkan proklamasi kemerdekaan secara sepihak dari Portugis. Usai pendudukan Indonesia dan referendum 1999, bangunan ini digunakan sebagai markas misi Perserikatan Bangsa-Bangsa, dan setelah kemerdekaan penuh tahun 2002, barulah menjadi kantor Perdana Menteri dan pemerintahan sampai sekarang.
TMP Seroja dan Plaza Timor jadi tempat yang perlu dikunjungi

Saya, penduduk Jakarta, punya keinginan kuat untuk berkunjung ke Taman Makam Pahlawan (TMP) Seroja di Dili. Situs memorial penting yang merekam jejak sejarah masa lalu Timor Leste. Lokasinya tidak jauh dari pusat kota; ini adalah jejak dan ruang penghormatan bagi mereka yang gugur dalam peristiwa militer saat masa integrasi dan konflik. Keberadaan TMP ini merupakan catatan sejarah sekaligus titik refleksi bagi pengunjung—lebih khusus kalau dari Jakarta—karena terlibat secara emosi dalam beberapa hal. Jejak pengorbanan, keberanian, dan perjalanan panjang bangsa.
TMP Seroja tampil dengan arsitektur sederhana menggunakan material kokoh, warna-warna natural, beberapa tumbuhan, dan ornamen minimalis. Suasananya pas untuk merenungi makna memorial tanpa gangguan visual berlebih. Barisan nisan tersusun simetris menunjukkan tempat ini terawat dengan baik. Ada area tengah yang lebih tinggi tempat melihat hamparan TMP secara menyeluruh. Terasa memang mencoba memberi sentuhan yang menciptakan suasana khidmat. Memang cocok untuk fungsi utamanya sebagai tempat penghormatan terakhir. Ada monumen utama dilengkapi nama-nama prajurit yang dimakamkan atau gugur—penanda simbolik peristiwa sejarah yang tidak boleh dilupakan.
Sudah ada kelengkapan sebagai kota modern
Tentu ingin tahu area komersial Kota Dili, dan itu berarti perlu ke Timor Plaza. Ini adalah pusat perbelanjaan modern terbesar di Timor Leste. Berlokasi strategis di dekat pusat kota, merupakan simbol perkembangan ekonomi Timor Leste. Secara fisik terdapat beberapa bangunan bertingkat. Kompleks ini menampung banyak tenant sesuai kebutuhan masyarakat kota, dan ada supermarket besar di dalamnya, tempat mencari kebutuhan sehari-hari yang lengkap. Pusat belanja ini menjadi bagian gaya hidup masyarakat sekaligus titik temu berbagai aktivitas jual beli masyarakat yang terus tumbuh. Telah melayani penduduk kota sejak 2011, Timor Plaza menjadi pusat ritel modern terdepan.
Selain lokasi yang strategis, keunggulan utama Plaza Timor adalah fasilitas pendukung yang lengkap. Selain area perbelanjaan, ada pusat jajanan, restoran dengan pilihan kuliner tradisional maupun internasional. Terintegrasi juga hotel berbintang, pusat kebugaran, salon kecantikan, tempat bermain anak, serta bioskop. Tersedia juga area untuk pameran dan acara publik. Sehingga selain tempat berkumpul dan bersosialisasi, sering diadakan kegiatan sosial, pameran, dan promosi bisnis. Sementara pusat komersial lain ukurannya lebih kecil dan berfokus pada kebutuhan dasar, Timor Plaza melayani jauh lebih lengkap.
Masjid An Nur yang dibangun pada tahun 1956

Timor Leste pernah bersatu dengan Indonesia, penduduknya kini mayoritas Katolik. Seperti kalau ke kota besar lain di dunia, saya selalu berminat mengunjungi masjid. Dari sini bisa belajar sejarah, budaya, dan hubungan antarmanusia. Apalagi ini di Dili; ke Masjid An Nur Dili serasa berkunjung ke masjid kota di Pulau Jawa, tapi di luar negeri. Masjid ini, jauh sebelum menjadi bagian Indonesia, sudah berdiri. Tahun 1956, komunitas Muslim setempat yang diketuai Kepala Kampung Alor, Haji Hasan bin Abdullah Balatif, berinisiatif membangunnya. Direstui kepala suku Arab saat itu, Hamud bin Awad Al Katiri. Letaknya di Kampung Alor, Kota Dili, Rua de Campo Alor.
Masjid memiliki kubah dan sebagian atap berwarna hijau, bagian depan fasad utama menggunakan dasar putih dan diberi aksen hijau pada lis dan bingkai jendela. Bangunan utama terdiri dari dua lantai: lantai bawah untuk salat, lantai atas untuk ruang sekolah dan kegiatan pendidikan lain. Ini menunjukkan bahwa masjid tidak hanya berfungsi sebagai tempat ibadah tetapi juga untuk aktivitas sosial dan pendidikan keagamaan. Ada ruang terbuka dan taman kecil di ruang tengah, membantu sirkulasi dan penyejuk udara. Masjid ukurannya cukup besar, bisa menampung sampai 2.500 jamaah. Ada halaman untuk parkir, ruang terbuka, kantin, dan kios dengan beberapa gerobak makanan.
Sebagian publik dan mungkin penduduk Dili menganggap masjid mewakili sisa Indonesia di Dili, padahal tentu tidak benar, karena masjid sudah berdiri jauh sebelum integrasi dengan Indonesia tahun 1974. Karena itu, peran An Nur sebagai pusat kehidupan spiritual dan sosial bagi umat Islam minoritas sangat penting. Secara simbolik keberadaan masjid ini menandai bahwa kehidupan umat Muslim tetap berlangsung normal. Mencerminkan nilai toleransi yang dijunjung tinggi di Timor Leste. Masjid juga berperan dalam hubungan negara dengan negara-negara Muslim; masjid ini turut memperkuat diplomasi budaya dan interaksi lintas komunitas.
Monumen Cristo Rei di Timur
Dili memiliki pantai yang unik dan indah, bersih, teratur, dikelilingi elemen kota dengan alam yang tetap terawat. Menelusuri pantai ke arah timur masih dapat menyaksikan pepohonan kelapa yang berbaris rapi, tumbuh sejajar dengan pedestrian, memberi keteduhan. Pagi hari, cahaya matahari terbit memantul pada permukaan air laut yang jernih, memberi nuansa kemilau keemasan. Terus menelusuri jalan mulus ke arah timur, terlihat patung megah di ketinggian dari kejauhan.
Baca juga: Phnom Penh, Kota yang Hidup dari Cerita di Setiap Sudutnya
Itu Monumen Cristo Rei di timur kota, berlawanan dengan arah Monumen Paus Yohanes Paulus II yang berada di pantai sebelah barat. Ini monumen perpaduan antara keindahan alam dan nilai sejarah. Monumen ini memang ikon religius bagi masyarakat Katolik, tetapi kawasan sekelilingnya terbuka untuk semua umat. Dari sini, bisa menikmati pemandangan wilayah pesisir Kota Dili dari bukit yang merupakan titik tertinggi. Patung Cristo Rei tingginya 27 meter. Ketinggian monumen ini dari permukaan laut mencapai 250 meter.
Monumen ini menjadi penanda sejarah, spiritualitas, serta identitas budaya masyarakat Dili dan Timor Leste. Perjalanan ke monumen ini dimulai dari Pantai Areia Branca, pantai dengan air laut jernih dan tenang. Dari titik pantai ini, wisatawan harus berjalan meniti ratusan anak tangga yang terhubung melalui jalur pedestrian yang rapi dan tertata. Jalur menanjak melewati stasi-stasi jalan salib yang dipasang sebagai elemen edukatif religius. Setelah mendaki, menikmati hembusan angin laut, akan bertemu pandangan yang mengesankan: tampak sebagian Kota Dili dengan panorama luas ke arah Samudera Pasifik, dilengkapi garis pantai yang melengkung indah. Patung yang selesai dibangun pada tahun 1996 ini memang destinasi utama wisatawan yang ke Dili.
Pengalaman memandang laut dan pantai Dili dari ketinggian memang sulit dilupakan.
Kontributor: Dr. Ir. Wahyu Saidi, MSc, seorang Entrepreneur, Peminat dan Penikmat Kuliner
Tonton podcast Milenianews yang menghadirkan bintang tamu beragam dari Sobat Milenia dengan cerita yang menghibur, inspiratif serta gaul hanya di youtube MileniaNews.









