Milenianews.com – Kamboja, Phnom Penh memang masuk list; dikunjungi dua tiga kali tidak membosankan. Maka saya tiba kembali di sini, wajah negeri yang pernah luka dan porak-poranda, serta semangat dan keteguhan untuk bangkit. Kamboja, juga Phnom Penh, terus bergerak maju dan membangun, walau kecepatannya tidak seperti Malaysia ataupun Vietnam.
Tiba di bandara, setelah transit di Kuala Lumpur, terasa negeri ini tidak dikejar-kejar waktu; semua berjalan tidak tergesa-gesa. Sepanjang jalan dari bandara ke pusat kota yang tidak terlalu jauh, tersaji pemandangan permukiman penduduk, deretan ruko, kantor pemerintahan, pusat belanja, juga deretan street food dan kedai kopi kecil di beberapa ruas jalan. Kamboja masih negara berkembang tahap awal.
Ibu kota negara ini punya karakter kota yang menarik; kita bertemu kesederhanaan, ada jejak masa lalu, dan terlihat sudah mulai giat membangun. Mendekati pusat kota, bisa dirasakan dan dilihat bahwa kota lagi bergerak cepat membangun. Masih banyak terlihat warisan budaya dari sejarah panjang dan tradisi lokal; antara lain kita masih sering bertemu para biksu berjubah berjalan pelan beriringan di trotoar.
Baca juga: Ruse Bulgaria, Kota Bersejarah dengan Nuansa Ala Wina
Central Business District (CBD) tampil sebagai pusat pertumbuhan ekonomi yang paling dinamis di Kamboja. CBD kini menjelma menjadi ruang urban modern yang menandai semangat Phnom Penh untuk berdiri sejajar dengan kota besar Asia Tenggara lainnya. Dari matahari mulai menampakkan diri, ritme bisnis telah terasa; arus kendaraan bergerak rapi di jalan-jalan lebar yang dipenuhi gedung perkantoran baru, bank-bank global, hotel berbintang, serta mal berdesain kontemporer.
Berbeda dengan kita di Jakarta, CBD di sini berdampingan dengan permukiman masyarakat kecil. Tidak ada jarak dan perbedaan kelas mencolok; masih ada deretan kios kecil di samping gedung tinggi dengan jualan mi instan, pandai emas, penjahit. Walau modern, kota ini masih menampilkan wajah ramah untuk pendatang dan pejalan kaki; masih nongkrong di kafe lokal atau sekadar santai duduk di halaman gedung tinggi. CBD Phnom Penh ada di sekitar Norodom Boulevard, Monivong, dan sekitar Central Market.
Warisan Kota dan Jejak Spiritualitas Phnom Penh

CBD menjadi unik karena Central Market yang masih seperti dulu; ikon sejarah dengan kubah art-deco yang pernah menjadi kubah pasar terbesar di Asia. Lingkungan Central Market masih mempertahankan bangunan-bangunan masa kolonial dengan perdagangan tradisional. Tanpa batas, lingkungan ini bersebelahan dengan pusat perdagangan dan perkantoran modern. Kontras antara bangunan kolonial, gedung kaca modern, aktivitas manusia yang aktif, dan pergerakan wisatawan. Kehidupan kota yang menarik, harmoni khas Phnom Penh, perpaduan masa lalu, masa kini, dan masa depan; ada optimisme.
Dalam bahasa dan budaya Khmer, istilah phnom memiliki makna sebagai bukit atau gunung kecil yang berkaitan erat dengan kondisi geografis serta sejarah spiritual masyarakat Kamboja. Secara harfiah kata ini berarti bentang alam, tetapi memiliki makna juga sebagai unsur penanda identitas pada lokasi yang memiliki nilai historis, administratif, dan religius.
Phnom Penh adalah ibu kota Kerajaan Khmer, Kamboja. Secara harfiah berarti “Bukit Penh”. Nama ini berkaitan dengan legenda rakyat mengenai seorang wanita bernama Daun Penh yang menemukan patung suci lalu mendirikan tempat pemujaan di sebuah bukit yang kini masih ada dan menjadi simbol lahirnya kota Phnom Penh.
Wat Phnom merujuk pada sebuah kuil Buddha yang terletak di bukit kecil di dalam kota Phnom Penh. Ini salah satu lokasi bersejarah yang menjadi tujuan wisata budaya yang populer di ibu kota. Terletak di sebuah bukit tak terlalu tinggi—hanya 27 meter—kuil ini menjadi titik elevasi alami yang seolah terpisah dan memberikan suasana berbeda dari suasana perkotaan. Di bukit inilah legenda rakyat mengatakan tempat pemujaan diletakkan.
Secara arsitektural, Wat Phnom adalah bangunan kuil Buddha yang sangat Khmer. Ada stupa, ruang pemujaan, ornamen keagamaan yang merujuk pada nilai estetika tradisional Khmer. Lingkungan sekitarnya tertata dalam bentuk taman dan jalan setapak sehingga pengunjung bisa mengelilingi kuil dalam suasana tenang dan teduh walaupun berada di pusat kota. Wat Phnom menjadi oasis kegiatan religius yang ideal untuk refleksi diri dan wisata ringan.
Central Market, Semua Bisa Dimulai dari Sini

Dari jauh, Central Market atau dalam bahasa lokal Phsar Thmey bisa langsung dikenali melalui kubah besarnya yang berwarna krem sebagai pusat struktur gedung. Fasad arsitektur art-deco yang kuat tampak pada garis-garis geometris, ventilasi yang memanjang, serta empat sayap pasar yang menjorok keluar dari kubah utama. Sirkulasi dan aliran udara yang baik membuat ruang utama pasar yang besar terasa teduh meskipun di daerah tropis. Central Market adalah bangunan kolonial yang dipertahankan dan dirawat sebagai jejak masa lalu untuk masa depan.
Central Market adalah ikon paling menonjol di Phnom Penh sejak 1930. Pemerintah kolonial Prancis menjadikan bangunan ini tidak hanya sebagai pusat bisnis dan komersial, tetapi juga sebagai simbol kota yang unggul pada masa itu. (Ingat Jakarta masih punya Pasar Gambir lama dan Pasar Meester sebagai bandingannya.) Di dalam pasar kita bisa merasakan aura Khmer asli; suasana hidup, denyut perdagangan berjalan aktif, dan berbeda dengan perdagangan eceran di kita—masyarakatnya relatif diam, tak berisik.
Bagi wisatawan, area perhiasan dan batu permata di bagian depan tampaknya paling menarik. Bagi saya, menelusuri lorong gedung dan mengamati sentra kuliner memberi sensasi tersendiri. Pasar sentral ini masih menjadi pusat aktivitas tradisional, landmark, dan identitas kota yang memadukan estetika, sejarah, dan dinamika kehidupan urban.
Perlu—sangat perlu—lihat kuliner pagi di Central Market. Pasar pagi adalah tempat yang tepat untuk melihat budaya kuliner satu kota dan satu bangsa. Saya yang menginap tidak jauh berjalan santai ke Central Market; kubah pasar terlihat berkilau karena tertimpa cahaya matahari pagi. Segar pagi Kamboja mengantarkan saya masuk ke pasar.
Seorang ibu penjual di pangkal lorong dengan gerobak sederhana menarik perhatian; dia sedang memanggang daging lalu menatanya di piring di atas nasi panas, ditambah acar timun dan lobak. Itulah bai sach chrouk, menu sarapan umum di sini—mungkin sama dengan nasi goreng atau nasi soto kalau di Jakarta. Disajikan semangkuk kecil kuah sup bening dengan wangi bawang daun. Saya mengamati dan mengambil foto; tentu tidak ikut mencicipi karena makanan populer ini memakai daging babi. Melihat proses menyiapkan dan melihat pembeli menikmati, itu pengalaman kulineran yang asyik.
Pasar sudah hidup; lalu-lalang manusia sudah ramai, jual beli telah berlangsung, pasar sudah aktif. Seperti di Vietnam, ada roti “warisan penjajah Prancis”: di Hanoi disebut banh mi, di sini disebut num pang—keduanya sama. Roti renyah diisi sayuran segar ditambah daging atau telur. Tentu ada jajanan no pork no lard yang tampaknya aman untuk muslim: ketan dengan mangga, buah segar, dan jajanan pasar yang manis, misalnya ketan pisang dibungkus daun; mengingatkan lemper dan nagasari digabung.
Tentu saya duduk dan singgah di gerobak penjual minuman yang ramai, menikmati es kopi Khmer yang tajam. Mereka memang ngopi pakai es; kopi tubruk kental dengan susu kental Kamboja.
Sisowath Quay, Riverside Rasa Khmer

Ada koridor utama di tepi Sungai Tonle Sap kota Phnom Penh, di titik pertemuan dengan Sungai Mekong. Lokasi di tepi sungai ini disebut Sisowath Quay. Lokasi sepanjang 3 kilometer ini menjadi koridor perkotaan yang menghubungkan berbagai titik penting kota.
Saya datang sore hari; kawasan ini menyuguhkan riverside yang lapang, dengan deretan bangunan kolonial di sisi seberang jalan, angin sore yang teduh, dan jajanan tradisional pakai pikulan yang Instagramable. Sisowath Quay punya pedestrian yang lebar dengan kios-kios oleh-oleh, tempat ngopi yang mungil, keluarga yang bersantai, dan ekspatriat yang berolahraga lari sore. Pengalaman berjalan di tepi sungai yang menyenangkan.
Dari sini, di bawah sorot mentari sore, Wat Phnom terlihat menjulang di kejauhan; di sisi berlawanan ada Royal Palace, istana raja yang tampil anggun dengan pagar yang megah. Begitu hari mulai gelap, lampu-lampu tepi sungai menyala; kapal kecil hingga kapal cruise mulai mengundang tamu untuk datang—ada yang bergerak perlahan di permukaan Mekong. Ada tour Sungai Mekong untuk turis, sekadar berkeliling atau satu paket makan malam; pakai kapal kayu tradisional atau kapal besar yang memang didesain untuk tur makan malam berikut musik. Ada juga tur ke hulu dengan menginap di kapal.
Sisowath Quay memang riverside yang disiapkan untuk melayani turis yang ke Phnom Penh, menghabiskan waktu sore sampai malam hari. Tepian Mekong ini menjadi ruang publik yang menawarkan servis dan penampakan modern sekaligus menampilkan sejarah—jejak kota masa lalu. Sebagai orang Jakarta memberi kesan mendalam: ramah dan tidak tergesa-gesa. Aliran sungai menunjukkan catatan sejarah yang telah berlangsung berabad-abad.
Kalajengking Goreng, Tampaknya Asyik

Malam di kota ini, dari catatan, saya memutuskan ke night market. Dari Central Market, pasar malam ini tidak jauh; jalan kaki sekitar sepuluh menit ke arah riverside. Saya pilih naik tuk-tuk, bentornya Phnom Penh. Cukup sebut “night market”, bayar, dan sampai.
Baca juga: Yangon, Kota yang Hidup di Antara Masa Lalu dan Doa yang Menggema
Pasar yang ramai dan padat—sama dengan pasar malam di Bogor—ini aromanya Khmer. Di ruang terbuka bagian depan didominasi deretan penjual pakaian, sepatu, serta pernak-perniknya. Kalau mencari kaos bertuliskan “Cambodia” atau tas rajut bertema Angkor Wat, di sinilah tempatnya. Jangan lupa tawar-menawar; bukan setengah harga, cukup potongan 10–20 persen, dan kita berhadapan dengan pedagang yang selalu ramah.
Area kuliner ada di bagian tengah: besar dan ramai. Ada kursi-meja rendah dan banyak yang duduk di alas lembaran plastik—night market rasa piknik. Udara Sungai Mekong membawa angin sejuk ditimpali kerlip lampu di seberang dan di kapal wisata yang sedang berlabuh. Terlihat penjual ayam goreng, sate daging ayam, dan aneka seafood yang dipanggang. Ada juga buah potong, jus buah tropis, air tebu, dan yang juga populer di sini: mango sticky rice—ketan mangga yang sedap dan segar itu.
Kalau mau seru-seruan, di pasar ini ada beberapa penjual serangga goreng krispi: ada jangkrik, belalang, kecoak hutan, larva sutera, dan kalajengking kecil—dijamin krenyes.
Kontributor: Dr. Ir. Wahyu Saidi, MSc, seorang Entrepreneur, Peminat dan Penikmat Kuliner
Tonton podcast Milenianews yang menghadirkan bintang tamu beragam dari Sobat Milenia dengan cerita yang menghibur, inspiratif serta gaul hanya di youtube MileniaNews.













