Milenianews.com, Jakarta – Nilai Tukar Petani (NTP) pada Mei 2020 mengalami penurunan sebesar 0,85 persen dari NTP bulan April 2020. Penurunan ini diakibatkan karena turunnya harga komoditas.
Kepala Badan Pusat Statistik (BPS) Suhariyanto mengatakan, dengan NTP di bawah 100, akan melemahkan nilai tukar produk tani.
Baca Juga : Lahan Pertanian Tergusur Industri, Mahasiswa Demo ke DPRD
“Dengan NTP di bawah 100 ini berarti nilai tukar produk pertanian melemah dibandingkan indeks yang harus dibayar, dan ini terjadi umumnya karena adanya penurunan harga komoditas,” katanya dikutip Antara, Selasa (2/26).
NTP tanaman perkebunan rakyat mengalami penurunan 2,30 persen karena turunnya harga karet dan minyak sawit mentah (Crude Palm Oil).
Nilai Tukar Tani di subsektor Peternakan dan Perikanan mengalami kenaikan
Selain itu, penurunan tersebut, juga disebabkan oleh turunnya indeks harga hasil produksi pertanian lebih besar dibandingkan penurunan indeks harga barang dan jasa yang dikonsumsi oleh rumah tangga maupun untuk operasional produksi tani.
“Penurunan NTP Mei 2020 dipengaruhi oleh turunnya NTP di tiga subsektor pertanian, yaitu NTP Subsektor Tanaman Pangan sebesar 0,54 persen, Subsektor Hortikultura sebesar 0,58 persen, dan Subsektor Tanaman Perkebunan Rakyat sebesar 2,30 persen,” terangnya.
Baca Juga : Harga Garam Rakyat Anjlok, Petani Garam Merugi
Sementara, pada subsektor lainnya, mengalami kenaikan, dari subsektor Peternakan sebesar 0,27 persen dan subsektor Perikanan sebesar 0,41 persen.
NTP merupakan salah satu indikator untuk melihat tingkat kemampuan atau daya beli petani di perdesaan. NTP juga menunjukkan daya tukar (terms of trade) dari produk pertanian dengan barang dan jasa yang dikonsumsi maupun untuk biaya produksi. (Ikok)













