Milenianews.com, Jakarta-Pertanyaan ini sering muncul dalam diskusi tentang dinamika hubungan asmara. Beberapa pengalaman menunjukkan bahwa pria dapat mengalami perubahan perasaan yang drastis, dari sangat mencintai menjadi tidak memiliki perasaan sama sekali. Namun, apakah fenomena ini didukung oleh penelitian atau hanya sekadar persepsi?
Perbedaan fase cinta antara pria dan wanita
Menurut artikel di Hipwee, pria cenderung mengalami fase cinta yang berbeda dengan wanita. Jika wanita biasanya membangun perasaan dari nol hingga penuh secara bertahap, pria justru bisa mengalami lonjakan perasaan yang cepat dan, dalam beberapa kasus, penurunan yang tiba-tiba. Hal ini menunjukkan bahwa pria dapat mengalami perubahan perasaan yang signifikan dalam waktu singkat.
Baca juga: Jangan Salah, Inilah Sikap Perempuan yang Bisa Bikin Lelaki Terpana
Faktor yang dapat mempengaruhi
Beberapa faktor dapat mempengaruhi perubahan perasaan pria dalam hubungan, antara lain:
1. Kecerdasan Emosional
Studi oleh Universitas Udayana menunjukkan bahwa pria dengan kecerdasan emosional tinggi cenderung memiliki penyesuaian pernikahan yang lebih baik. Sebaliknya, rendahnya kecerdasan emosional dapat menyebabkan ketidakmampuan dalam mengelola konflik dan emosi, yang berpotensi mengarah pada penurunan perasaan cinta.
2. Komunikasi dan Intimasi
Penelitian tentang hubungan jarak jauh menunjukkan bahwa kurangnya kedekatan fisik dan komunikasi yang efektif dapat mengurangi tingkat intimasi dalam hubungan, yang pada akhirnya dapat mempengaruhi perasaan cinta.
Meskipun tidak semua pria mengalami penurunan perasaan dari 100% ke 0%, beberapa studi dan observasi menunjukkan bahwa perubahan drastis dalam perasaan cinta pria memang bisa terjadi, terutama jika dipengaruhi oleh faktor-faktor seperti kecerdasan emosional, komunikasi, dan intimasi dalam hubungan.
Baca juga: Adikara Rilis Album Perdana “Klise” yang Gambarkan Perjalanan Cinta
Oleh karena itu, penting bagi pasangan untuk memahami dinamika ini dan berusaha menjaga kualitas hubungan melalui komunikasi yang baik dan pengelolaan emosi yang sehat.













